Produk Hewani Penyumbang Gas Metana Pada Pemanasan Global

  • Bagikan
Produk Hewani Penyumbang Gas Metana Pada Pemanasan Global
Produk Hewani Penyumbang Gas Metana Pada Pemanasan Global

Mediatani – Perubahan iklim yang dirilis Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) memicu perdebatan sengit di organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

PBB meyakini bahwa jika tidak ada pengurangan skala besar terhadap emisi gas rumah kaca, pembatasan pemanasan global yang mendekati 1,5 derajat celcius atau bahkan 2 derajat celcius tidak mungkin diwujudkan.

Terkait hal ini, sekor pertanian dan kesehatan diprediksi akan berdampak jika pemanasan global mencapai 2 derajat celcius.

Dikutip dilaman beritasatu.com, Ketua Kelompok Kerja IPCC Panmao Zhai mengatakan, perubahan iklim telah berdampak di setiap wilayah di permukaan Bumi. Semua terjadi dengan alami dan terus mengalami peningkatan akibat adanya pemanasan global.

Rilis IPCC tersebut memuat beberapa poin peringatan, mulai dari musim panas yang lebih panjang, musim dingin yang lebih pendek, hingga gelombang panas yang meningkat diperkirakan akan terjadi.

Sebagian daerah akan mengalami curah hujan tinggi yang nantinya akan menyebabkan banjir, sedangkan daerah lain akan mengalami kekeringan yang parah.

Selain itu, ekosistem laut akan terancam oleh adanya kombinasi antara lautan yang memanas, permukaan laut akan terus meningkat, terjadi pengasaman, dan penurunan kadar oksigen.

Menurut Project Manager 21 Hari Vegan dari Sinergia Animal, akibat perubahan perubahan iklim ini kemungkinan besar akan mengarah pada intensifikasi bencana di tahun ini.

Baca Juga :   Rencana Perkebunan Kelapa Sawit di Malang Selatan, Profauna: Pemkab Jangan Tergesa-Gesa

“Termasuk juga banjir di yang menewaskan 33 orang di Tiongkok, banjir di Jerman dan Belgia yang menewaskan 209 orang, gelombang panas yang menewaskan 815 orang di Kanada dan kekeringan terparah kedua dalam sejarah California,” ungkap Annabela, Kamis (26/8/2021).

Sinergia Animal adalah Lembaga Suadaya Masyarakat (LSM) internasional yang bekerja untuk mempromosikan pilihan makanan yang lebih ramah lingkungan dalam membantu memerangi perubahan iklim di Amerika Latin dan Asia Tenggara.

IPCC menyarankan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, sehingga dibutuhkan langkah yang kuat dalam mengurangi perubahan iklim tersebut.

Para peneliti memperkirakan bahwa produksi makanan menyumbang lebih dari seperempat emisi gas rumah kaca dunia, yaitu peternakan dan perikanan yang bertanggung jawab atas 31% dari total ini.

“Untuk mengurangi dampak dan mempersempit jejak karbon ini, tindakan drastis harus diambil, termasuk dalam tingkat individu. Salah satunya dengan mengurangi atau menghilangkan konsumsi produk hewani, yang sejauh ini merupakan bahan pokok paling berpolusi yang kita konsumsi,” tambah Annabela.

Upaya untuk mengurangi emisi gas metana dengan menurunkan jumlah produksi dan konsumsi produk hewani ini dinilai sangat penting dilakukan.

Pasalnya, gas metana saat ini adalah salah satu perhatian utama dalam analisis laporan IPCC, akibat pesatnya peningkatan kadar emisi yang sebagian besar didorong oleh bahan bakar fosil dan sektor industri peternakan.

Baca Juga :   Kisah Sukses Reza, Warga Negara Indonesia yang Beternak Sapi Perah di Selandia Baru

Selain itu, metana dalam jangka panjang memiliki dampak 25 kali lipat lebih parah, daripada CO2 di atmosfer.

Dalam sektor peternakan, CO2 sebagian besar dikeluarkan karena adanya perubahan penggunaan lahan misalnya, penggundulan hutan untuk area penggembalaan atau pertanian kedelai untuk pakan ternak, sementara metana sebagian besar dikeluarkan dari pencernaan hewan-hewan yang diternakkan.

Setiap kilogram daging sapi yang dihasilkan menghasilkan 60 kg emisi gas rumah kaca (GRK),untuk membuat 1 kg keju, 21 kg GRK dilepaskan.

Angka tersebut, 20 dan 7 kali lebih banyak daripada memproduksi tahu sebagai sumber protein dalam jumlah yang masing-masing sama. Sementara produksi 1 kg susu mewakili 2,8 kg emisi GRK, dimana produksi susu kedelai hanya mengeluarkan 1 kg.

Sinergia Animal mengajak masyarakat untuk mencoba kebiasaan baru dan yang lebih berkelanjutan, seperti mengubah pola makan, untuk membantu menghentikan krisis iklim.

LSM tersebut menawarkan tantangan pola makan nabati, di mana partisipan yang mengikuti tantangan tersebut akan menerima email setiap hari dengan berbagai tips, resep, dan juga dukungan nutrisi selama 21 hari.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani