Hasil Tangkapan Nelayan di Pangandaran Ini Tidak Cukup Beli Kebutuhan Pokok

  • Bagikan
Nelayan di Pangandaran
Nelayan di Pangandaran

Mediatani – Manto (54) salah satu nelayan di Pangandaran menceritakan kisah hidupnya yang sulit lantaran hasil tangkapan ikannya yang menurun semenjak pandemi Covid-19.

Nelayan yang merupakan warga Pananjung, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran ini telah berprofesi sebagai seorang nelayan sejak tahun 1990. Manto mengaku sebelum menggeluti pekerjaan itu, ia hanya ikut bersama ayahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama pergi melaut, ia dibantu oleh 19 teman nelayan lainnya untuk menjaring ikan. Ikan hasil tangkapannya itu biasanya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Ia bahkan telah mempunyai seorang cucu.

Menurut Manto, hasil tangkapan ikan pada tahun ini sudah menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya yang bisa terbilang cukup banyak setiap kali melaut.

“Saat ini saja, kadang kita pulang masing-masing orang bawa uang Rp 40 ribu, Rp 20 ribu, Rp 5 ribu malah kadang tak bawa uang sama sekali,” ungkap Manto, dilansir dari TribunJabar, Kamis (29/7/2021).

Padahal, hasil yang diperolehnya itu setelah menjaring ikan sebanyak tiga hingga lima kali dalam sehari. Ia mengatakan jaring yang dilepaskannya itu kerap mendapat hasil yang sedikit bahkan nihil.

“Jaring pertama kosong ikannya, jaring kedua ada tapi sedikit dan kadang kita menunggu sampai sore,” katanya.

Baca Juga :   Kebijakan Subsidi Pertanian Tidak Efektif Turunkan Harga Pangan

Sedangkan, lanjut Manto, ia juga harus membayar setoran ke bos yang menyewakan alat penangkap ikan termasuk perahu itu kepada dirinya dan teman nelayan lainnya.

“Ya masih bersyukur, kalau kita sehari bisa mendapat Rp 600 Ribu. Kalau dikurangi Rp 200 ribu untuk bayar bos dan operasional, mendingan masih ada sisa Rp 400 ribu untuk dibagi 20 orang. Tapi kalau dapatnya hanya Rp 200 ribu, uang itu habis untuk biaya sewa dan operasionalnya. Belum, ingin kopi,” jelasnya.

Jika dalam sehari Manto tidak dapat uang sama sekali, kadang-kadang Ia terpaksa meminjam uang ke bos ataupun ke tetangganya untuk membeli keperluan pokok keluarganya.

Manto juga menjelaskan, ketika cuaca sedang bagus, ia bisa memperoleh hasil tangkapan ikan yang cukup lumayan, yakni minimal Rp 60 Ribu sampai Rp 100 ribu lebih per orang nelayan.

“Tapi akhir-akhir ini kan cuaca sedang jelek, tentu pendapatannya juga berkurang kadang malah tidak dapat. Pokonya, semenjak ada penyakit Corona lah berkurangnya. Ga tau kenapa, aneh juga. Kondisi alamnya juga mungkin yang sudah tua,” ucapnya.

Buruh kapal pesiar alih profesi jadi nelayan di Pangandaran

Diketahui, buruh kapal pesiar di pantai barat Pangandaran selama masa pandemi ini banyak yang beralih profesi menjadi nelayan penangkap ikan. Mereka beralihnya profesi lantaran sepinya pengunjung objek wisata di Pangandaran bahkan telah ditutup sementara.

Baca Juga :   Jaga Ekosistem Pesisir, KKP Tanam 43.500 Bibit Mangrove di Pasuruan

Mirisnya, meskipun mereka bekerja sebagai nelayan, ikan hasil tangkapannya saat ini sangat minim. Hal tersebut tentu berdampak pada pendapatan mereka yang digunakan untuk membeli kebutuhan hidup.

Kondisi ini pun membuat para nelayan mengeluh, apalagi ketika jaring yang ditariknya kebanyakan berisi sampah. Hal itu jugalah yang dialami oleh Hartono (45), salah satu buruh kapal yang beralih menjadi nelayan. Ia mengatakan bahwa hasil tangkapan ikannya saat ini tidak menentu, bahkan sering hanya mendapat sedikit.

“Malah, kadang tak dapat. Sekarang saja bisa dilihat, hasil menjaringnya cuma dapat ikan sedikit dan banyak sampahnya,” ujar Hartono, Sabtu (17/7/2021).

Hartono menduga, kondisi hasil tangkapan yang kurang itu kemungkinan disebabkan karena faktor cuaca. Dirinya yang setiap hari melaut kadang bisa mendapat ikan dan kadang juga pulang tanpa membawa apapun.

“Seperti sekarang, selain sampah yang didapat, ikannya kebanyakan berukuran kecil dan sedikit lagi. Sudah lockdown, mencari uang susahnya minta ampun,” ungkapnya.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani