Belajar Sampai Israel, Pemuda Ini Gunakan Sistem Irigasi Tetes dan Siram Tanaman dengan Ponsel

Mediatani – NTT kembali mencetak anak muda berbakat, kali ini dari Kabupaten Sikka. Pemuda yang satu ini mulai terjun bertani holtikultura dan memanfaatkan peluang untuk menimba ilmu pertanian di luar daerah bahkan di luar negeri.

Anak muda yang satu ini bernama Yance Maring, ia merupakan jebolan Politani Kupang dan menimba ilmu pertanian di Israel termasuk sistem irigasi tetes dan menerapkannya setelah kembali ke kampung halaman

Di daerah yang kesulitan air, sistem irigasi tetes sangat cocok diterapkan dan menghemat tenaga, namun membutuhkan biaya yang lebih mahal untuk membeli selangnya.

Selain menggunakan sistem irigasi tetes, Yance Maring juga menggunakan teknologi Short Message Service dan Wifi untuk melakukan penyiraman dan pemupukan tanaman di lahan pertanian miliknya.

Lahan pertanian holtikultura seluas sehektar  yang ditanami tomat dan lombok bisa kalian lihat ketika menyusuri rumah-rumah mewah di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Di antara bedeng tanaman tomat yang siap panen, terdapat beberapa semangka dengan sistem tumpang sari yang sedang berbuah. Lahan dibagi dua dengan pembatas jalan selebar kurang lebih 2 meter. Hamparan bedeng di sisi timur baru ditanami lombok. Banyak bedeng yang belum ditanami.

“Lahan di sebelah utara saya tanami jagung dan penyiramannya masih secara manual,” sebut Yance Maring, petani holtikultura saat berbincang bersama Mongabay Indonesia di pondok sederhana di kebunnya, Jumat (26/7/2020).

Tekad Yance untuk bertani berawal ketika tahun 2018 bulan Oktober ia dinyatakan lulus tes dan berangkat ke Israel dengan biaya satu lembaga. Dari 100 peserta, 30 orang berasal dari NTT dan 51 orang dari Ambon dan Sumatera. 

Selama 9 bulan di Israel, Yance di ditempatkan di Ein Yahav, wilayah pertanian atau Moshav. Di Israel, mereka kuliah sambil praktek. Dalam seminggu sehari kuliah di Arava International Center of Agriculture Training (AICAT) dan 5 hari praktek di lapangan.

Para pelajar ini masuk kategori diploma dan membayar biaya kuliah sebesar 10 ribu Shekel. Saat praktek di lahan pertanian para mahasiswa ini dibayar sebulan sekitar Rp.20 juta atau sekitar 5 ribu Shekel.

“Saya pulang Juli 2019 bawa modal Rp.50 juta, langsung menanam holtikultura. Saya mengalami gagal panen dan modal habis sehingga pinjam uang di bank Rp.25 juta lagi tetapi habis juga. Gagal panen terjadi karena persediaan air tidak mencukupi,” ungkap Yance.

Baca Juga  Klarifikasi Menteri Pertanian Terkait Penarikan Traktor di Ponorogo

Sistem irigasi tetes yang dipelajari di Israel kemudian dia terapkan di rumah. Ia mulai mengebor air di rumah saudaranya yang berjarak sekitar 30 meter dari kebun. Dia mulai mengolah lahan lagi pada April 2020 dan tanam pada Mei 2020.

Ratusan bedeng tomat terlihat sedang memasuki masa panen. Selain tomat, terdapat cabe keriting, cabe rawit, semangka dan jagung. Ribuan pohon tanaman holtikultura ditanam dengan waktu berbeda agar ketersediaan stok panen tetap ada.

“Kelebihan irigasi tetes, hemat air dan tenaga tapi butuh investasi cukup besar. Saya pertama memakai selang irigasi sederhana tetapi kekuatan airnya tidak bisa meskipun menggunakan beberapa mesin pompa,” sebutnya.

Yance mengaku, untuk lahan sehektar, ia harus mengeluarkan modal hampir Rp.50 juta untuk menyewa lahan, membajak tanah, membeli benih dan pupuk serta membeli selang irigasi tetes.

Sumber airnya berasal dari sumur bor yang dipompa dan dialirkan melalui pipa untuk ditampung di profil tank atau tandon yang diletakan di ketinggian ± 3 M. Air lalu dialirkan ke kebun menggunakan sistem gravitasi.

