CERDAS Talk serie ke 2 digelar. Persoalan mangrove menjadi sorotan utama

158
views
Foto bersama peserta dan pemateri (dok. panitia)
Foto bersama peserta dan pemateri (dok. panitia)

Mediatani.co – Bogor, 09 Agustus 2018. Pusat Studi Bencana (PSB) IPB yang bekerjasama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia (Kemenko maritim), Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDT), dan juga Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB menggelar kegiatan CERDAS Talk untuk serie ke 2. Kegiatan ini bertajuk “mangrove genetik dan biodiversity banks” kemarin rabu (8/8/2018).

Pasang iklan

Pada pembukaannya Dr Yon Vitner selaku Kepala PSB mengantar kegiatan dengan beberapa kalimat sambutan. Ia menekankan mengenai pentingnya mangrove bagi kehidupan yang salah satunya dapat menekan potensi bencana berupa laju kerusakan lingkungan, terutama di pesisir.

Sebagai pembicara pada diskusi serie ke 2 ini dihadirkan Ir. Agung Kuswandono selaku Deputi Bidang Koordinasi Sumberdaya Alam dan Jasa Kemenkomaritim, Prof Dietrich Bengen selaku guru besar FPIK IPB, Dr Ario Damar selaku Kepala PSB, Agus KemendesPDT, dan Dr Sahat MP selaku Asdep Kemenkomaritim.

Ir Agung menjelaskan tentang pentingnya perbaikan mangrove. “Sebanyak 52 persen mangrove di kita telah hilang dan beralih fungsi. Oleh karena itu tantangannya, kita perlu menjaga mangrove yang masih ada dan mengembalikan mangrove yang telah rusak” ungkap Agung dalam pemaparannya.

“Kita memang perlu adanya perbaikan mangrove yang sinergis antar pemangku kepentingan dan berpikir out of the box. Apa yang akan kita banggakan sebagai negara maritime terbesar didunia jika mangrovenya hilang.” Lanjutnya.

Prof Dietrich pun memaparkan tentang menggalakkan pendidikan tentang mangrove semenjak dini. Ia pun melanjutkan pemaparannya. “Perlu adanya pengelolaan mangrove terpadu berbasis masyarakat. Masyarakat harus tetap menjaga dan memberikan nilai tambah yang baik untuk masyarakat. Edukasi mangrove dengan memanfaatkan tanpa merusak ekosistem mangrove.”

“Ada dua hal yang harus dipahami dalam pengelolaan mangrove, yaitu fungsi sebagai penyedia jasa pendukung kehidupan dan kenyamanan dan penyedia sumberdaya alam. Jangan mimpi anda makan ikan kalau mangrovenya tidak ada.” Tegas Prof Dietrich.

Dr Ario Damar membagikan pengalamannya di PKSPL. Ia menyoroti bagaimana pendekatan yang baik dalam pengelolaan dan rehabilitasi mangrove yang tepat untuk di Indonesia.

“Pendekatan dalam pengelolaan dan merehabilitasi mangrove adalah dengan Integrated Coastal Management.” Paparnya.

Ia juga menyoroti persoalan kebencanaan. “Dalam kaitannya dengan kebencanaan, mangrove ini sangat berkaitan erat, khususnya dalam mencegah makin buruknya dampak abrasi, tsunami, dan intruisi air asin.”

Pak agus pun menjelaskan tentang peran desa dalam kebijakan mangrove ini. “Melalui Undang-Undang Desa, Desa telah diperkuat kewenangannya dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Selain diperkuat kewenangannya, Desa juga diberikan sumber-sumber pendapatan.”

Ia menyambungkan pengelolaan mangrove ini dengan kewenangan desa belakangan ini. “Adanya perubahan paradigma desa, yang lebih mementingkan azas rekognisi dan subsidiaritas, menunjukkan peran masyarakat desa menjadi semakin penting dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam rangka PRB di tingkat desa.”

“Jadi, pengelolaan mangrove memerlukan dukungan dari partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas dan sasaran PB dan PRB. Penerapan PRB dalam koteks lokal, terutama desa, perlu didukung kesiapan dan kapasitas SDM di tingkat masyarakat, khususnya di desa perlu didorong merumuskan visi dalam tata kelola desa, termasuk dalam menghadapi bencana.” Pungkasnya.

Dr. Sahat membuka wacana baru dalam diskursus mangrove ini. Ia menyoroti mengenai peran Perguruan tinggi, Swasta melalui dana CSRnya, dan juga peran dari masyarakat itu sendiri dalam menangani persoalan mangrove ini.

“Bagaimana pemanfaatan dana CSR dalam merehabilitasi Mangrove dalam skala nasional. Bagaimana sinergi antara berbagai pihak dalam merehabilitasi 1.82 juta ha mangrove. Bagaimana peran perguruan tinggi dalam menyukseskan kegiatan rehabilitasi mangrove.”

Ia menekankan semua stakeholder harus terlibat dan juga turut aktif dalam pembangunan mangrove ini.

Seluruh peserta yang hadir sekitar 100 orang pun antusias dalam mengikuti jalannya diskusi ini. Diskusi yang dipandu oleh Dr Perdinan yang juga merupakan Sekretaris PSB ini memancing berbagai pendapat dan pertanyaan dari peserta.

Salah satu peserta, Dian Purnama dari Yayasan Restorasi Mangrove memandang masalah kita yang mendasar adalah masalah koordisani yang tidak baik. Ia juga menyoroti tentang karakteristik pantai di Indonesia sangat beragam sehingga perlu teknik dalam restorasi yang disesuaikan dengan kondisi lokal.

“Selain itu perlu juga memastikan ketersedian bibit dalam rehabilitasi mangrove. Satu hal lagi, tren belakangan ini mangrove dijadikan sebagai objek ekowisata dan pariwisata. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah daya dukung sudah memenuhi?, apakah secara ekologi memberikan manfaat?”

Peserta lain yang merupakan perwakilan WWF Indonesia, Veda mengungkapkan pendapatnya dalam diskusi ini.

“Upaya restorasi dan konservasi mangrove bisa dikontribusikan tidak hanya kepelabuhan tapi juga perusahaan-perusahaan perikanan. Kemudian masalah keruangan masih mendapatkan tantangan. Sehingga ini perlu aksinyata dari kita semua untuk memperbaiki. Selain itu kita juga perlu mengajak masyarakat desa dalam merehabilitasi mangrove dan kerja sama dengan pemerintah daerah.” Pungkasnya.

Dalam akhir sesi Ir Agung mengomentari terkait sikap kita dalam persoalan mangrove ini.

“Memang koordinasi di Indonesia menjadi hal yang paling sulit. Tetapi, janganlah kita merasa pesimis melihat Indonesia. Kita harus yakin dan memiliki semangat untuk bangkit. Mari ubah mindset, bahwa bangsa indonesia harus menjadi bangsa yang kuat dan harus yakin bahwa kita bisa menangani masalah bangsa yang kita hadapi.” Tutupnya mengakhiri acara ini.

/J