Mediatani – Anjloknya harga sayur terus membuat para petani di sentra sayur mayur kawasan agropolitan Sukamantri Ciamis didera kerugian besar selama sebulan ini. Di daerah Ciamis Utara, hampir seluruh jenis sayur mayur mengalami harga yang turun drastis.

Sebulan lalu, harga berbagai jenis cabai masih sekitar Rp 15.000/kg, kini hanya Rp 5.000/kg, sedangkan tomat Rp 500/kg, pecai (sawi) Rp 300/kg, lobak Rp 300/kg, dan kubis Rp 300/kg.

“Itu harga di tingkat petani, sayur mayur sudah tidak laku dijual. Kalau dijual juga harganya murah, lebih murah dari upah petik (panen). Petani sekarang benar-benar kebingungan. Mau bangkit modal sudah menipis terkikis rugi,” ungkap Pipin Arif Apilin, petani cabai dan sayur mayur yang juga Ketua Gapoktan “Karangsari” Desa Cibeureum Sukamantri Ciamis, dilansir dari Tribun Kamis (27/8).

Ia juga mengatakan, harga cabai semula sempat Rp 15.000/kg di tingkat petani. Namun pasca-Iduladha harga berbagai jenis cabai terus menerus merosot. Sedangkan saat ini, harga cabai rata-rata Rp 5.000 sampai Rp 6.000/kg. Baik itu cabai merah keriting, cabai besar TW, cabai lokal maupun cabai rawit. 

“Sementara biaya pokok produksi (BPP) rata-rata Rp 8.000/kg. Belum lagi ongkos petik (panen),” jelasnya.

Tidak hanya itu, Pipin juga mengatakan bahwa saat ini para petani tengah menghadapi dilema, dipanen rugi tidak dipanen juga rugi. Akhirnya banyak petani cabai yang membiarkan tanaman cabai mereka matang dan busuk di pohon. Ada sekitar 20 hektare kebun cabai yang terpaksa ditelantarkan petani atau malah dicabuti tanaman cabainya.

Untuk sayuran tomat juga demikian, sekitar 10 hektare kebun tomat juga ditelantarkan para petani di Sukamantri menyusul anjloknya harga tomat dari Rp 2.000/kg jadi Rp 500/kg. Dengan harga tersebut, menurutnya hanya akan membuang tenaga.

”Tidak pulang modal. Jadi tomatnya dibiarkan matang dan busuk di kebun,” ujar Pipin.

Begitupun juga dengan harga kubis (kol) yang terjun bebas dari Rp 4.000-Rp 5.000/kg kini hampir sebulan ini hanya Rp 300/kg. 1 kg kubis harganya setara satu biji permen.

Pipin sendiri memiliki kebun kubis seluas 1 hektare yang sedang dalam masa panen. Karena menurutnya harganya sudah tidak logis, terpaksa ia hanya menelantarkan atau mempersilahkan warga yang mau silakan ambil sendiri. 

“Hari ini ada satu mobil kubis dibawa ke Cimaragas sekitar 2 ton. Silakan panen sendiri, bawa sendiri. Sudah ada sekitar 10 ton (kubis) yang dibagi-bagikan secara gratis,” ujar Pipin.

Belum lagi harga lobak dan pecai (sawi) harganya juga rata-rata Rp 300/kg. Menurut Pipin, petani sudah tidak bisa berkutik menyusul anjloknya harga berbagai jenis sayur mayur tersebut.

Menurutnya, dampak covid yang berkepanjangan membuat rendahnya daya serap pasar sehingga harga berbagai jenis sayur mayur tersebut terus merosot. Sementara hasil panen banyak dan merata di berbagai sentra sayur mayur. 

“Sekarang lagi musim panen di berbagai sentra sayur mayur. Barang banyak, sementara daya serap pasar rendah. Dampaknya sudah sangat dirasakan, harga jatuh tak kira-kira. Dalam kondisi saat ini sebenarnya petani sangat butuh perhatian dari pemerintah,” katanya.

