Ini Alasan Mengapa Indonesia Terlalu Bergantung dari Impor Daging Sapi Australia

  • Bagikan
ilustrasi daging sapi impor/ist

Mediatani – Selama puluhan tahun, Indonesia diketahui terlalu bergantung pada pasokan impor sapi dari Australia. Di pasaran Jabodetabek yang permintaanya paling tinggi misalnya, dominannya adalah daging sapi yang dijual ialah daging sapi yang berasal dari pemotongan sapi bakalan asal Australia yang juga digemukan oleh perusahaan-perusahaan penggemukan sapi atau feedloter swasta.

Dilansir Selasa (26/1/2021) dari situs kompas.com, menyebutkan Perusahaan feedloter Indonesia pada umumnya mengimpor sapi bakalan dari Australia dengan berat di kisaran 350 kg.

Sapi-sapi bakalan tersebut lalu kemudian dilakukan penggemukan di Indonesia sampai kondisinya siap masuk rumah potong dengan beratnya berkisar 450-500 kg.

Dikutip dari situs yang sama yang melansir Harian Kompas, Senin (25/1/2021), bahwa Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Djoni Liano, mengungkap Indonesia sendiri belum bisa melepaskan ketergantungannya terhadap sapi impor yang mayoritas berasal dari Australia.

Djoni membeberkan, sebabnya rerata pertumbuhan konsumsi daging sapi sekitar 8,1 persen per tahun, sementara pertumbuhan produksi daging sapi lokal sendiri berkisar 5 persen per tahun.

Menurutnya, jumlah impor sapi bakalan asal Australia akan tetap tinggi meski ada penurunan di tahun 2020.

Sapi-sapi bakalan yang diimpor pada tahun lalu itu kini jadi stok persediaan daging di tahun 2021 setelah melewati masa penggemukan.

Berdasarkan data yang dihimpun Gapuspindo, tercatat ekspor sapi bakalan dari Australia diperkirakan turun dari 1,3 juta ekor tahun 2019 menjadi 900.000 ekor pada tahun 2020. Sebanyak 60 persen di antaranya diserap di Indonesia.

Baca Juga :   Inspiratif! Politisi Ini Diam-diam Tanam Porang dan Berhasil, Kini Buat Sekolah Porang Gratis (1)

”Australia saat ini lagi membatasi ekspor karena produsen sapi di sana mau memulihkan populasinya. Padahal, permintaan global terhadap daging sapi meningkat. Dampaknya, harga melambung. Negara mana yang sanggup membayar dengan harga yang ada maka sudah tentu akan mendapatkannya (sapi bakalan),” ungkap Djoni.

Dikutip dari laman yang sama yang mengutip dari Indonesia Australia Red Meat and Cattle Partnership, industri peternakan sapi Australia lagi meningkatkan populasi (restock). Jadi harga sapi hidup melonjak ke angka yang disebut sebagai yang tertinggi dalam sejarah.

Populasi di sejumlah industri peternakan sekitar 30 persen dari kapasitas.

Imbasnya, menurut Djoni, harga beli sapi potong meningkat. Pada Juli 2020 saja harganya tercatat 3,2 dollar AS per kilogram berat hidup. Saat ini, harganya sekitar 3,95 dollar AS per kg berat hidup.

Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia, angka itu sudah setara Rp 55.556 per kg. Sementara, harga beli yang sanggup diserap pemotong berkisar Rp 50.000 per kg berat hidup.

Impor daging kerbau India

Pemerintah sendiri sudah berusaha mencoba mengurangi ketergantungan sapi impor asal Australia, satu di antara caranya, ialah dengan mengimpor daging kerbau dari India.

Daging kerbau dari Indonesia memang jauh lebih murah ketimbang sapi impor dari Australia. Bulog saja, setiap tahun diizinkan mengimpor ratusan ribu ton daging kerbau India.

Meski begitu, impor daging kerbau India ini juga nyatanya tak cukup efektif menurunkan ketergantungan pada daging sapi impor asal Australia.

Baca Juga :   Menko Perekonomian dan Mentan Salurkan 20 Ribu DOC Ayam Petelur ke Rumah Tangga Miskin

Presiden Jokowi sendiri sempat melontarkan janji untuk menurunkan harga daging di bawah Rp 80.000 per kg. Presiden juga menjanjikan bahwa Indonesia mampu swasembada daging sapi dalam beberapa tahun.

Selain itu, pemerintah juga terus menjajaki impor sapi bakalan dari negara lain yang populasi ternak sapinya cukup besar.

Masih dari sumber yang sama yang melansir dari Antara, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag Syailendra, mengatakan bahwa mahalnya harga daging sapi diatasi dengan mencari alternatif sumber daging maupun sapi bakalan dari negara lain, misalnya impor daging dari India, Brazil, dan bahkan sapi dari Meksiko.

“Ini yang tengah kami jajaki ke depan, bukan hanya dalam jangka pendek, namun juga dalam rangka mengisi stok Ramadhan dan Idul Fitri,” jelas dia.

Ketua Dewan Gapuspindo Didiek Purwanto mengungkapkan, pihaknya memang telah menaikkan harga daging seiring dengan naiknya harga sapi impor dari Australia.

Didiek menjelaskan, sejak harga sapi impor Australia menyentuh level terendah 2,5 dolar AS per kilogram hidup, maka terjadi peningkatan harga hingga 3,8 dolar AS per kilogram atau setara dengan Rp55.460 per kilogram pada akhir Desember 2020.

“Sehingga, sebagian anggota kami sudah tak bisa lagi lakukan impor dari Australia dan membuat adanya lonjakan harga setelah pada 2019-2020 tidak ada lonjakan harga. Kami pun berharap agar ke depannya ada alternatif negara yang bisa impor sapi di tengah kondisi impor dari Australia,” ujar Didiek. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani