Home / Nasional

Senin, 7 September 2020 - 17:29 WIB

Uji Coba Pola Korporasi Tanaman Pangan Berjalan Efektif

Mediatani – Sampai tahun 2020 ini, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sebanyak 14 kabupaten yang sudah mengelola korporasi tanaman pangan. Hal tersebut merupakan bukti keseriusan Kementan dalam menjalankan Program Propaktani (Program Pengembangan Korporasi Tanaman Pangan) yang dimulai sejak tahun 2019.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menyebutkan bahwa pola korporasi sudah diujicoba sejak tahun lalu di beberapa lokasi seperti di Tuban, Lampung, Kalsel, Sulut dan lainnya. Terbukti kinerjanya bagus, sehingga tahun ini akan direplikasi di 130 Kabupaten.

“Kebijakan yang dicetus Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam membangun pertanian berbasis korporasi terus dikawal dan dikembangkan dan tahun depan diperluas di seluruh wilayah,” ujar Suwandi di Jakarta pada Senin, (7/09/20).

Suwandi menambahkan korporasi pertanian tidak hanya meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani namun juga untuk meningkatkan komoditas berbasis ekspor. Program Propaktani meliputi kegiatan terintegrasi on farm dan hilir sampai industri turunan hingga pemasaran. 

Baca Juga :   Sulawesi Utara Siap Kembangkan Pertanian Berbasis Korporasi

“Kawasan dan klaster program ProPaktani memanfaatkan lokasi yang telah ada, ditata dan dioptimalkan, sumber pendanaan dari swadaya, KUR dan pembiayaan lainnya,” kata Suwandi.

Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Mohammad Takdir Mulyadi menambahkan baru-baru ini Kementan melakukan pengukuhan pengembangan kawasan korporasi padi sehat terintegrasi dengan ternak sapi di Blitar yang menerapkan teknologi pertanian presisi. Kabupaten Blitar menjadi salah satu contoh daerah yang menerapkan wadah kelembagaan koperasi yang berbasis korporasi. 

“Hal ini berarti pengelolaan manajemen dikelola secara terstruktur, saling bekerjasama menguatkan kelembagaannya dengan prinsip dari petani, dan keuntungan milik petani,” tutur Takdir.

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Pangan Blitar, Wawan Widianto mengatakan dengan dukungan Kementan, Kabupaten Blitar mengukuhkan koperasi “Lumpang Mas Penataran” yang mengembangkan kawasan korporasi pertanian. 

Bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, optimis bisa menjadi koperasi lumbung pangan masyarakat Blitar yang punya ciri khas “Padi organik dan Padi sehat Metode Hayati Indonesia (MHI)”.

Baca Juga :   HUT RI ke-75, Akademisi : Saatnya Wujudkan Cita-cita menjadi Lumbung Pangan Dunia

“Koperasi lumbung pangan ini diusung dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia menuju pertanian berkelanjutan, presisi dan terintegrasi ternak sapi,” ujar Wawan.

Wawan mengatakan konsep padi MHI mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi saprodi dan ramah lingkungan memanfaatkan bahan baku yang melimpah di sekitar Blitar. 

Salah satu produksi beras organik unggulan Blitar (beras merah dan beras hitam Jeliteng) yang sudah disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik dan dipasarkan dengan nama “Britanic”. Ke depan Blitar bisa ekspor beras organik ke negeri tetangga.

“Kabupaten Blitar sudah menerapkan pertanian terpadu menuju zero waste (bebas sampah). Limbah pertanian dimanfaatkan untuk xilase pakan sapi, limbah sapi untuk bahan pupuk kandang tanpa fermentasi, bahan pupuk daun nabati, pestisida nabati dan herbisida nabati,” tutupnya.

Share :

Baca Juga

Berita

Pemborosan Anggaran Rp 45 Triliun Jadi Sorotan Rembuk Petani

Berita

PKSPL-IPB Bekerjasama MUI Bangun Gerakan Ekonomi Pemberdayaan Ummat

Nasional

Mentan Ingin Harga Bawang Merah Tidak Lebih 17000 Perkilo

Berita

‘Anak Kandang Farm’, Wisata Edukasi hingga Belajar Beternak di Sidoarjo

Nasional

Gabungan Massa Aksi Blokade Jembatan Suramadu dengan Tabur 2 Ton Garam

Berita

Sudahkah Kita Berlaku Adil Pada Petani Tebu?

Berita

Tingkat Kesejahteraan Rendah Jadi Pemicu Krisis Regenerasi Petani

Berita

Harga Gabah Melonjak Di Bulan Oktober 2017