Awal 2021, Ini Masalah yang Dihadapi Petani Karet Sumatra Selatan

Risfa Izzati - Mediatani.co
  • Bagikan
Kebun Karet

Mediatani – Awal tahun 2021 masih harus dihadapi para petani karet dengan penuh rasa sabar. Pasalnya, di awal tahun para petani masih menghadapi beberapa kendala dalam produksi dan konsumsi karet yang belum pulih.

Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Disbun Provinsi Sumsel, Rudi Arpian menyampaikan bahwa sejauh ini sektor perkebunan karet masih belum pulih. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, di antaranya karena dipengaruhi oleh fenomena gugur daun tanaman karet dan banjir yang menggenangi wilayah penghasil karet di Provinsi Sumatra Selatan.

Selain permasalahan penyakit tanaman dan iklim, petani juga harus menghadapi beberapa masalah lain seperti harga karet yang masih fluktuatif hingga kegiatan ekspor yang belum maksimal karena adanya pandemi dan pembatasan wilayah. Berikut ulasannya:

  1. Produksi Menurun Akibat Penyakit Tanaman Gugur Daun pohon Karet

Penyakit tanaman gugur daun pada tanaman karet bisa disebabkan oleh serangan patogen atau hama. Sejak Bulan Desember 2020 fenomena ini mulai terjadi dan masih berlanjut hingga akhir Januari 2021. Bahkan ada prediksi yang mengatakan jika musim gugur daun ini akan tetap berlangsung hingga awal Bulan Maret 2021. Tentunya dengan adanya fenomena ini dapat mengurangi produksi perusahaan tanaman karet.

  1. Ekspor yang Belum Pulih Kembali Akibat Pandemi Covid-19
Baca Juga :   Mentan Pantau Stok Sapi Potong & Daging Beku Jelang HBKN, Siapkan Tiga Agenda Ini

Selain masalah produksi tanaman karet, pengusaha karet juga perlu memikirkan strategi baru untuk menyelesaikan masalah ekspor karet. Selama Bulan Januari 2021 permintaan global masih menjadi hal yang mempengaruhi permintaan ekspor produksi karet. Hal ini juga berdampak pada beberapa negara pengimpor karet Sumsel yang akhirnya kewalahan sebab pandemi Covid-19. Beberapa perusahaan otomotif bahkan dengan terpaksa harus menghentikan produksinya sementara waktu karena pembatasan wilayah.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKI) Sumsel, Alex K Eddy pernah menyampaikan jika saat ini faktor dominan yang mempengaruhi aktivitas ekspor karet Sumsel karena kondisi pandemi di negara pengimpor.

Beberapa negara yang selama ini menjadi negara terbesar pengimpor karet Sumsel yaitu Eropa, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan dan India. Jika negara-negara tersebut kembali melakukan pengundian wilayah seperti saat awal pandemi maka bisa dipastikan hal ini berdampak pada ekspor karet Sumsel.

Alec K Eddy mengharapkan keberhasilan vaksin yang dapat membawa pengaruh untuk menjadikan industri aktif kembali karena jika pandemi ini masih berlanjut maka akan memberi dampak pada harga karet yang semakin terpuruk. Dia juga meyakinkan jika produksi karet belum bisa berjalan normal dan saat ini permintaan belum terlalu banyak akibat industri ban masih perlu melihat perkembangan ekonomi global.

Baca Juga :   Usai Padi Diserang Wereng, Sapi Warga Jember juga Kena Imbas Racun Pestisida

Masalah ekspor dan pembatasan wilayah ini bukan hanya mempengaruhi produksi karet yang ada di Sumatra Selatan tapi juga memberi dampak pada produksi karet di Sumatera Utara.

3. Harga Karet yang Belum Aman dan Fluktuatif

Hingga saat ini harga produksi karet masih fluktuatif. Dinas Perkebunan mencatat untuk Kadar Karet Kering (K3) 100% per Jum’at (29/1/2021) mengalami penurunan harga Rp165 dengan harga berkisar Rp18.246 per kg, untuk harga indikasi karet K3 70% Rp12.785 per kg, untuk kondisi karet K3 60% Rp10.985 per kg, sedangkan kondisi karet K3 50% Rp9.132 per kg, lalu kondisi karet K3 40% Rp7.306 per kg.

Itulah beberapa kendala yang dihadapi para petani karet di awal tahun 2021 ini. Harapannya, di tengah banyaknya kendala yang dihadapi petani mampu untuk terus berusaha agar tetap berproduksi dan menjaga kualitas prduksi karet sehingga harga yang didapatkan juga layak.

  • Bagikan