Home / Berita / Nasional / Peternakan

Rabu, 6 Januari 2021 - 16:31 WIB

Ulah Peternak Australia Ini Berpotensi Naikkan Harga Daging Sapi, Ketua DPD RI: Pemerintah Harus Serius

Ilustrasi/Daging Sapi/IST

Ilustrasi/Daging Sapi/IST

Mediatani – Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) mengatakan harga sapi bakalan melonjak. Kenaikan harga tersebut kata Gapuspindo telah terjadi sejak bulan Agustus 2020 lalu.

Apalagi, harga sapi bakalan asal Australia saat ini telah mencapai 3,7 dollar AS per kilogram (kg) dari sebelumnya 3 dollar AS per kg.

“Artinya landing cost sudah mencapai Rp 52.000 per kg berat hidup,” ujar Direktur Eksekutif Gapuspindo Joni Liano seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa, (5/1/2021).

Kenaikan itu lanjutnya, memiliki dampak yang besar bagi biaya produksi pengusaha peternak sapi potong. Pasalnya harga sapi bakalan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi selain pakan dan kurs dollar.

Selain itu, dirinya mengakui beberapa faktor lain yang menjadi penyebab naiknya harga sapi bakalan ialah peternak Australia melakukan repopulasi untuk memenuhi permintaan.

“Banyak permintaan dari Vietnam dan Cina, demand dalam negeri Australia meningkat,” terang Joni.

Dia menuturkan, saat ini harga daging sapi di Indonesia juga mengalami kenaikan. Harga daging sapi berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) terpantau sebesar Rp 122.200 per kg.

Mendengar keluhan Gapuspindo, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti meminta pemerintah serius menanggapi keluhan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) terkait potensi lonjakan harga daging sapi.

Baca Juga :   Hasilkan 1.400 Sapi dari Inseminasi Buatan, Bupati Bantaeng Apresiasi Petani-Peternak di Desa Kaloling

Dikutip dari Tribunnews.com, Rabu, (6/1/2021), Menurut dia, Hal ini disebabkan lantaran harga sapi merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi selain pakan dan kurs dollar.

“Selama ini pemenuhan kebutuhan daging kita berasal dari daging sapi impor Australia, sehingga harga sangat dipengaruhi kurs dollar terhadap rupiah,” kata LaNyalla dalam keterangan resminya, Rabu (6/1/2021).

Oleh karena itu, LaNyalla menyarankan kepada pemerintah agar berupaya mendorong masyarakat mengembangkan ternak sapi potong untuk memenuhi konsumsi daging lokal.

“Saya kira sudah saatnya pemerintah memfasilitasi dan mendorong masyarakat mengembangkan ternak sapi lokal untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri,” saran LaNyalla.

Meski begitu dia juga sadar hal itu butuh persiapan yang panjang dan matang. Maka dari itu LaNyalla meminta semua pihak bersabar dalam menjalankan proses.

“Kita memiliki dinas peternakan di seluruh wilayah untuk dapat mengembangkan ternak penghasil daging untuk memenuhi kebutuhan nasional selain impor dari Australia,” tuturnya.

Dengan kebijakan seperti itu dia merasa cukup realistis agar menekan melonjaknya harga daging sapi yang memang tingkat konsumsinya di masyarakat cukup tinggi. Di sisi yang lain, langkah tentu dapat mengurangi ketergantungan terhadap daging sapi impor asal Australia.

“Ini langkah realistis yang bisa kita lakukan. Saya kira potensi kita besar untuk mengembangkan dan memenuhi sendiri kebutuhan daging sapi dalam negeri. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tetapi hal ini strategis untuk menjaga ketahanan pangan kita,” paparnya.

Baca Juga :   IKA Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Sukses Menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram

Solusi itu pun tampaknya tengah dilakukan Bupati Bantaeng H. Ilham Azikin. Dilansir dari situs Upeks.co.id, Rabu, (6/1/2021) didampingi Kepala Dinas Pertanian, Budi Taufik, Ilham melakukan peninjauan hewan ternak sapi yang berkembang biak melalui intensifikasi Inseminasi Buatan (IB) atau lebih dikenal oleh petani peternak dengan istilah kawin suntik.

Peninjauan Bupati Bantaeng ini dilakukan di Desa Kaloling, Kecamatan Gantarangkeke, Kab Bantaeng, Rabu (6/1/2021).

Langkah IB itu pun dinilai tepat meningkatkan populasi ternak sapi, dikarenakan proses pembuahan sel telur yang dihasilkan oleh sapi betina saat ovulasi menjadi lebih tepat. Selain itu juga menjamin mutu genetik yang lebih berkualitas. Melalui modifikasi teknologi ini juga, bisa mempengaruhi apakah yang akan lahir berjenis kelamin jantan atau betina dan bisa juga lahir secara kembar.

Di Kabupaten Bantaeng sendiri, khususnya di Desa Kaloling di tahun 2020 telah lahir sapi hasil IB sebanyak 1400 ekor dengan persentase keberhasilannya hampir mencapai 100%. Hal ini tentu akan semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berprofesi sebagai peternak sapi.

Di sela-sela kunjungan, Bupati Ilham juga secara langsung melakukan kegiatan Inseminasi Buatan kepada seekor sapi (*)

Share :

Baca Juga

Berita

Jokowi Tunjuk Luhut Jadi Menteri KP Sementara
Pemateri berfoto bersama peserta (Foto: SPF)

Berita

Pentingnya kerajinan tangan guna menunjang pengembangan wisata berbasis penyu, SPF gelar pelatihan

Nasional

Demo Bergejolak, Presiden Jokowi Tinjau Kawasan Food Estate di Kalteng

Nasional

Megaproyek Pelabuhan Patimban Ancam Kesejahteraan Petani, PSPS3 IPB Sarankan Ini

Nasional

Alasan dibalik Kelangkaan Pupuk di Pasaran

Nasional

Kementan Gandeng 6 Universitas Untuk Pengembangan Diversifikasi Pangan dan Pekarangan Pangan Lestari

Berita

Apa Saja Perbedaan Nasib Petani Indonesia Dan Di Negara Maju

Agribisnis

Kisah Petani Sukses Dari Nol yang Jadi Pengusaha Kaya Raya