Anggota DPR: Pemerintah Perlu Perkuat Infrastruktur Peternakan di Kawasan Produksi Sapi

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
ilustrasi peternakan sapi/IST

Mediatani – Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan mengatakan pemerintah perlu segera memperkuat berbagai infrastruktur peternakan yang memadai di kawasan produksi sapi. Hal itu kata dia juga sebagai cara mengantisipasi kenaikan harga daging sapi.

“Saya anggap pemerintah perlu segera memperkuat infrastruktur peternakan di daerah produsen, untuk meningkatkan produksi daging sapi nasional,” kata Johan Rosihan dalam rilis di Jakarta, Selasa, dikutip Rabu (27/1/2021) dari situs berita antaranews.com, terkait harga daging sapi yang terus merangkak naik sejak awal 2021.

Johan mengatakan, harga daging sapi selama lima tahun terakhir ini cenderung meningkat dengan rata-rata 15 persen per tahun, karena defisit daging sapi di Indonesia. Sementara konsumsi daging sapi terus mengalami peningkatan sekitar rata-rata 2,11 persen.

Dirinya mengingatkan agar ketersediaan daging sapi pada akhir 2020 hanya 47.836 ton, sementara, prediksi kebutuhan daging sapi pada 2021 mencapai 696.956 ton, disertai produksi dalam negeri dari sapi lokal pada 2020 hanya mencapai 404.997 ton.

“Saya melihat pemerintah perlu memfokuskan diri melakukan pengembangan sapi lokal untuk memenuhi permintaan daging yang cenderung meningkat,” kata Johan.

Untuk itu, dia menuturkan, Kementerian Pertanian diharapkannya mampu melakukan terobosan besar untuk menggairahkan para peternak sapi. Hal itu diupayakan agar populasi sapi lokal dapat ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pasokan daging sapi.

Baca Juga :   Pasca Bencana, Tim Universitas Airlangga Bantu Pulihkan Sektor Perikanan di Majene dan Mamuju

Johan pula mengutarakan harapannya agar pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan populasi sapi potong yang hingga saat ini hanya berkisar 18,17 juta ekor.

“Satu di antaranya ialah bentuk infrastruktur peternakan di daerah produsen yang penting untuk dikembangkan adalah penerapan program pemuliaan melalui pendekatan kelembagaan peternak agar ada perbaikan implementasi teknologi pakan, genetik dan reproduksi secara maksimal dalam peningkatan produktivitas yang berkelanjutan”, paparnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menegaskan, stok atau persediaan daging sapi dan kerbau masih aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Republik Indonesia.

Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengungkapkan pada tahun 2021 ini, kebutuhan daging sapi dan kerbau diperkirakan meningkat menjadi 696.956 ton, sedangkan produksi dalam negeri pada 2021 juga diperkirakan akan meningkat dari 2020 yaitu sebesar 425.978 ton.

Selain produksi dalam negeri, ujarnya, masih terdapat “carry over” daging sapi/kerbau impor dan sapi bakalan setara daging dari 2020 sebesar 47.836 ton sehingga total produksi/stok dalam negeri tahun 2021 sebesar 473.814 ton. Artinya, masih ada defisit atau mengalami kekurangan daging sapi sebesar 223.142 ton.

“Untuk memenuhi kekurangan daging  sapi itu, pemerintah bakal melakukan impor sapi bakalan sebanyak 502.000 ekor setara daging 112.503 ton. Impor daging sapi sebesar 85.500 ton, serta impor daging sapi Brasil dan daging kerbau India dalam keadaan tertentu sebesar 100.000 ton,” kata dia dikutip dari sumber yang sama.

Baca Juga :   22.000 Ton Daging Kerbau India Akan Didatangkan Bulog Bulan Maret Ini

Fadjar menyebut bahwa stok daging pada akhir 2021 ini diperkirakan sebesar 58.725 ton yang diharapkan pula mampu memenuhi kebutuhan bulan Januari 2022.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan medaitani.co, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Nasrullah dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Rabu (13/1/2021).

Dikutip dari situs berita Detik.com, Rabu (13/1/2021),Nasrullah memaparkan, Indonesia membutuhkan sekitar 281 ribu ton daging sapid an kerbau sepanjang tahun 2021 ini.

“Terkait dengan ketersediaan dan kesediaan daging sapi kerbau tahun 2021 di mana neraca kita itu minus 223 ribu ton sehingga perkiraan untuk penambahan dari luar itu kurang lebih 281 ribu ton dengan mempertimbangkan stok untuk atau cadangan pada Januari-Februari 2022,” ujar Nasrullah.

Nasrullah juga menuturkan kebutuhan untuk konsumsi daging sapi dan kerbau di Indonesia tercatat 696.956 ton per tahun. Sementara itu, produksi sapi dalam negeri hanya sekitar 473.814 ton per tahunnya.

Maka dari itu, ada selisih sekitar 223.142 ton yang nantinya perlu disiapkan. Ditambah lagi dengan kebutuhan cadangan pada bulan Januari-Februari 2022 sebanyak 58.725 ton, sehingga diperlukan melakukan impor hingga 281.867 ton daging sapi dan kerbau. (*)

  • Bagikan