Satu Orang Satu Sapi dengan Penerapan Inovasi Teknologi Peternakan di Kabupaten Buol

  • Bagikan
Bupati Buol Amirudin Rauf saat meninjau model pengembangan sapi di mini ranch milik Balai Embrio Ternak (BET) Kementerian Pertanian di Cipelang, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Antara/Humas Setda Pemkab Buol)
Bupati Buol Amirudin Rauf saat meninjau model pengembangan sapi di mini ranch milik Balai Embrio Ternak (BET) Kementerian Pertanian di Cipelang, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Antara/Humas Setda Pemkab Buol)

Mediatani – Pemerintah Kabupaten Buol saat ini tengah menggalakkan program one man one cow (satu orang satu sapi). Program ini merupakan salah satu program unggulan yang telah berjalan sejak 2018 lalu.

Program satu orang satu sapi ini dinilai tepat untuk mengembangkan sektor peternakan di Kabupaten Buol. Program ini dilaksanakan berbasis kelompok dengan tujuan mempercepat pembangunan dan peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat di Kabupaten Buol.

Untuk meningkatkan pengelolaan peternakan tersebut, Pemkab Buol melakukan berbagai studi banding. Salah satu studi banding itu dilakukan di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Bupati Buol, dr. Amirudin Rauf, Sp.OG mengatakan, studi banding ini dilakukan dalam upaya meningkatkan pengelolaan peternakan khususnya peternakan sapi di Kabupaten Buol. Ia berharap nantinya kabupaten ini akan menjadi sentra pengembangan ternak sapi unggulan di Sulawesi Tengah.

“Bapak Gubernur telah menyetujui, bahwa Kabupaten Buol untuk menjadi sentra pengembangan peternakan sapi unggulan. Sehingga nantinya untuk menjawab kebutuhan daging di masa depan,“ kata dr. Amirudin Rauf dilansir dari Radar Sulteng, Senin (25/10).

Baca Juga :   Sulteng Penuhi Daging Sapi Sendiri, Andalkan Peternak Sapi Lokal 

Sebelumnya, program one man one cow ini menuai kritik dari berbagai pihak. Meski demikian, program ini masih dapat berjalan dengan baik, walaupun hasilnya masih belum memuaskan.

Menurutnya, hal yang paling subtansial adalah paradigma berpikir masyarakat untuk mengembangbiakkan sapi dengan cara yang modern atau melek teknologi. Untuk itu, pemerintah setempat terus berupaya menyediakan infrastruktur dan fasilitas demi menopang pengembangan peternakan sapi di daerahnya.

“Hadirnya mini ranch akan mengubah kesenjangan paradigma pengetahuan masyarakat. Sebab mini ranch akan menjadi sekolah lapangan dan menjadi laboratorium ilmu beternak berkompeten di bidang peternakan,” sebutnya.

Amirudin menjelaskan, program peternakan sapi di mini ranch sudah berjalan dengan baik. Mulai dari pengadaan, perawatan, hingga penjagaan terhadap ternak sapi ini sudah berjalan dengan baik dan dikerjakan secara profesional.

Baca Juga :   PT Pupuk Kujang Pastikan Stok Pupuk di Sebagian Wilayah Jawa Aman

Selain itu, program penggemukan sapi, inseminasi buatan (IB) perkawinan silang, juga telah berhasil sesuai yang diharapkan. Misalnya, program penggemukan sapi dengan memberi nama-nama sapi bervariasi dan menarik, seperti ti gamber, siska, dan sebagainya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buol mencatatkan, persilangan sapi jenis Bali dengan sapi lokal dan Brahman yang berhasil dilakukan ada sebanyak 18.646 ekor dan pada tahun 2021 berkembang menjadi 32.959 ekor.

“Ini menggambarkan bahwa inseminasi buatan telah berhasil dilakukan.  Sebab selain kegiatan pengembangan ternak sapi, juga melakukan perawatan kesehatan ternak sapi,“ ungkap Bupati Amirudin.

Amirudin mengakui saat awal beternak, ada berbagai macam penyakit khas ternak sapi, tetapi dari tahun ke tahun terus menurun. Ini disebabkan karena penanganan terhadap penyakit ini terus intens dilakukan.

Dengan keberhasilan ini, Pemkab Buol juga menciptakan berbagai inovasi di bidang teknologi alami dengan membuat dan mengembangkan biogas dan pupuk organik.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani