Mediatani – Upaya pelestarian ekosistem laut sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir terus digencarkan di Pulau Barrang Caddi. Pada Selasa (7/7/2026), tim dari Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia melakukan pemasangan (penurunan) atraktor cumi-cumi di area coral garden (kebun karang) di pulau tersebut.
Langkah pelestarian ini tidak lagi hanya sebatas representasi penanganan isu lingkungan laut. Pemasangan atraktor cumi ini merupakan wujud nyata penerapan konsep nature-based solution (solusi berbasis alam), di mana kelestarian ekosistem laut dikelola sedemikian rupa agar bisa menjadi solusi langsung bagi peningkatan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat di pulau-pulau kecil.
Pelaksana dari Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia, Rahmat Januar Noor, menyampaikan bahwa potensi sumber daya masyarakat pesisir sejatinya sangat besar dan membutuhkan pendampingan teknologi.
“Kondisi ekonomi masyarakat di pulau-pulau kecil perlu senantiasa diperhatikan, mereka sebenarnya kaya, jadi kami coba bersama-sama terapkan teknologi-teknologi konservasi yang dapat membantu pengelolaan kekayaan sumber daya laut yang dimiliki,” ujar Rahmat.
Menariknya, program ini lahir dari proses evaluasi dan inovasi di lapangan. Perwakilan dari Institut Teknologi dan Bisnis Maritim (ITBM) Balik Diwa, Fathuddin, menjelaskan bahwa pemasangan atraktor cumi ini merupakan hasil pembelajaran dari pengelolaan coral garden sebelumnya.
“Atraktor cumi kedua yang dipasang merupakan hasil inovasi dan pembelajaran dari pengelolaan coral garden di mana media pembibitan karang model vertikal yang dipasang ternyata dijadikan tempat menyimpan telur oleh cumi-cumi dan sotong,” ungkap Fathuddin.
Sebagai informasi, kegiatan konservasi ini terselenggara berkat kerja sama antara Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) — sebuah organisasi nirlaba independen yang rutin mendukung kegiatan konservasi.
Pengurus Kitaji Pinisi Indonesia, Muh. Imran Lapong menuturkan, antusiasme dan dukungan terhadap penguatan coral garden di Pulau Barrang Caddi semakin mengalir usai digelarnya kegiatan diseminasi pada bulan Juni lalu.
“Alhamdulillah untuk kegiatan atraktor cumi-cumi yang kedua ini, kami bersama kelompok lokal Lestari Penyu Pulau Barrang Caddi, POKMASWAS Pulau Barrang Caddi, dan rekan-rekan mahasiswa dari ITBM Balik Diwa, Universitas Sulawesi Barat, dan Universitas Muslim Indonesia,” kata Imran.
Inisiatif kolaborasi ini pun disambut antusias oleh masyarakat setempat. Rafli, perwakilan dari Kelompok Lestari Penyu Pulau Barrang Caddi, mengapresiasi langkah konkret tersebut karena dampaknya yang langsung menyentuh mata pencaharian nelayan.
“Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi penurunan atraktor cumi. Selain tempat bertelur cumi-cumi, juga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi nelayan cumi. Semoga kegiatan seperti ini bisa dilakukan lebih masif,” tutur Rafli.
Kolaborasi multi-pihak (multi-stakeholder) diakui sebagai kunci utama kesuksesan dalam menjaga ekosistem terumbu karang. Karakteristik ruang laut yang terbuka membutuhkan kesamaan persepsi agar kegiatan konservasi dapat menciptakan multiplier effect (efek ganda) bagi lingkungan dan manusia.
Ke depannya, coral garden di Pulau Barrang Caddi ini diharapkan dapat menjadi proyek percontohan (best practice) yang ideal dalam pengelolaan kawasan konservasi skala mikro, di mana kelestarian ekosistem laut berjalan selaras dengan kemajuan ekonomi masyarakat.







