Amin Berhasil Kembangkan Ayam ‘Baper’, Modal Rp5 Juta dan Beternak di Halaman Rumah

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
Amin Nugraha beraktivita di kandang/via bangkapos/khamelia/IST

Mediatani – Di pekarangan rumahnya, Amin Nugraha memanfaatkan lahan apa adanya untuk beternak Ayam Kampung Baper (Bangka Super).

Meski lahannya tidak begitu luas, hal itu tidak menjadi penghalang Amin untuk beternak ayam kampung jenis Baper ini.

Ayam baper ini diketahui merupakan hasil persilangan antara ayam bangkok dan petelur. Dari usaha yang digelutinya itu, Amin dapat menampung sekitar 400 hingga 500 ayam kampung, hanya dengan memanfaatkan pekarangan rumahnya.

Seluruh ayam pun berada di kandang, jadi dirinya tak perlu khawatir ayam berseliweran ke luar atau pun mengganggu rumah tetangga.

Melansir dari situs Bangkapos.com, saat masuk ke pekarangan rumah yang berlokasi di GG Makmur III dusun IV Kace, Mendo Barat, Provinsi Bangka Belitung itu tidak ada aroma kotoran ayam yang menyengat.

Teras rumahnya pun nampak bersih, rapi dan teduh. Sejumlah tanaman bunga berjejer juga menghiasi pekarangan rumah.

Amin menuturkan, ternak ayam kampung berbasis kearifan lokal ini telah dilakoninya selama 2 tahun. Kandang ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah kulit bawang.

“Limbah kulit bawang sebagai antiseptik yang ditaruh dalam kandang, sehingga tidak menciptakan bau yang tak sedap,” jelasnya Amin yang mendapatkan wawasan beternak dari dosen UBB, Dr Andri Kurniawan.

Baca Juga :   Optimalkan Lahan Rawa, Ditjen Tanaman Pangan Jamin Produksi Meningkat

Selain ramah lingkungan, Amin mengaku tidak dibikin repot untuk membersihkan kandang, karena kandang hanya dibersihkan 1 tahun sekali saja. “Gak bikin repot, 1 tahun sekali saja dibersihkan,” katanya.

Dia menuturkan untuk memulai bisnis ini dirinya mengeluarkan modal awal Rp5 juta. Modal tersebut ia peroleh dari pinjaman modal lunak PT CSR Angkasa Pura Bangka Belitung sebagai mitra binaan.

Modal tersebut kemudian dimanfaatkan betul oleh Amin untuk merintis usaha ternak ayam baper, bahkan dia berencana melakukan perluasan lahan untuk menampung lebih banyak lagi ayam kampung.

Amin menyebut potensi omset ayam baper di Bangka sangat menjanjikan. Bisa panen 2 bulan sampai dengan 2,5 bulan, dengan rata-rata berat 8 ons sampai 1,3 kilogram.

“Sekali panen 50 ekor sampai 100, sudah ada langganan yang ambil langsung ke rumah,” katanya.

Amin melakukan pembibitan sendiri, bahkan ia menjualnya dengan harga Rp10.000 per ekor. Harga jual ayam kampung baper ini berkisar Rp45.000-Rp50.000 perkilogram.

Pria yang berstatus PNS ini mengaku senang memiliki aktivitas sampingan selain pekerjaan pokoknya sebagai abdi negara.

“Ada nilai value-nya. Saya ingin mengajak masyarakat memanfaatkan lahan bernilai ekonomis, salah satunya dengan ternak ayam baper ini, apalagi di masa pandemi sekarang, dibutuhkan kreativitas bagi kita untuk menghasilkan uang, inilah contohnya, siapa saja bisa belajar, asal ada kemauan,” tuturnya.

Baca Juga :   Petani Ini Menderita Insomnia Akut, 33 Tahun Belum Pernah Tidur Walau Semenit

Pria kelahiran Majalaya, Jawa Barat ini menyebutkan setidaknya ada 4 penghasilan yang bisa diperoleh dengan budidaya ayam baper.

Pertama, telurnya, kedua menjual anakan, ketiga daging ayam dan keempat jadi pembuat pakan. Yup! Jadi kamu tertarik beternak ayam?

Hanya 6 Tahap! Panduan Lengkap Beternak Ayam Kampung Cara Semi Intensif

Siapa yang tidak tahu hewan yang paling populer ini? Ya, ayam! Khususnya ayam kampung.

Daging dan telurnya enak, harganya pun lebih mahal dari ayam pedaging. Tidak salah banyak yang berlomba-lomba memulai beternak ayam kampung.

Di sini mediatani.co mencoba memberikan panduan lengkap dengan sederhana, 6 tahap dalam beternak ayam kampung menggunakan cara semi intensif.

Ternak Ayam Kampung Semi Intensif

Pada sistem ini ayam kampung tidak dibiarkan lepas secara liar. Ataupun dikurung terus-menerus 24 jam, tapi ayam tetap diberi lahan untuk mencari pakan alami dan melakukan aktivitas lainnya tapi tetap secara terbatas.

Kemudian, pakan yang dibuat juga merupakan perpaduan antara pakan buatan pabrik dan tumbuhan hijau dan cacing dan pakan buatan peternak sendiri, baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

  • Bagikan