Temuan Baru, Teknik Menyambung Tanaman Kini Bisa Diterapkan pada Tanaman Monokotil

  • Bagikan
grafting plant by Julian Hibberd
Pohon kurma yang tumbuh 2,5 tahun setelah menjalani teknik sambung. Gambar insert menunjukkan bagian pangkal tanaman dan lokasi sambungan. Foto: Julian Hibberd (24tech.asia)

Mediatani – Ilmu pengetahuan semakin hari semakin menyentuh segala sektor kehidupan, tak terkecuali sektor pertanian. Belum lama ini, sebuah teknik baru dalam menyambung tanaman ditemukan oleh para tim peneliti Cambridge.

Baca Juga :   Mengenal Hari Krida Pertanian 21 Juni dan Perayaannya

Tim peneliti dari Cambridge ini menemukan teknik tersebut bersama peneliti lain yang berasal dari University of Agricultural Sciences, Swedia, University of Illinois di Chicago, Amerika Serikat dan International Wheat and Maize Improvement Center (CIMMYT), El Batan, Meksiko.

Dilansir dari laman 24tech.asia, teknik ini dinilai berpotensi untuk bisa meningkatkan hasil produksi. Tidak hanya itu, teknik terbaru ini juga mampu membasmi penyakit pada sejumlah jenis tanaman pangan yang bernilai tinggi, seperti kurma dan pisang.

Selama ini, teknik menyambung bukan hal baru lagi dalam dunia pertanian, tetapi memang hanya untuk tanaman dikotil saja. Namun, kali ini teknik menyambung ini telah bisa diaplikasikan pada tanaman monokotil termasuk tanaman rumput-rumputan seperti oat dan gandum.

Pada tanaman monokotil atau berbiji tunggal, tidak ditemukan adanya jaringan vaskuler atau kambium yang bisa membantu proses pemulihan tanaman ketika diterapkan teknik sambung.

Terkait hal ini, Julian Hibberd dari Jurusan Ilmu Tanaman di University of Cambridge, Inggris, dan koleganya mulai menciptakan sebuah terobosan baru melalui temuan teknik yang memungkinkan bisa diterapkannya pada tanaman monokotil.

Para ilmuwan mengekstrak jaringan embrionik dari biji atau benih tanaman monokotil. Setelah itu ditempatkan ke lokasi sambungan dua spesimen tanaman monokotil yang juga berasal dari spesies yang sama.

Jaringan tersebut dinilai mampu untuk menstimulasi pertumbuhan, sehingga bisa menyatukan dua tanaman. Penggunaan zat pewarna fluoresens dalam memverifikasi akar juga batang yang telah disambung ini dapat saling mentransportasikan air beserta nutrisi.

“Sebagai sebuah terobosan ilmu, ini luar biasa,” kata Colin Turnbull dari Imperial College London, dan tidak terlibat dalam penelitian oleh tim Hibberd dkk.

Hasil awal dari penelitian yang dilakukan di laboratorium mengindikasikan bahwa teknik menyambung pada tanaman monokotil ini bahkan bisa diterapkan antar spesies yang berbeda.

Para peneliti telah melakukan penyambungan terhadap batang gandum ke akar oat yang bebas dari penyakit. Karena itu, proses penyambungan ini diharapkan dapat melahirkan jenis tanaman gandum super, yang terbebas dari penyakit yang berasal dari tanah.

Meskipun begitu, untuk saat ini belum ada kejelasan tentang apakah teknik proteksi ini akan ekonomis ketika diterapkan di lapangan.

“Ini sesuatu yang sangat indah. Ini adalah hal terbaik dari ilmu pengetahuan, di mana Anda menemukan sesuatu meski semua orang sebelumnya bilang tidak mungkin,” ungkapnya.

Teknik ini dinilai bisa memerangi penyakit di sejumlah spesies tanaman yang sangat rentan terhadap penyakit seperti yang ada pada pisang Cavendish.

Spesies ini tidak dapat bereproduksi secara seksual, melainkan hanya bisa melakukan kloning. Akibatnya, produk pangan yang dihasilkan nantinya akan seragam secara genetik. Hal inilah yang menjadikan pisang Cavendish ini sangat rentan terhadap penyakit utamanya yang disebabkan oleh jamur dalam tanah.

Dengan melewati proses perulangan hingga jutaan kali sekali panen, teknik baru ini akan memakan biaya yang tidak sedikit, contohnya pada gandum dan oat. Meski demikian, sejumlah spesies lain seperti kelapa sawit atau tanaman besar tahunan lainnya memungkinkan untuk dilakukan dengan efektif dan biaya yang murah.

  • Bagikan