Baine Sae Movement, Bangkitkan Desa Lewat Kolaborasi Seniman dan Petani Lokal

  • Bagikan
Dellana Arievta - Baine Sae Movement
Della Arievta (berbaju hitam) di tengah peserta workshop pembuatan sabun dari ekstrak nilam di Kabupaten Toraja Utara. Kegiatan ini digagas dalam Baine Sae Movement. (Foto: ig @delllana)

Mediatani – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana seni berperan penting dalam pertanian berkelanjutan? Seperti tidak ada hubungannya bukan? Tapi, hal inilah yang sedang digagas dan dilakukan oleh Baine Sae Movement.

Melalui seni rupa (desain komunikasi visual) dipadukan dengan seni kriya, Baine Sae berkolaborasi dengan para ibu rumah tangga, komunitas petani dan artisan melakukan pengolahan sumber daya alam agar menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih.

Berawal dari keikutsertaannya menjadi salah satu peserta IKKON (Inovatif Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara) yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada tahun 2017, mendorong Dellana Arievta untuk membuat satu proyek individu yang melibatkan komunitas lokal di desa wisata Toraja, Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2018, Della mendapat kesempatan untuk terlibat dalam program Seniman Mengajar yang diadakan oleh Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Budaya). Dari pengalaman sebelumnya, yang juga berlokasi di tempat yang sama, Della banyak berdiskusi dengan komunitas lokal mengenai isu-isu sosial serta ekonomi kreatif yang potensial untuk di kembangkan di desa wisata tersebut.

baine sae di event Bekraf
Della Arievta, penggagas Baine Sae Movement bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf di sela acara pameran Inovasi Kreativitas Kolaborasi Nusantara tahun 2017 (foto: instagram @baine.sae)

Setelah melakukan observasi, Della menemukan bahwa masyarakat petani di Toraja umumnya hanya bergantung pada penjualan komoditas hasil pertanian dalam bentuk bahan baku (raw material) tanpa adanya proses pasca panen. Padahal, proses pengolahan pasca panen inilah yang justru bisa meningkatkan nilai jual sebuah produk.

Selain itu, aneka produk sovenir yang dijual di kios-kios desa wisata pun kebanyakan diproduksi di luar Toraja sehingga tidak ada diferensiasi produk antara satu kios dengan yang lainnya.

Menggalang Dukungan

Lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini, kemudian mencoba untuk mengembangkan potensi lokal yang ada dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar dan peralatan yang mudah ditemukan dan digunakan oleh masyarakat.

Proyek lokakarya di mulai dengan mengolah minyak atsiri dan minyak kelapa sebagai bahan baku pembuatan sabun natural aroma terapi kepada para ibu rumah tangga di beberapa Desa Wisata di Toraja Utara.

Baca Juga :   Cara Merawat Tanaman Hias Indoor

Awalnya hanya ada dua desa yang akan diberikan pelatihan, namun karena tersebarnya kabar adanya pelatihan pembuatan sabun organik, banyak mama-mama Toraja yang antusias untuk mengikuti.

Akhirnya lokakarya pun dilakukan di 6 desa. Desa-desa tersebut meliputi Kel. Panta’nakan Lolo, Kesu’, Landorundun, Gereja Bonoran, Panta’nakan Lolo, Sesean Suloara, Batutumonga, Lembang Nonongan, Sopai dan Sesean Matallo.

Dukungan juga datang dari pemangku adat Layuk Sarungallo di desa wisata Ke’te’ Kesu’
dan Ketua Lembaga Desa Wisata Sesean Suloara, Pak Simon dan Pong Owen, mereka berharap lokakarya tersebut bisa berkelanjutan hingga mampu dijadikan destinasi wisata baru.

Hal tersebut tentu bisa memberikan dampak yang positif bagi perekonomian warga dan menjaga kelestarian alam dengan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam yang ada.

Memanfaatkan Potensi Lokal Jadi Produk Berkualitas Tinggi

Bahan dasar produk alami berupa minyak atsiri dari daun nilam dan minyak kelapa didapat dari komunitas petani yang ada di sana. Serta untuk varian sabun organik dengan tambahan bahan seperti kayu manis, kunyit, beras hitam, beras merah, serai, kelor dan charcoal (arang) juga berasal dari hasil pertanian di desa-desa wisata Toraja.

Bahan cetakan yang digunakan pun memanfaatkan bambu. Jadi tidak perlu membeli cetakan silikon yang harganya pun lebih mahal.

Selain lokakarya pembuatan sabun alami dari rempah dan herbal, Della dan Baine Sae juga memperkenalkan produk minyak atsiri daun nilam yang diolah oleh petani lokal Toraja. Pertemuan Della dengan Pak Ardi, salah satu petani daun nilam di Makale, mencetuskan sebuah ide untuk membuat merk produk minyak atsiri patchouli (nilam) dengan mengemasnya di botol-botol kaca.

Baca Juga :   Kembangkan Pertanian Kota, Mahasiswa Unsoed Gagas Konsep Nanofarm

Dari proyek inilah, Della mendapatkan penghargaan Orbit dari Bekraf dan mendapat fasilitas atas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pada tahun 2019. Namun, ia tetap memperbolehkan masyarakat untuk menggunakan brand tersebut demi kepentingan komunitas masyarakat Toraja Utara.

Berdasarkan cerita petani di sana, petani kecil hanya memiliki lahan terbatas untuk budidaya nilam. Jadi biasanya Pak Ardi ini mengumpulkan daun-daun nilam kering dari komunitas petani dan setelahnya baru menyulingnya menjadi minyak nilam.

Produk sabun oleh baine sae
Produk sabun oleh baine sae dicetak menggunakan bambu (foto: ig @delllana)

Keinginan Pak Ardi untuk membuat produk dan brand sendiri menunjukkan sebuah visi yang bagus untuk pengembangan ekonomi kreatif lokal.

Baine Sae dan Harapan Keberlanjutan

Menurut Della, nama Baine Sae yang bermakna Perempuan Datang ini bisa menjadi media yang baik dan bermanfaat tertutama untuk mama-mama Toraja dan penerusnya untuk lebih percaya diri dan berdaya dalam mengembangkan produk lokal untuk dijual kepada wisatawan.

Mandiri dalam memproduksi hasil kerajinan tangan lokal juga diharapkan bisa terbentuk dari lokakarya ini. Jadi tidak harus mendatangkan produk-produk dari luar daerah. Ungkap Della kepada mediatani.co pada Minggu, 1 Agustus 2021.

Berikutnya, Della berharap apa yang dilakukan Baine Sae bisa berkelanjutan. Terutama setelah ia menyelesaikan studinya di MA Graphic Communication Design, Central Saint Martins, University of The Arts London dimana ada mata kuliah Participatory Design.

Della akan melakukan sebuah metode pendekatan desain yang melibatkan pengguna di sekitarnya untuk ikut terlibat dalam proses desain, mereka adalah warga lokal di desa-sesa wisata Toraja. Tujuan dari penerapan metode tersebut kelak untuk menghasilkan desain-desain yang lebih inklusif di kemudian hari.

===

Catatan Ralat:

  • Dellana Arievta, sebelumnya tertulis Della Ariefta
  • Pak Simon, Sebelumnya tertulis Pal Simon
  • Pak Ardi, sebelumnya tertulis Pak Arbi
  • Ke’te’ Kesu’, sebelumnya terulis Kete’ Kesu’
Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani