Banner Iklan @a2tani.id

Tiga Hari Jelang Puasa, Harga Daging Sapi dan Ayam di Boyolali Terus Melambung

  • Bagikan
ilustrasi daging sapi/wartakota/ist

Mediatani –Harga daging ayam dan daging sapi di Kabupaten Boyolali terus meroket menjelang Ramadan. Kenaikan mulai berlangsung sejak awal April 2021.

Pantauan di Pasar Kota Boyolali, kenaikan daging ayam berlangsung hampir setiap hari. Awal April 2021 kemarin, harganya di kisaran Rp32.000 per kilogramnya.

Banner Iklan @a2tani.id

Selang dua hari kemudian, harga menjadi Rp33.000 dan Rp34.000 per kilogramnya.

Sedangkan saat ini,  sudah naik lagi menjadi Rp37.000 per kilogramnya. “Meskipun mengalami kenaikan, namun pasokannya mudah dan stabil. Selain itu, penjualannya daging ayam juga naik antara 40-50 persen,” kata Eny Widyawat, pedagang daging ayam, Kamis (8/4/2021), melansir, Jumat (9/4/2021) dari laman iNews.id.

Pada hari biasa, dirinya mampu menjual 150 kilogram daging ayam per hari. Namun menjelang Ramadan, penjualan bisa mencapai 230 kilogram per hari.

Para pedagang menilai, kenaikan harga terjadi karena mendekati Ramadan. Sehingga banyak warga melaksanakan tradisi sadranan.

Salah satu pembeli, Sakeus mengaku pasrah atas kenaikan harga daging ayam. Dirinya tetap membeli karena butuh meskipun jumlah pembelian dikurangi.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas daging sapi. Kenaikan Rp5.000 per kilogram berlangsung sejak satu bulan terakhir.

Harga daging sapi yang semula Rp115.000 per kilogram, kini menjadi Rp120.000 per kilogram.

Para pedagang daging sapi mengaku, sejak pandemi Covid-19 penjualan turun hingga 50 persen. Sebelum pandemi, mereka bisa menjual lebih dari 100 kilogram daging sapi per hari. Namun kini maksimal hanya 60 kilogram per hari.

Baca Juga :   Masuk Bulan Puasa, Harga Ikan Masih Bertahan di Level Tinggi

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menuturkan bahwa saat ini sudah terjadi ritme kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan.

Namun kenaikan yang terjadi itu, lanjut dia, masih dalam batas normal. “Harga gula pasir, minyak goreng, daging, dan ayam sudah ada ritme kanaikan harga. Meski tergolong kecil dan masih normal tapi ada kenaikan,” kata dia kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (6/4/2021), dilansir mediatani.co, Jumat (9/4/2021).

Dia mamaparkan bahwa ada beberapa komoditas pangan yang harganya menjadi naik saat Lebaran seperti gula pasir, semua jenis cabai, beras, minyak gorang, telur ayam,dan daging sapi.

“Ini komoditas yang harus diantisipasi oleh pemerintah karena harganya selalu naik saat Lebaran,” ujarnya.

Sebelumnya, ada 3 fase kenaikan harga pangan saat Ramadhan. Fase pertama saat 3 hari menjelang bulan puasa. Dalam fase ini masyarakat berbondong-bondong membeli kebutuhan pangan, baik untuk jualan atau pun memenuhi kebutuhan

“Orang berbondong-bondong untuk membeli pangan untuk jualan dan kebutuhan,” ucapnya.

Kemudian, pada fase kedua saat 5 hari menjelang Idul Fitri. Kenaikan harga pada fase ini disebabkan oleh banyaknya pembelian dari masyarakat.

“Fase ini merupakan kenaikan tertinggi, karena masyarakat mempersiapkan stok hingga lebaran,” katanya.

Ketiga, fase sesudah lebaran. Pada fase ini kebanyakan para penjual atau petani tidak menjual barang kebutuhan pangan sehingga terjadi kelangkaan. “Para petani atau pedagang biasanya libur setelah lebaran atau mudik,” sebut dia

Baca Juga :   Sulteng Penuhi Daging Sapi Sendiri, Andalkan Peternak Sapi Lokal 

Menurutnya, ketiga fase ini yang harus diantisipasi oleh pemerintah agar tidak terjadi kenaikan harga.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi menyebutkan tingkat konsumsi daging sapi saat Ramadhan dan Idul Fitri sangat tinggi.

Untuk tiga provinsi seperi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat tingkat konsumsi daging sapi saat momentum sakral umat Islam mencapai 60% dari tingkat konsumsi nasional.

“Kita berbicara kebutuhan tiga provinsi, di mana saat ini Jakarta, Banten termasuk Jabar adalah daerah tingkat konsumsi tertinggi secara nasional yaitu 60% dari tingkat konsumsi yang ada,” kata dia, menjelaskan.

Sementara, APDI harus menyediakan stok yang bisa didistribusikan ke sejumlah daerah.

Dalam catatan Asnawi, H-2 Ramadan hingga H-4 Idul Fitri, pihaknya membutuhkan 46.758 ton yang terdiri dari dua unsur.

Yakni, unsur pertama, sapi siap potong sebanyak 14.350 ekor. Sedangkan unsur kedua ialah daging beku 26.740 ton.

Pemerintah pun telah menugaskan kepada PT Berdikari untuk melakukan impor daging sapi dari Brasil. Daging impor akan didatangkan secara bertahap hingga Desember 2021 mendatang.

Direktur Utama PT Berdikari, Harry Warganegara mengatakan, ada sekitar 420 ton daging sapi Brasil yang akan masuk sebelum Lebaran. (*)

Banner Iklan Mediatani
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani