Peringati 100 Hari Aksi Demo Tolak UU Pertanian, Petani India Blokade Jalan

  • Bagikan
Sumber foto: sindonews.com

Mediatani – Memasuki hari ke seratus, para petani yang melakukan aksi di India kemudian kembali berkumpul. Mereka berkumpul kembali dengan alasan yang sama, yaitu menentang Undang-undang (UU) pertanian karena dianggap merugikan mereka dengan membuka sektor pertanian untuk pemain swasta.

Kali ini, para petani India memblokade enam jalur jalan tol di pinggiran Ibu Kota India, New Delhi. Baik orang tua maupun pemuda, mereka menaiki mobil, truk, dan traktor menuju jalan raya untuk memblokade jalan selama lima jam.

Dilansir dari Kompas.com bahwa Aksi yang berlangsung pada Sabtu (06/03/2021) ini memperingati genap seratus harinya aksi yang dilakukan oleh para petani di India. Mereka menolak UU pertanian yang diberlakukan pada September 2020 dengan melakukan aksi untuk menekan Narendra Modi selaku pemerintah Perdana Menteri India.

Sementara itu, Modi menilai bahwa Undang-undang pertanian tersebut merupakan reformasi yang sangat dibutuhkan oleh sektor pertanian yang luas dan kuno di “Negeri Anak Benua”. Seperti dilansir Reuters, Modi malah beranggapan bahwa aksi protes yang dilakukan para petani justru memiliki motif politik yang terselubung.

“Pemerintah Modi sudah mengganti gerakan aksi protes ini menjadi masalah ego. Mereka tidak dapat melihat penderitaan para petani, mereka juga tidak memberi kesempatan kepada kami selain protes,” kata Amarjeet Singh, seorang petani yang berusia 68 tahun dari negara bagian Punjab.

Di beberapa negara bagian di India wilayah utara, Puluhan ribu petani memilih untuk berkemah di pinggiran New Delhi meski diterjang cuaca dingin sejak Desember 2020. Sebenarnya, Perwakilan petani sudah bertemu dengan pemerintah dan beberapa kali melakukan diskusi.

Namun, tidak ditemukan adanya kata sepakat. Sehingga, para petani memilih untuk berkeras tetap tinggal di sana hingga Undang-undang tersebut dicabut. Gerakan aksi para petani ini sudah mendapat perhatian dan juga dukungan internasional, termasuk dari salah satu tokoh terkenal seperti aktivis iklim Greta Thunberg serta penyanyi AS Rihanna.

Pemerintah India lalu mengambil tindakan dengan mengecam para pendukung aksi protes. Tetapi di lain sisi, justru Pemerintah India dituduh oleh sejumlah aktivis hak asasi manusia menggunakan taktik tangan besi dalam upaya mengekang protes.

Sementara aksi protes yang dilakukan oleh para petani India, sebagian besarnya berlangsung damai. Tetapi sebaliknya, sejumlah kekerasan singkat terjadi di tanggal 26 Januari yang berujung kematian salah seorang demonstran. Tuntutan pidana juga telah diajukan oleh pihak Polisi terhadap delapan jurnalis atas dugaan kesalahan pelaporan pada peristiwa hari itu.

Merespon hal tersebut, Human Rights Watch melalui sebuah tanggapannya menyampaikan bahwa Respon dari pihak yang berwenang di India terhadap protes telah difokuskan pada upaya melemahkan pengunjuk rasa yang dinilai melakukan aksi damai, melecehkan pengkritik pemerintah, dan menuntut mereka yang mewartakan peristiwa tersebut.

Saat ini, ibu kota India New Delhi tengah bersiap untuk menyambut musim panas yang keras sekaligus juga akan dimulainya musim panen. Tetapi para petani masih bersikeras tidak akan pulang hingga permintaan mereka semua dipenuhi.

Raja Singh, salah satu petani berusia 58 tahun yang berasal dari negara bagian Punjab menyampaikan aspirasinya. Raja Singh menyampaikan bahwa meskipun cuaca dingin menghantui, hal tersebut tidak bisa mempengaruhi perjuangannya bersama para petani lainnya. Hingga terik panas yang mematikan pun tidak akan menggoyahkan semangatnya dalam menuntut Undang-undang pertanian di India tidak diberlakukan.

Perjuangan masih terus berlanjut, para petani masih memiliki harapan untuk menyampaikan aspirasinya dan mengubah agar tuntutan tersebut bisa direspon positif oleh Pemerintah India.

  • Bagikan