Percepat Pembangunan Pertanian Sleman, Pemkab Masifkan Pertumbuhan Petani Milenial

  • Bagikan
Pengurus Forum Petani Milenial Sleman periode 2022-2024 setelah pengukuhan di Gedung Serbaguna

Mediatani – Pemerintah Kabupaten Sleman, DIY terus melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pembangunan sektor pertanian di wilayah setempat. Salah satunya melalui program petani milenial yang dicanangkan beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono mengutarakan program petani milenial adalah salah satu upaya menggerakkan anak-anak muda yang ada di Sleman untuk terjun di sektor pertanian.

Program tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian yang mendorong agar petani milenial di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang.

“Akhir-akhir ini pertanian didominasi oleh pelaku usaha yang usianya relatif tua, tidak muda lagi. Makanya program Kabupaten Sleman ini sejalan dengan program dari Kementerian Pertanian, jadi ide awalnya seperti itu,” kata Suparmono dilansir dari Republika, Jumat (25/11/2022).

Program petani milenial ini juga dibentuk dibarengi dengan inovasi dan teknologi baru agar usaha yang dijalankan menjadi lebih efisien.

Karena itu, dalam pengembangan petani milenial di Sleman ini, ada beberapa langkah strategis yang dilakukan, yakni pengembangan pemasaran melalui digital marketing, peningkatan kemitraan, pengembangan sistem budidaya pertanian modern, serta pengembangan inovasi pertanian.

Lebih lanjut Suparmono menjelaskan, untuk memasifkan penumbuhan petani milenial ini, pihaknya membentuk jaringan petani milenial di setiap UPTD BP4, yang merupakan unit kerja dinas pertanian di kapanewon atau kecamatan.

Di wilayah Sleman terdapat delapan UPTD BP4 yang melingkupi wilayah kerja 17 kapanewon atau 17 kecamatan. Dengan begitu, setiap UPTD membawahi 2 hingga 3 kapanewon.

Nantinya, petani milenial ini akan dilembagakan menjadi Kelompok Ekonomi Pertanian. Semua petani milenial dan pengurus kelompok juga sudah dikukuhkan langsung oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo.

Selain itu, kelembagaan petani milenial di Kabupaten Sleman juga memiliki pengurus harian. Secara berjenjang sudah dibentuk jaringan-jaringan yang bergerak di tingkat kecamatan sampai ke tingkat kabupaten.

Menurutnya, penumbuhan pengembangan petani milenial ini tidak bisa dilakukan seperti kelompok petani yang memiliki satu basis wilayah untuk setiap kelompok.

‚ÄúTapi kalau milenial nggak bisa karena tidak semua wilayah mempunyai petani milenial dalam jumlah yang banyak,” terangnya.

Dengan demikian, setiap kelurahan atau dusun mungkin akan terdapat 2-3 petani milenial, sehingga kemudian dibentuk jaringan. Jaringan-jaringan ini dimanfaatkan untuk berkomunikasi, baik itu komunikasi bisnis, komunikasi usaha, maupun komunikasi segala macam hal untuk mereka bertukar dan bahkan untuk jual beli.

Dia mengungkapkan di Sleman saat ini terdapat 750 petani milenial. Jumlah tersebut diklaim sebagai jumlah terbanyak yang ada di wilayah DIY bahkan mungkin nasional. Pada 2024, jumlah petani milenial di Sleman ditargetkan mencapai 2.500 orang.

“Jadi tumbuhnya milenial di Sleman ini masif sekali. Sebagian besar mereka bergerak di hortikultura, tapi di semua komoditas ada. Namun yang paling banyak memang hortikultura,” jelasnya.

Sedangkan di bidang peternakan, Suparmono melihat petani muda lebih tertarik untuk menekuni usaha ternak kecil seperti kambing dan domba. Mereka kurang meminati ternak sapi, diduga karena membutuhkan modal besar dan perputaran uangnya lambat.

Melihat kondisi tersebut, ada beberapa jenis komoditas yang banyak diminati oleh milenial dipetakan kemudian dilakukan pembinaan-pembinaan. Ia menegaskan pihaknya telah memberikan pembinaan untuk masing-masing komoditas, juga pembinaan bisnisnya terutama bisnis melalui online.

Sumber daya atau anggaran yang digunakan untuk pembinaan ini tidak hanya berasal dari kabupaten, tapi juga berasal dari DIY bahkan dari pusat.

“Jadi pendampingan dari pusat juga terus menerus dilakukan untuk penumbuhan petani milenial ini,” ungkapnya.

  • Bagikan