22.000 Ton Daging Kerbau India Akan Didatangkan Bulog Bulan Maret Ini

  • Bagikan
Foto: Dokumentasi Bulog/Via Detikcom/IST

Mediatani – Perum Bulog telah melakukan kontrak pengadaan daging kerbau asal India sebanyak 22.000 ton untuk periode Maret hingga Juni 2021. Rencananya, kedatangan daging impor ini akan terealisasi pada Maret 2021.

“Saya belum update untuk kedatangannya, tetapi [kedatangan] diperkirakan Maret ini,” ujar Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaluddin Iqbal kepada Kontan, Senin (22/3) yang dikutip, Rabu (24/3/2021) dari situs kontan.co.id.

Menurut dia, nantinya daging kerbau asal India yang didatangkan pada Maret itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hingga Juni. Dia pun berharap, dengan adanya daging kerbau ini, maka pasokan daging selama puasa dan lebaran aman.

Adapun, sepanjang tahun ini Bulog mendapatkan kuota impor daging kerbau asal India sebanyak 80.000 ton.  Keputusan impor tersebut merupakan penugasan dari pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan.

Nantinya, realisasi impor pun akan dilakukan secara bertahap.

Ketua Komite Tetap Industri Peternakan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Yudi Guntara Noor meminta pemerintah agar  memastikan kapan pemasukan daging impor dilakukan. Hal itu dilakukan dalam menjamin ketersediaan pasokan dan harga daging sapi saat puasa dan lebaran tahun ini.

“Ini juga menjadi dilematis pada saat tidak ada kepastian. Pemerintah harus secepatnya selesaikan ini, kepastian kapan masuk. Jadi harus sinkron. Kami misalnya, di industri feedlot karena keterbatasan impor, kami memobilisasi sapi lokal meskipun terbatas jumlahnya. Tapi saat yang sama BUMN yang memiliki hak eksklusif untuk datangkan daging itu harus juga tepat waktu dan komit untuk mendatangkan ” ujar Yudi.

Sebelumnya, melansir dari laman yang sama, Yudi mengatakan adanya daging kerbau impor dari India telah menggeser pangsa penjualan daging segar.

“Kalau kita lihat, di tahun 2015 ini sebelum daging kerbau itu masuk, kalau di 2019 daging kerbau sudah masuk. Itu market impor kita mengambil alih dari pangsa yang ada, yang terdesak adalah daging sapi yang berasal dari sapi lokal atau yang berasal dari pemotongan sapi dalam negeri,” ujar Yudi dalam diskusi “Kerjasama Indonesia – Australia dalam Industri Sapi dan Daging Sapi di 2021”, Senin (22/3), lalu.

Dia menerangkan, pada 2015 sekitar 60%  penjualan daging masih dikuasai oleh daging  segar lokal. Namun, pada 2019, hampir 70% penjualan dikuasai oleh daging impor, yang mana ini terbagi atas daging beku dan daging kerbau impor. Daging kerbau impor pun menguasai pangsa pasar hampir sepertiga dari penjualan.

Dia pula menerangkan bahwa daging kerbau impor ini menciptakan segmentasi pasar baru di kalangan pedagang. Dia menerangkan, meski memperdagangkan daging kerbau impor, tetapi pedagang tetap menjual sapi segar.

Dia menyebut, daging kerbau kerbau ini tidak diperdagangkan sebagai daging beku, tetapi dijual sebagai daging segar. “Tidak ada daging beku ini dijual, kecuali di institusional market. Kalau di pasar becek, mereka dijual sebagai daging segar, mereka di-thawing, dicampurkan sebagai daging kerbau dengan daging sapi dan dijual sebagai daging lokal,” ujarnya.

Olehnya itu, Yudi pun meminta agar pemerintah mengkaji kembali kebijakan impor daging kerbau ini karena keinginan untuk menstabilkan harga di tingkat konsumen tak tercapai. Namun, harga sapi pun masih tetap tinggi dan margin di tingkat pedagang meningkat karena pencampuran yang dilakukan.

Dia menilai, ini juga akan menyebut tingginya impor daging ini akan mengambil alih pangsa pemotongan sapi lokal di Indonesia. Ini akan berdampak pada penurunan pemotongan di rumah potong hewan, peternak akan sulit menjual sapi, dan feedlot akan menurunkan pasokan karena tersaingi daging impor.

Lebih lanjut, Yudi menuturkan, berdasarkan hasil survei di pedagang sapi di DKI Jakarta yang dilakukan APDI, 20% pedagang yang menjual sapi lokal, 38% alasan pedagang menjual daging sapi lokal dikarenakan  faktor permintaan pasar sementara 55% alasan pedagang menjual daging kerbau impor karena faktor keuntungan. (*)

  • Bagikan