Sejumlah komoditas sayuran seperti cabai dan bawang merah di beberapa pasar tradisional di Kota Sukabumi menurun sekitar 5-10 persen.

Pedagang di eks Pasar Pelita, Tomi (41) mengatakan, setelah perayaan Hari Raya Iduladha 1441 H, harga sayuran seperti cabai tw, cabai keriting, dan cabai merah hingga bawang merah turun sebesar Rp 5.000-10.000 per kilogram.

“Harga cabai keriting dari Rp 20.000 jadi Rp 15.000 per kilogram, cabai tw semula Rp 30.000 menjadi Rp 18.000 per kilogram, dan bawang merah dari Rp 44.000 turun ke harga Rp 25.000 per kilogram,” ujar Tomi saat ditemui di pasar tersebut, Selasa (25/8/2020).

Berbeda dengan harga beberapa cabai, kata dia, harga bawang putih malah meningkat dari Rp 15.000 menjadi Rp 22.000 per kilogram. Padahal harga cabai-cabai tersebut normalnya berada di atas Rp 25.000 per kilogram. 

Menurut Tomi, menyusutnya harga komoditas sayuran sejak satu pekan lalu karena daya beli masyarakat yang menurun sekitar 30 persen.

“Sebelum harganya turun, setiap satu jenis sayuran saya menjual sekitar 25-30 kilogram per hari. Tapi untuk saat ini hanya bisa menjual 10 kilogram per hari,” ungkapnya.

Tomi menambahkan, stok komoditas sayuran yang dipasok dari wilayah Bandung dan sekitar Sukabumi tersebut hingga kini masih aman bahkan sangat melimpah. 

Terancam Gulung Tikar

Keluhan petani yang lain juga muncul di Kampung Cibodas, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mereka mengeluhkan harga di pasaran yang anjlok, bahkan terbilang murah dalam beberapa bulan terakhir ini.

Salah seorang petani yang ditemui di kebun, Tihar (50) mengatakan kondisi yang tak menguntungkan sudah dirasakan dua bulan terakhir semenjak munculnya wabah pendemi korona.

“Semua jenis sayuran sekarang harganya anjlok udah dua bulan. Jenis sayuran itu seperti cabai, tomat, cengek, brokoli dan jenis lalaban lainnya,” ujarnya dikutip dari Tribun Jabar, Sabtu (22/8/2020).

Petani biasanya menjual tomat dengan harga Rp 9 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 1 ribu sampai per kilogram bahkan pernah hingga Rp. 600. Harga cabai yang biasanya Rp 30-40 ribu per kilogram kini menjadi Rp 7 ribu per kilogram.

Tihar mengungkapkan untuk semua jenis sayuran seperti buah tomat tidak dipanen dan dibiarkan membusuk di kebun, karena menurutnya penghasilan yang didapat sangat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Dilokasi, buah tomat yang sudah siap dipanen, dibiarkan oleh para petaninya. Dirinya mengaku untuk sekali panen dirinya harus mengeluarkan biaya operasional hingga Rp 130 juta, itu untuk menggarap lahan 2 hektare miliknya yang ditanami tomat dan cabai.

“Kalau harganya Rp 5 ribu, biasanya dapat sampai Rp 300 juta sekali panen. Kalau sekarang buat modal aja belum balik sepeser pun,” katanya.

Tihar mengatakan akibat anjloknya harga sayuran itu dikarenakan selain akibat pendemi korona, itu juga disebabkan daya beli masyarakat yang semakin kurang.

Hingga saat ini, Tihar mengungkap dari pihak pemerintah juga belum ada bantuan sama sekali kepada para petani khususnya Lembang.

Jika hal tersebut terus terjadi, ia memprediksi jika dua bulan kedepan kondisi jual harga sayuran semakin turun, para petani menengah ke bawah akan gulung tikar lantaran kehabisan modal.

“Karena kondisinya kaya gini, jadi lebih banyak di rumah. Jadi stres juga modalnya gak balik,” ujar Tihar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here