Home / Berita / Nasional

Rabu, 15 November 2017 - 17:11 WIB

Regenarasi Petani Kini

Mediatani.co — Bukan hal yang mustahil bila di masa yang mendatang profesi petani adalah salah satu profesi yang akan jarang kita temui. Jika dikonfrimasi dengan yang ada di lapangan, memang benar bahwa rerata petani yang masih aktif bercocok tanam rata-rata berusia 50 tahun.

Hal ini juga yang diungkapkan oleh walikota Sukabumi Mohamad Muraz.

 

“Regenerasi harus dipacu terus karena rata-rata petani berusia 50 tahun,” ujar Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz kepada wartawan di sela-sela peluncuran lahan pertanian pangan berkelanjutan di Kelurahan Jayamekar, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi Selasa (14/11). Sementara petani yang berusia muda atau remaja sudah sangat jarang ditemui di lapangan.

Muraz menganggap, regenerasi penting karena petani yang rata-rata berusia 50 tahun ini apakah masih kuat untuk bercocok tanam dalam jangka waktu 20 hingga 30 tahun mendatang. Namun, tantangannya ke depan adalah profesi petani dinilai sebagai pekerjaan yang kurang diminati.

Baca Juga :   Kembangkan Komoditas Unggulan, Pertamina Tingkatkan Kapasitas Petani Kopi Bener Meriah

Generasi muda sekarang, kata Muraz, lebih memilih bekerja di industri dan bidang lainnya. Padahal dia menilai pekerjaan ini sangat mulia dan merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Petani memproduksi hasil pertanian sebagai bahanan makanan yang tidak bisa diganti dengan yang lain.

Oleh karenanya, pemkot berupaya menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Dia mengatakan di luar negeri, banyak petani berusia muda meraih kesuksesan dengan bercocok tanam menggunakan sistem modern.

Baca Juga :   Uji Coba Pola Korporasi Tanaman Pangan Berjalan Efektif

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi Kardina Karsoedi menambahkan, jumlah petani di Kota Sukabumi mencapai sebanyak 4.340 orang. Data ini didasarkan pada pendataan pada Juli 2017 lalu.

Kardina menuturkan, lembaganya berupaya memberikan pelatihan secara gratis kepada generasi muda yang ingin belajar pertanian. ”Pelatihan yang diberikan bisa menanam sayuran hidroponik maupun konvensional,” kata dia.

Untuk merangsang daya tarik anak ke pertanian ungkap Kardina, DKP3 juga mengajak guru pendidikan anak usia dini (PAUD), SD, dan SMP agar membawa pelajar berkunjung ke Kawasan Agroeduwisata Cikundul (KAC) Kecamatan Lembursitu. Di tempat itu, para pelajar dikenalkan kembali apa itu areal persawahan, cara menanam hingga mengenal hewan ternak.

Share :

Baca Juga

Nasional

SPF dan Bank Mayapada Ajak Pelajar SMP Jobi Melestarikan Penyu

Nasional

HMI Cabang Bogor Selenggarakan Pelatihan Budidaya Tanaman Hortikultura

Berita

Paus Jenis Brydei Terdampar Lagi, Kali Ini di Pantai Batu Bali

Nasional

Waduk Jatigede Digenangi, Petani Padajaya Kehilangan Kerja

Berita

Cendikiawan NU Dukung Antivirus Kementan

Nasional

Kehidupan Petani Tak Berbanding Lurus dengan Pertumbuhan Sektor Pertanian

Nasional

Demi Bahagiakan Istri, Petani Ini Cari “Janda Bolong” Sampai Tersesat 3 Hari di Hutan

Nasional

Jaga Ketersedian Pangan, Kementan Optimasi Lahan Rawa di Kalimantan Selatan