Potensi Ekspor Jagung Indonesia Besar Asal Mampu Kendalikan Mikotoksin

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
Ilustrasi Jagung/IST

Mediatani – Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan Indonesia memiliki potensi untuk mengekspor jagung maupun ternak.

Hal ini, jelas dia, dapat dilakukan jika Indonesia mampu mengendalikan mikotoksin pada komoditas tersebut.

“Pengendalian mikotoksin pada jagung sangat sulit, tidak mudah, tetapi kalau tidak dikendalikan akibatnya buruk sekali, baik pada tanaman, hewan dan manusia sebagai pengguna akhir,” ujarnya di Jakarta, Jumat (2/4) melansir dari situs republika.co.id, Sabtu (3/4/2021).

Pengendalian mikotoksin pada jagung itu, lanjut dia, harus dilakukan mulai dari proses budidaya atau penanaman, saat panen serta pascapanen sehingga distribusi dengan menerapkan praktek budidaya yang baik (GAP) dan praktek pengolahan yang baik (GMP).

Menurut dia, negara Amerika Serikat saat ini merupakan negara yang berhasil menanggulangi kandungan mikotoksin yang berbahaya pada jagung sehingga negara tersebut menjadi produsen serta eksportir jagung terbesar di dunia.

“Semoga Indonesia bisa mengendalikan mikotoktsin pada jagung, karena hal itu sangat strategis untuk pengembangan poultry dan ternak dalam negeri. Ada potensi untuk ekspor ternak dan jagung kalau bisa kendalikan mikotoksin,” kata dia.

Sementara itu pakar nutrisi pakan Prof Dr Ir Budi Tangendjaja mengungkapkan bahwa mikotoksin, di antaranya berupa aflatoksin merupakan senyawa sekunder pada jagung yang dihasilkan jamur dan beracun bagi ternak.

Baca Juga :   92 Ekor Sapi yang Diamankan TNI AL di Bima Dipulangkan Kembali ke Flores

Jagung paling tinggi kandungan aflatoksin, lanjutnya, risiko kalau ada mikotoksin, aflatoksin terhadap semua jenis ternak yakni akan merusak hati, kekebalan tubuh ternak turun hingga merusak organ lain.

Risiko tersebut pula dapat menimpa manusia sebagai pemanfaat akhir. “Ini harus diperhatikan agar mikotoksin bisa dikendalikan karena akan ke ayam, ternak dan manusia sebagai pengguna. Kalau jamur bisa dicegah mikotoksin bisa dicegah,” katanya pada Webinar bertema Pentingnya Pengedalian Mikotoksin Pada Jagung Pakan yang digelar Tabloid Agrina.

Budi mennuturkan, mikotoksin, bisa tumbuh di lapangan saat jagung ditanam tercemar jamur, saat panen jamur berhenti namun saat disimpan di gudang bisa tumbuh lagi jamurnya. Sehingga kandungan, mikotoksin akan tinggi lagi.

Upaya pengendalian mikotoksin, sebut dia, harus menyeluruh mulai dari proses penanaman yakni menggunakan bibit yang tahan jamur serta perawatan lahan dengan menjaga kebersihannya, terutama dari munculnya jamur.

Sementara itu, pada saat proses pemanenan pengeringan harus secepatnya dilakukan, setelah dipipil dalam tiga hari harus kering karena rata-rata jamur akan tumbuh dalam waktu tiga hari setelah disimpan.

Jika sangat diperlukan, tambahnya, bisa memanfaatkan bahan kimia penghambat jamur. “Kadar air pada jagung di Indonesia 16-18 persen beresiko menghasilkan mikotoksin, ini harus dikendalikan,” ujarnya.

Baca Juga :   Pemkab Gunung Kidul Vaksinasi Antraks 4.951 Ekor Ternak

Budi menambahkan, untuk membantu petani mengendalikan mikotoksin pada jagung maka pemerintah bisa menyalurkan benih bermutu yang tahan jamur serta mengembangkan mesin-mesin pengering bagi petani.

Selain itu juga pemerintah perlu merevisi standar kualitas jagung di Indonesia yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) karena hanya menetapkan satu standar berbeda dengan AS yang mencantumkan lima jenis.

30 Ton Jagung Rendah Aflatoxin Produksi Kelompok Tani Maju Lampung Tembus Pasar Industri

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan mediatani.co, berhubungan dengan jagung rendah aflatoxin, tercatat ada sebanyak 30 ton Jagung Rendah Aflatoxin (JRA) dari Kelompok Tani Maju Desa Margacatur Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan berhasil dikirim ke PT. Tereos FKS Indonesia, pada Selasa (2/3/2021), lalu.

Pengiriman ini merupakan pengiriman pertama dari rencana pengiriman sebanyak 150 ton. Tereos FKS Indonesia merupakan salah satu anggota Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI).

Sebelumnya pada akhir tahun 2020 ini, P3JI sudah melakukan penandatangan nota kesepahaman bersama pengembangan JRA di Indonesia Bersama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

Sebagaimana diketahui, Jagung Rendah Aflatoxin (JRA) merupakan jagung yang digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk pangan yang aman di konsumsi manusia. Baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

  • Bagikan