“Semua selang dan peralatannya dibeli di Cina menggunakan internet dan menghabiskan uang Rp.30 juta. Bila ditambah pupuk dan benih serta bajak lahan bisa habis Rp.50 juta,” terangnya.

Gunakan Teknologi

Yance mencari cara agar bisa menggunakan teknologi seperti di Israel yang menggunakan sistem komputerisasi dalam melakukan penyiraman dan pemumpukan tanaman di lahan pertaniannya.

Untuk membuat teknologi itu, Yance membeli alat rakitan seorang alumni ITB Bandung melalui internet yang dinamakan modul SMS. Dia gunakan solenoid valve, keran air otomatis untuk dihubungkan ke timer dan internet.

Jaringan selang irigasi tetes dan pipa dihubungkan ke timer dan Wifi serta ventury injector untuk pencampuran pupuk dan melakukan pemupukan, membuat semua pekerjaan jadi lebih mudah.

“Di alat modul SMS saya pasangkan juga kartu telepon selular. Bila hendak menyiram tanaman dan melakukan pemumpukan maka saya hanya kirim SMS atau layanan pesan pendek saja ke modulnya lalu tanaman disiram dan dipupuk secara otomatis,” terangnya.

Yance menjelaskan, modul SMS dan Wifi itu berfungsi untuk mengontrol pengairan dan pemupukan atau semacam remote control. Kalau menggunakan Wifi, radiusnya 100 meter  tetapi kalau SMS dimana saja ada sinyal telepon selular bisa mengirim pesan.

Baca Juga  Berburu Data di 100 Hari Kepemimpinan Kementan

Yance mengakui, menggunakan irigasi tetes, bagian atas bedeng kelihatan kering tetapi di dalamnya basah dan betul-betul air dan pupuk diserap akar tanaman.

Selain itu sambungnya, tidak terjadi erosi karena airnya meresap ke dalam batang pohon dimana berbeda dengan  menyiram tanaman menggunakan selang. Rumput pun tidak banyak tumbuh.

“Satu hari siram tanaman 2 kali, pagi dan sore sekitar 10 menit. Setelah musim tanam berikut dan memasuki musim hujan, saya mulai mempergunakan plastik mulsa. Bila hasil panen bagus, tahun depan saya akan cari lahan lagi untuk dikontrak,” ungkapnya

Penggunaan Sumber Daya Efektif

Kepala Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere Yoseph Yacob Da Rato, kepada Mongabay Indonesia, Senin (29/6/2020) menyebutkan irigasi tetes keuntungan yang utama adalah penggunaan sumber daya secara efektif.

Sumber daya utama pada pertanian  sebut Yoyo adalah air dan unsur hara tanah yang harus digunakan secara efisien sebab kekurangan air dan unsur hara tanah dapat menyebabkan gagal panen.

Irigasi tetes harus dikelola dan dikontrol secara rinci dan tepat. Menggunakan mesin yang dihubungkan dengan jaringan digital (android), petani bisa mengukur, dan mendeteksi dari dini kekurangan komponen-kompenen utama dalam pertanian ini.

“Dengan begitu secara efisien bisa mengelola penggunaan energi yang digunakan. Semuanya pun dilakukan secara real-time,” ucapnya.

Dampak penggunaan teknologi kata Yoyo yakni terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja. Otomatisasi ucapnya, berdampak pada pendapatan ekonomi buruh tani.

“Biaya pengadaan komponen irigasi tetes cukup mahal (tergantung luas lahan) namun cukup sulit dijangkau oleh petani kecil. NTT sangat cocok untuk optimasi produk karena lahan kering membutuhkan pemanfaatan air dan pupuk yang efektif dan efisien,” terangnya.

Sedangkan Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung mengatakan irigasi tetes cocok untuk daerah yang kesulitan air. Sementara daerah yang banyak air, saran Wim sapaannya, lebih baik menggunakan sprinkler karena biayanya lebih murah.

Irigasi tetes prinsipnya air langsung menetes ke akar. Namun jarak tanamnya harus disesuaikan dengan lubang selang dan bisa juga menggunakan selang biasa dan dilubangi sendiri.

“Ada  selang drip produksi pabrik yang sudah ada lubangnya tapi harga selang ini pun pasti lebih mahal. Namun kelebihannya lubang dibuat dengan teknologi canggih sehingga semburan airnya seragam,” pungkasnya.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Terbaru