Animo Ekspor Tanaman Hias Meningkat, Karantina Pertanian Berikan Bimtek ke Petani

Salah satu penjual tanaman hias di Bogor

Mediatani – Tidak semua sektor usaha mengalami penurunan pendapatan karena dampak covid-19, penjualan tanaman hias di Kabupaten Bogor justru mengalami peningkatan. Bahkan, omzet petani tanaman hias bisa mencapai Rp 200-300 juta sehari secara keseluruhan.

Hal tersebut terjadi karena banyaknya permintaan ekspor dari berbagai negara. Namun, untuk melakukan kegiatan ekspor tersebut, para petani atau eksportir tanaman hias harus memenuhi beberapa syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian.

Oleh karena itu, petugas Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, memberikan bimbingan teknis (Bimtek) atau tata cara ekspor kepada petani tanaman hias, di Outlet Minaque Home Nature di kawasan Bogor Nirwana Residence Kota Bogor.

Bimbingan teknis yang diberikan kepada para petani diantaranya adalah persyaratan serta dokumen yang harus disiapkan, agar tanaman hias bisa menembus pasar luar negeri.

Ahmad Sauqi, salah satu petugas Fungsional Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta mengatakan bahwa sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh petani adalah mulai dari memiliki ijin dari Kementrian Pertanian dan bebas dari hama penyakit.

“Yang utama itu harus punya ijin dulu dari Kementrian Pertanian karena berupa bibit kan, jadi jangan sampai biodiversitas kita itu pindah keluar negeri semua, makanya setiap orang yang mengajukan itu ada kuotanya,” ujar Sauqi dilansir dari Bogor.TribunNews, Kamis, (6/11/2020).

Ahmad menjelaskan bahwa negara negara tujuan ekspore sangat selektif terhadap tanaman ekspor. Untuk itu setiap petani harus memastikan bahwa tumbuhan yang akan dikirim atau dipasarkan ke luar negeri harus benar benar terbebas dari penyakit.

Baca Juga  NTP dan NTUP Petani Naik Signifikan Pada Periode Juni 2020

“Yang kita concern ini di hama dan penyakitnya, jadi tiap negara gak mau kecolongan lewat kemasukan hama dan penyakit, jadi karantina itu memastikan bahwa tanaman bebas dari hama dan penyakit sebagaimana yang disarankan dari negara tujuan,” katanya.

Sauqi mengatakan Di saat pandemi ini, animo ekspor petani tanaman hias di Indonesia cukup tinggi. Peningkatan itu dikarenakan adanya permintaan dari negara-negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, Norwegia dan Swiss.

Maka dari itu pihak Balai Karantina mengimbau kepada para petani tanaman hias agar bisa mematuhi ketentuan ekspor yang telah ditetapkan dan tentunya membuat penghasilannya bisa terjaga.

“Sampel yang masuk uji lab sama tanaman yang sesungguhnya itu sama dari kondisi kesehatannya, karena kita itu pemeriksaanya sampling yah,” katanya

Seorang petani yang ikut pelatihan itu Ahmad Sulaeman (40) mengaku ingin mengikuti pelatihan tersebut karena sangat berharap agar dirinya bisa melakukan ekspor ke luar negeri. Pasalnya, selama ini Sulaeman kerap menyerahkan kepada pihak lain, untuk memasarkan aneka koleksi tanamannya kepada para pembeli di luar negeri.

“Selama ini merasa sulit yah terutama dari kampung apalagi untuk menuju akses itu, jadi dengan bimbingan teknis ini kita menjadi terbuka sekarang dan ternyata mudah melakukan ekspor ” katanya.

Baca Juga  Gara-gara Pandemi, Kolam Renang Ini Alih Fungsi Jadi Kolam Lele

Sementara itu inisiator kegiatan Pemberian pelatihan dan pembekalan kepada petani Ade Wardhana berharap agar petani tanaman hias dari Bogor ini bisa merebut pasar penjualan di dunia.

“Inikan ada anomali, makanya kita coba para petani kita untuk bisa meningkatkan ekspor, kedepan kita bisa menciptakan pelaku ekspor dan menjadi milyarder baru dari tanamam hias,” katanya.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Bogor

Sebelumnya, Bupati Bogor Ade Yasin telah bertemu dan berdialog dengan para petani tanaman hias yang ada di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor bulan lalu. Ade Yasin ingin mengetahui bagaimana kondisi penjualan tanaman hias di tengah pandemi Covid-19 dan apa saja yang menjadi kendala para petani.

Bupati Bogor Ade Yasin mengunjungi petani tanaman hias

Para pelaku bisnis tanaman hias itupun mengaku ada beberapa kendala dalam pengembangan tanaman hias seperti kurangnya stock tanaman untuk diekspor, akses transportasi menuju ke Sukamantri, serta kurangnya pameran tanaman hias.

Menanggapi hal itu, Bupati Ade Yasin menginstruksikan Kadistanhorbun membentuk kultur jaringan untuk mempercepat stock tanaman. Ade juga menginstruksikan Kepala Desa menindaklanjuti apa yang menjadi kendala. Salah satunya dengan menggunakan anggaran dana desa Rp 1M untuk dimanfaatkan perbaikan infrastruktur jalan menuju rumah tanaman hias.

“Patut kita support, karena ini sumber ekonomi daerah. Selain itu, pengembangan tanaman ini bisa menjadi agro wisata,” pungkas Ade.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Terbaru