Kemendag Dorong Industri Peternakan Ayam Ras yang Terintegrasi, Untungkan Peternak dan Konsumen

  • Bagikan
Ilustrasi. Peternakan Ayam/IST

Mediatani – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong industri peternakan ayam ras yang menguntungkan semua pihak (Peternak juga konsumen). Peternak bisa menikmati keuntungan yang wajar dan masyarakat bisa memperoleh harga yang terjangkau.

Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga menuturkan bahwa perlu adanya transformasi pada ekosistem perunggasan agar lebih efisien dan kompetitif. Dengan begitu, maka industri peternakan tidak hanya berdampak positif di dalam negeri, namun juga dapat bersaing di level global.

“Menurut saya, tren usaha di sektor perunggasan menuju ke arah yang lebih integratif dari hulu hingga hilir. Sistem yang terintegrasi ini memungkinkan adanya efisiensi dari sisi produksi dan perdagangan sehingga masyarakat bisa menikmati harga yang lebih kompetitif,” katanya, Rabu (3/3/2021) dikutip Kamis (4/3/2021) dari situs inews.id.

Hal itu disampaikan dalam acara Panitia Rembug Perunggasan Nasional (Pinsar). Hadir dalam acara itu Ketua Pinsar sekaligus anggota Komisi VI DPR, Singgih Januratmoko, Herry Dermawan Ketua Umum GOPAN, Dirjen PDN Kemendag Syailendra, dan Dirjen PKH Kementan Nasrullah serta perwakilan Satgas Pangan.

Dalam ekosistem itu, pelaku usaha perunggasan khususnya peternak dan pedagang kecil perlu diberikan peran yang sesuai. Selain itu, diperlukan juga sistem logistik yang baik untuk mendukung pembaharuan di sektor perunggasan ini.

Baca Juga :   Penuhi Permintaan Jepang, Perum Perindo Akan Ekspor 4,5 Juta Kilogram Ikan

Kemendag sudah meluncurkan Sistem Resi Gudang (SRG) termasuk di sektor perunggasan. Beberapa waktu lalu, SRG untuk ayam di Cianjur diresmikan untuk menopang perdagangan ayam potong untuk daerah Cianjur, Bogor dan sekitarnya.

Wamendag berharap perihal perlunya penyempurnaan sistem logistik perunggasan dengan penyediaan data yang lebih integratif yang bisa menjadi rujukan. Data tersebut penting sebagai dasar pembuatan kebijakan.

Selain itu juga, data yang terpercaya dan integratif akan mendukung pelaku usaha untuk menentukan sistem produksi dan perdagangan mereka.

Dari sisi konsumsi, Wamendag menilai perlu usaha agar konsumsi unggas di masyarakat terus dikampanyekan. Hal ini untuk mencapai konsumsi per kapita yang ideal.  Lantaran, daging ayam termasuk salah satu penopang gizi masyarakat guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Diharapkan juga bahwa pasar unggas Indonesia yang terus membesar bisa memberikan insentif bagi pelaku usaha. “Pasar Indonesia yang besar harus dimanfaatkan, tentu dengan titik tekan bahwa UMKM di bidang ini dan masyarakat pada umumnya pula mendapat manfaat yang besar juga,” katanya.

Sebelumnya, sebagaimana berita yang ditayangkan mediatani.co bahwa Kemendag juga berupaya untuk menstabilkan harga kedelai.  Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan bahwa harga kedelai impor pada tingkat pengrajin tahu dan tempe pada Maret 2021 tetap stabil pada kisaran Rp 9.500 per kilogram (kg). Dengan level harga itu, harga produk tahu masih bisa dikisaran Rp 650 per potong dan tempe sekitar Rp 16 ribu per kilogram kg.

Baca Juga :   Kebumen Antisipasi Kekeringan dengan Pompa Listrik

Dikutip dari situs berita republika.co.id, Rabu (3/3/2021), Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Syailendra mengatakan bahwa pemerintah bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan tetap berkomitmen menjaga harga kedelai impor tetap sama sebagaimana bulan lalu.

Dia menambahkan, meskipun saat ini terjadi sedikit kenaikan harga kedelai dunia, Kemendag tetap akan menjamin stok kedelai untuk penyediaan bulan Maret 2021 masih cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pengrajin tahu dan tempe dengan harga yang stabil dan tetap terjangkau.

Masih dikutip dari sumber yangs sama, sumber data Chicago Board of Trade (CBOT), mencatat, harga kedelai dunia untuk penyediaan Februari 2021 berada pada kisaran 13,71 dolar AS per gantang dan naik 0,8 persen menjadi 13,82 dolar AS per gantang untuk penyediaan Maret.

“Tingginya harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe tersebut merupakan dampak pergerakan harga kedelai dunia sejak pertengahan tahun lalu hingga sekarang,” kata Syailendra dalam pernyataan resminya, Selasa (2/3/2021). Baca selengkapnya di sini. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani