Petani Jeruk Panen Saat Pandemi, Semanis Apa?

Mheela Nisty - Mediatani.co
  • Bagikan
Ilustrasi: Petani panen jeruk setelah menunggu lama

Konsumen belum percaya bahwa kualitas jeruk keprok Batu 55 adalah salah satu jeruk yang paling berkualitas di nusantara, hal itu karena “image” yang sudah terbentuk bahwa seakan-akan buah impor adalah yang terbaik.

Jeruk Keprok Batu 55 mempunyai kualitas penampilan dan cita rasa minimal sama dan bahkan lebih enak dibanding kualitas buah jeruk impor. Jika berhasil dikembangkan secara serius berdampak pada peningkatan produksi dan pendapatan serta dapat mensubstitusi buah jeruk impor dan  pada akhirnya dapat mensejahterakan petani jeruk Indonesia.

Adalah petani jeruk di kawasan Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang bersyukur, lantaran di tengah pandemi Covid-19 saat ini, mereka masih merasakan manisnya panen jeruk jenis Batu 55 yang ditanamnya sekitar 3 -4 tahun lalu.

Salah satu petani jeruk, Badrus (43) , mengatakan, petani jeruk jenis Batu 55 mulai merasakan panen setelah menunggunya sejak tahun 2016 silam.

“Jeruk jenis Batu 55 ini, kami menamnya sekitar 3 – 4 tahun. Dan hasil panennya cukup menggembirakan dan bisa dijual,” terang dia, saat ditemui Kamis (2/7/2020).

Puluhan kwintal jeruk dengan rasa segar dan manis itu sudah laris di pasaran. Bahkan, saking larisnya, para petani tak perlu jauh-jauh ke kota untuk berjualan hasil kebunnya, melainkan pembeli sendiri yang datang dengan membawa harga sendiri.

Baca Juga :   Kolaborasi Menko Maritim & Mentan Garap Food Estate di Humbang Hasundutan

Jeruk jenis ini memiliki masa produktif selama 25 tahun. Saat musim panas, jeruk dengan bentuk besar agak lonjong, berbuah lebat. Jeruk yang juga dikenal ‘Keprok Punten’ ini, masa panennya bervariasi bisa seminggu dua kali. Hal ini juga tergantung buahnya. Tiap pohon jeruk ini, mampu bertahan di daerah tropis sedang.

Untuk harga, para petani mematok Rp 6 ribu per kilogram untuk pedagang. Sedangkan harga untuk pengecer, petani mematok Rp 7 ribu per kilogramnya. Kebanyakan, para pembeli adalah penjual buah di pasar tradisional maupun modern di Malang, Surabaya, Probolinggo dan sekitarnya.

Jenis Batu 55 mampu tumbuh di daerah cukup dingin di lereng Gunung Bromo. Bahkan jenis itu, disebut-sebut bisa tumbuh dengan baik dengan sistem tumpang sari dengan pohon durian yang banyak tumbuh di kawasan Desa Ngembal. Namun, juga dengan tetap memperhatikan jarak tanam dan pupuknya.

Badrus menambahkan, sebanyak 7 kelompok tani jeruk di desanya saat ini terus tingkatkan produksi, dibantu dari Balai Penelitian Pengembangan Tanaman Jeruk dan Buah Tropis (Balit Destro) Kementerian Pertanian. Ia berharap bantuan ini, mampu mendongkrak produksi jeruk di desanya.

Baca Juga :   Lebih dari Setengah Ton Sampah Terkumpul di Pusat Pemerintahan Kabupaten Malinau

Salah satu Penyuluh Pertanian Kabupaten Pasuruan, Suyitno mengatakan, di wilayah Desa Ngembal itu, jeruk jenis Batu 55 sudah ditanam di area seluas 13 hektar. “Hasil dari buah yang dihasilkan cukup bagus meski harus ada tambahan-tambahan pupuk agar buahnya lebih bagus,” ucapnya.

Sementara itu, musim panen jeruk keprok ini dimanfaatkan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pasuruan, Lulis Irsyad Yusuf untuk mempromosikan salah satu andalan buah yang baru di Kabupaten Pasuruan. Menurutnya, jeruk adalah salah satu buah favorit di tengah pandemic Covid-19. Vitamin yang ada dalam buah berwarna hijau dan kuning ini sangat berkhasiat untuk menjaga imun (daya tahan) tubuh.

Meski baru dikenal jeruk asal Ngembal ini, lantaran selama ini belum dibudidayakan secara maksimal, namun saat ini masyarakat mulai banyak yang tahu.

Adapun anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, yang intens dengan masalah pertanian dan lingkungan, Sugiarto, berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan, gairahkan potensi sumberdaya alam ini. “Sehingga bisa dijadikan ikon Jeruk Ngembal yang punya nama tersendiri,” harap Sugiarto.

  • Bagikan