Padahal Awalnya Pesimis, Mantan TKI Tuai Keberhasilan Beternak Kambing

  • Bagikan
Didik, peternak kambing/via timesindonesia.co.id/ist

Mediatani – Beternak kambing bisa sukses dong guys. Kata siapa gak bisa? Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur seorang mantan tenaga kerja Indonesia atau mantan TKI yang bekerja di Malaysia telah berhasil beternak kambing dengan metode modern lho.

Yup! Tak perlu lagi mencari rumput. Nyak, kok bisa?

Bisa yak, seperti kisah seorang Mantan TKI, bernama Didik Sihabul Millah. Padahal, pria 32 tahun ini awalnya pesimis bisa sukses di dunia peternakan.

Akan tetapi, siapa yang menyangka kini ia mulai memetik buah manis dari usahanya yang dimulai 3,5 tahun lalu ini.

Berawal dari mempunyai 20 kambing indukan, Didik lalu merawatnya dengan metode modern. Yakni, menggiling rumput budidaya serta limbah pertanian. Untuk minumnya, kambing diberi sisa gilingan gabah dan campuran lain.

“Saya kerja di Malaysia 10 tahun seusai lulus SMA. Pada 2016 pulang, lalu bangun kandang dulu, kemudian belajar otodidak dan dikembangbiakkan hingga saat ini ada ratusan,” katanya, Senin (28/6/2021), mengutip, Jumat (2/7/2021) dari laman timesindonesia.co.id.

Warga Desa Wotan Panceng ini melanjutkan, bahwa beternak kambing itu tidak asal-asalan ya. Protein dan kebersihan kandang ialah hal yang utama. Pejantan dan indukan bahkan diberikan menu makanan berbeda.

Jika pejantan, gilingan rumput harus difermentasi terlebih dahulu selama 21 hari. Ini akan memberikan efek lebih bagus. Kemudian, kambing betina atau indukan diberikan protein dari campuran gilingan rumput dan jenis sayuran.

Baca Juga :   Rekomendasi 8 Tanaman Hias yang Mampu Tumbuh Tanpa Tanah

“Perlakuannya berbeda, bahkan ditempatkan ditempat beda. Ada kambing yang dijual, ada juga yang dikembangkan dan digemukkan. Kami budidaya rumput juga, lalu digiling. Bahkan menu makanannya pun dibedakan antara pejantan dan indukan,” ujarnya.

Dalam merawat kambing miliknya, Didik pula mempekerjakan 5 karyawan. Selain ada di bagian perawatan dan kebersihan, ada pula pegawai khusus yang bertugas menjualnya.

Ditanya terkait omset perbulan, Didik masih enggan menyebutkan. Namun, dia bilang, intinya, setiap hari ada saja pembeli.

Apalagi, ketika menjelang Idul Adha seperti ini. Permintaannya lebih banyak. “Dua minggu ini sudah 30-an yang keluar. Ada 100 an yang siap jual. Intinya, ketika kambing kami jual kami belikan lagi dan diternakkan sesuai jenisnya,” tuturnya, malu-malu.

Kambing Ras Sapudi Jadi Buruan

Walaupun ada berbagai jenis domba dan kambing, Owner Farm 99 Gresik ini mengakui bahwa lebih menyukai kambing jenis lokal asli Indonesia.

Salah satunya jenis Kambing Sapudi yang berasal dari Kepulauan Sapudi, Kabupaten Sumenep Madura, Fanroy dan Garut, Jawa Barat.

Nah, agar tetap bisa dilestarikan, dia juga mencoba mengawinkan indukan jenis Kambing Sapudi dengan lokal. Hasilnya pun bagus. Bahkan, harga jualnya tinggi. Dagingnya empuk. Kambing jenis ini pun biasa disajikan di restoran atau hotel.

Baca Juga :   Investor Berencana Dirikan Industri Pakan Ternak di Gorontalo, Pemprov Beri Dukungan

“Hasil perkawinan lokal Kambing Sapudi ini lebih besar. Bahkan saat kecil ekornya sudah kelihatan, warnanya juga putih dan bagus. Tentu harga jual tinggi,” terangnya.

Melihat manisnya beternak kambing, Ketua NGO Panceng Kita ini mengajak milenial agar mau berwirausaha dengan beternak. Bahkan, dirinya siap membimbing agar sukses beternak kambing.

Ia mencontohkan, dari lima kambing saja. Indukan dan pejantan ini dapat menghasilkan dua kali lipat. Setahun bisa dua kali.

“Kami juga buka kemitraan khususnya dengan pemuda yang mau beternak kambing,” ucap Didik, seorang mantan TKI Gresik yang sukses beternak kambing metode modern.

Modal Ketekunan, Tiga Sekawan Ini Sukses Beternak Kambing

Tidak hanya Didik. Ada tiga sekawan lainnya yang juga sukses beternak Kambing. Nah, sebelum membahas itu, menjadi seorang peternak di zaman sekarang tidaklah mudah guys!  Apalagi jika anda masih di usia muda.

Yup! Sebab tantangan dan rintangannya banyak sekali lho, seperti dengan lingkungan dan teman sepergaulan. Namun, hal ini rupanya tidak berlaku bagi  Abdul Mutalib Alkatiri, Supratman Lamalaka, dan Hendra Sumanti.

Melalui ketekunan sebagai salah satu modal utama meraih kesuksesan -moto dari ke 3 (Tiga)  milienal- ini maka hal itu menjadi sebuah kebehasilan.

Ketiganya berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Kecamatan Kaidipang Desa Kuala Utara…baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

  • Bagikan