Foto: Petani sedang menanam padi

Mediatani – Di tengah pandemi Covid-19 ini, hampir semua sektor perekonomian mengalami kelumpuhan atau penurunan. Namun sektor pertanian mencatat hal yang berbeda. Dibanding tahun 2019 lalu, sektor pertanian di tahun 2020 ini tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 16,4 persen. Hal tersebut terjadi karena sektor pertanian tak lepas dari kebutuhan dasar manusia.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Diberitakan Kompas.com (7/8/2020), BPS mencatat, sepanjang April-Juni 2020, kinerja sektor pertanian tumbuh 2,19 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15,46 persen, menjadi sektor terbesar kedua.

Akan tetapi, hal yang berbeda justru terjadi di lapangan. Tumbuhnya sektor pertanian tersebut ternyata tak berbanding lurus dengan kehidupan petani. Seperti halnya yang dialami oleh petani kubis di sentra produksi Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan Jawa Timur. Di saat memasuki musim panen, harga kubis malah merosot drastis di tingkat petani.

Pairan, petani kubis di desa tersebut, mengatakan saat ini harga kubis di tingkat petani hanya berkisar Rp 1.000 – Rp 2.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya harga kubis masih di kisaran Rp 3.000 – Rp 5.000 per kilogram. Dengan harga yang teramat rendah itu, petani merugi lantaran hasil yang didapat tidak sesuai dengan biaya tanam yang dikeluarkan.

Di daerah lain, diberitakan Kompas.com (7/8/2020), Jono, seorang petani cabai di lereng Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, mengatakan bahwa harga jual cabai anjlok. Harga jual cabai rawit turun drastis menjadi Rp 7.000 per kilogram. Padahal harga normal cabai awalnya bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram. Turunnya harga cabai tersebut jelas membuat petani mengalami kesulitan.

Menurutnya, salah satu permasalahannya yaitu karena tersendatnya penjualan cabai ke luar Boyolali. Sebelumnya, cabai petani Boyolali itu bisa menembus pasar hingga Jakarta dan Kalimantan. Dia juga mengungkapkan, rendahnya permintaan dari konsumen, dan kendala saat proses distribusi akhirnya membuat harga cabai hancur.

Terkait kerugian yang dialami petani, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Pemuda Tani HKTI Rina Saadah angkat bicara. Rina mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan kerugian para petani, diantaranya memang disebabkan oleh faktor distribusi dan selain itu menurunnya daya beli masyarakat.

“Kadang dari daerah ini bisa surplus, dari daerah lainnya bisa kurang. Dari sisi logistiknya saja yang menjadi PR kita itu,” kata Rina dilansir dari Kompas.com, Sabtu (12/9/2020).

Hal lain yang perlu juga dicermati, menurut Rina, yakni perubahan pola perilaku konsumen atau consumer behavior. Jika dilihat dari sisi kebiasaan konsumsinya, masyarakat di masa pandemi ini cenderung kembali ke pola hidup sehat yaitu mengkonsumsi sayuran, ikan, dan daging.

Untuk menangani masalah distribusi tersebut, dia mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk mengucurkan bantuan, dalam bentuk pembelian produk-produk hasil panen petani, dan kemudian disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk bantuan sosial.

“Ini bisa dimanfaatkan juga oleh pemerintah untuk mengangkat kembali daya beli masyarakat. Khususnya, agar petani kita bisa berjalan lagi kegiatan pertaniannya dengan membeli produk-produk mereka.Selain itu, supaya dalam masa pandemi ini ekonomi kita bisa tetap berputar,” katanya lagi.

Inovasi Produk Pertanian

Rina menilai, untuk menggenjot keuntungan di sektor pertanian harus ada variasi produk bernilai tambah dari hasil pertanian. Rina mencontohkan olahan-olahan produk pertanian seperti jajanan atau cemilan. Produk-produk seperti itu jika dikemas dengan bagus dan menarik, menurutnya akan digemari anak oleh muda.

Terkait masalah distribusi, menurutnya pemanfaatan platform digital merupakan solusi untuk mengatasi distribusi hasil panen atau produk pertanian tersebut. Apalagi di masa pandemi ini consumer behavior masyarakat Indonesia lebih memilih untuk belanja online.

“Ini bisa dimanfaatkan, khususnya oleh generasi muda untuk ikut memasarkan produk-produk pertanian melalui e-commerce supaya daya jangkaunya lebih luas, dan juga pelatihan untuk para petani kita untuk terus berinovasi dan melek teknologi,” kata Rina.

Kemudian untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi yang diprediksi mengalami resesi di kuartal III 2020, Rina menyebut harus ada peningkatan produksi di sektor pangan. Ia mengatakan pasokan pangan nasional harus ditingkatkan 3-9 kali lipat. Sehingga ketika resesi terjadi, stok pangan Indonesia masih mencukupi.

Rina menilai, bahwa masa pandemi ini juga bisa dianggap sebagai peluang sekaligus tantangan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Dari sisi ketenagakerjaan, menurutnya sektor pertanian dan perikanan ini paling sedikit terdampak, dibanding sektor-sektor lain yang mengalami PHK besar-besaran terjadi di perusahaan swasta, pabrik, dan lain sebagainya.

“Saya rasa pertanian ini menjadi sektor unggulan, supaya masyarakat kita kembali bertani. Sekarang kan banyak dari kota-kota besar kembali ke daerah untuk menjadi petani,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here