Badan Pemeriksa Keuangan Bakal Awasi Proyek Cetak Sawah

Sebelumnya, kisruh terkait program pencetakan sawah menjadi wacana publik. Hal tersebut dimulai dengan terbitnya Cover Majalah Tempo dengan salah satu headlinenya tertuliskan “Bau Amis Proyek Cetak Sawah”.

457
views
ilustrasi: Salah satu pelaksanaan proyek cetak sawah. [foto: metrosulawesi.com]

Mediatani.co – Badan Pengawas Keuangan (BPK) akan terlibat dalam pengawasan program pencetakan sawah yang diprogramkan oleh kementerian pertanian pada tahun ini. Hal tersebut diwujudkan sebagai langkah untuk terwujudnya transparansi program serta keakurasian data perkembangan program.

Pasang iklan

Anggota IV BPK Rizal Djalil dalam kunjungannya ke Kementerian Pertanian, Senin (4/9) pagi mengatakan, pentingnya sebuah data pertanian terutama luas lahan, jumlah kelompok pertanian dan jumlah rumah tangga.

“Dengan data yang akurat kita bisa memprediksi produksi yang akurat dan tidak perlu impor lagi karena produksi kita cukup,” ujarnya.

Rizal menceritakan, tahun lalu ia menghadiri sidang WHO di Roma yang khusus membahas masalah data luas lahan dan lahan panen. Saat itu dilakukan pembahasan bagaimana setiap negara meningkatkan kualitas datanya.

“Saya sudah sampaikan pada pak Menteri bahwa bagaimana negara seperti Kenya sudah menggunakan satelit,” ujar dia.

Menurutnya, saat ini Kementerian Pertanian sudah bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggunakan teknologi canggih untuk memastikan luas lahan.

“Kalau kita sudah bisa memastikan luas lahan dengan akurat tentu kita bisa memastikan luas panennya juga,” terangnya.

Sementara itu, Menteri pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya telah menggunakan citra satelit selain melakukan pendataan langsung ke lapangan. Dengan begitu akan didapat data yang presisi dan akurat.

“Dari sini kita bisa lihat berapa usia tanamnya, berapa tingkat genangannya, jadi ada yang 0-15 hari dan 15-30 hari, ini lengkap,” ujar dia.

Melalui satelit tersebut pihaknya bisa melihat dengan jelas mana lahan yang belum diolah, lahan yang bisa ditanami dan lahan yang siap panen. Kementan juga tetap menggunakan mantri-mantri atau ahli pertanian di tingkat desa untum dilaporkan ke pusat karena menginginkan data yang berkualitas.

“Jangan ada yang lengah dengan kegiatan ini dan kita awasi dengan ketat kalau ada main main bisa kita tindak tegas,” katanya.

Mentan mengakui, belum lama ini salah satu staf di Kementan melakukan tindakan tidak menyenangkan terkait program cetak sawah. Ia mengelabui pihak swasta untuk mendapatkan keuntungan pribadi, namun yang bersangkutan telah dipecat.

“Sekarang kami sudah pecat orangnya, tidak boleh berkantor di Kementerian Pertanian,” tegasnya.

Program cetak sawah dalam Nawacita telah dicanangkan dengan target satu juta hektare sawah yang dibangun guna mengimbangi konversi lahan sawah dan memperluas areal sawah baru. Hal ini penting dalam mendukung peningkatan produksi pangan.

Tahun ini Amran menargetkan 40 ribu hektare cetak sawah baru. Realisasi pada 2015 adalah 20.070 hektare atau 87,26 persen. Angka realisasi cetak sawah tersebut dimulai pada September 2015. Realisasi tahun 2016 sejak Januari 2016 adalah 129.076 hektare atau 97,67 persen.

Sebelumnya, kisruh terkait program pencetakan sawah menjadi wacana publik. Hal tersebut dimulai dengan terbitnya Cover Majalah Tempo dengan salah satu headlinenya tertuliskan “Bau Amis Proyek Cetak Sawah”. Terhembus kabar bahwa terdapat oknum kementerian pertanian yang disebut-sebut bermain proyek cetak sawah dengan menjanjikan sesuatu kepada sejumlah pengusaha.