Home / Nasional

Rabu, 26 Juli 2017 - 12:18 WIB

HKTI Minta Ubah Strategi Subsidi

Mediatani.co – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko meminta pemerintah mengubah skema subsidi ke petani. Sebab skema subsidi yang selama ini berjalan dinilai tidak efektif dan tidak berdampak pada kesejahteraan petani.

Moeldoko mengatakan, skema subsidi yang diberikan melalui pupuk dan benih tidak dirasakan secara signifikan oleh para petani. Anggaran subsidi tersebut dinilai lebih banyak menguap dan tidak tepat sasaran.

“Selama ini melalui subsidi pupuk benih itu tidak signifikan dirasakan petani. Kecuali kalau betul-betul subsidi bisa dinikmati 100 persen. Betul itu berjalan mekanismenya enggak perlu ada tentara mengawasinya, tidak perlu polisi mengawasinya. ‎Karena tidak berjalan itulah ada aparat yang diturunkan. Sejatinya enggak perlu,” ujar dia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017).‎

Baca Juga :   IKA Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Sukses Menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram

Menurut Moeldoko, hal yang diinginkan petani justru harga yang menguntungkan saat menjual hasil panen. Sebagai contoh, jika standar harga untuk gabah dipatok sebesar Rp 3.700 per kg, maka lebih baik anggaran subsidi pemerintah digunakan untuk membeli gabah petani dengan harga yang lebih tinggi.

“Justru yang diinginkan adalah melindungi harga saat pasca panen. Jangan lagi harga ditentukan Rp 3.700, mungkin harganya disubsidi bisa dua kali lipat. Jadi tidak ada lagi subsidi benih, subsidi pupuk yang jumlahnya Rp 31 triliun, mungkin lebih bagus dialihkan ke harga gabah yang lebih baik sehingga pendapatan petani menjadi ada kepastian, naik,” jelas dia.

Baca Juga :   Ingin Kaya Raya, Bertani Solusinya

Dia mengungkapkan, harga gabah yang dibeli lebih tinggi dari standar harga saat ini dinilai akan lebih dirasakan manfaatnya oleh petani. Dengan demikian, petani tidak khawatir akan tekanan harga yang biasanya dilakukan oleh para tengkulak.

“Petani itu butuh pupuk, tapi dari pada subsidi itu banyak menguap. Lebih bagus jelas kami berikan saja harga saat panen mungkin Rp 3.700/kg jadikan saja Rp 5.000/kg atau Rp 6.000/kg. Itu petani langsung menikmati, tapi sekarang ada subsidi tak semua petani menikmati. Subsidi ada Rp 31 triliun apakah sampai apa tidak. Daripada tidak menikmati, mending harga yang diperbaiki saat panen,” tandas dia.

Sumber : liputan6.com

Share :

Baca Juga

Nasional

Gara-gara Pandemi, Kolam Renang Ini Alih Fungsi Jadi Kolam Lele

Berita

Apakah Jokowi Berpihak Kepada Petani

Nasional

Bau Ternak Ayam Resahkan Warga Bone, Pemerintah Setempat Saling Lempar Tanggung Jawab

Berita

PBNU : Negara Belum Hadir Di Sektor Pertanian

Nasional

Harga Sayur Anjlok, Petani Cirebon Kebingungan

Nasional

Lahan Pertanian di Tengah Kota Metropolitan Surabaya

Agribisnis

Ini Dia Trik Jitu Menjadi Petani Wijen yang Sukses

Berita

Kandang Peternakan Ayam Ini Jadi Lokasi Pengungsian di Majene