Pemkot Sukabumi Minta Peternak Waspadai Penyakit ND atau Tetelo

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
ILUSTRASI. Ternak ayam terkena penyakit/IST

Mediatani – Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi mengantisipasi penyebaran penyakit Newcastle Disease (ND) atau tetelo pada unggas khususnya ternak ayam.

Dikutip Jumat (19/2/2021) dari situs republika.co.id, hal itu dilakukan, sebab pada 2020 lalu kasus ND ini cukup banyak ditemukan di lapangan.

Sebagaimana diketahui, penyakit tetelo disebabkan oleh agen biologik berbahaya berupa bakteri, virus, jamur atau parasit. Penyebaran penyakit ini pula berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan keberadaan hewan rentan yang berada di alam bebas.

”Di sepanjang tahun 2020, ada beberapa laporan kasus ND atau tetelo,” ujar Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi Sunaryo, Rabu (17/2/2021) dikutip Jumat (19/2/2021).

Dia menambahkan bahwa pelaporan yang diperoleh timnya dari peternak perihal kasus ini pun cukup banyak.

Namun lanjut Sunaryo, DKP3 sendiri belum menerima data yang lengkap sehingga secara kuantitas tidak bisa dipersentasekan. Meski begitu, dirinya menuturkan, pada awal 2021 ini belum ada laporan yang masuk perihal kematian unggas yang mati akibat ND.

Walaupun demikian, pihaknya tetap harus melalukan langkah antisipasi penyebarannya. Apalagi di masa pergantian cuaca dari hujan ke kemarau, maupun sebaliknya.

Sunaryo mengungkapkan, untuk pengendalian penyakit, meliputi pencegahan dan pengobatan penyakit. Di mana pencegahan penyakit bertujuan untuk mencegah dan mengantisipasi agar ayam yang dipelihara tidak terkena penyakit.

Baca Juga :   Hari Ini, Peternak Sepakat untuk Naikkan Harga Ayam Hidup

Menurut Sunaryo, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pelaksanaan biosekuriti di kandang ayam dan vaksinasi.

Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan, gejala klinis bisa dilihat dengan ternak ayam menunjukkan gejala gangguan pernafasan, pencernaan dan syaraf disertai mortalitas yang sangat tinggi.

Kerugian yang ditimbulkan berupa kematian yang tinggi. Di samping itu, adanya penurunan produksi telur, daya tetas, dan hambatan pertumbuhan.

Sementara itu di berita yang lain, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi membangun sinergi ke seluruh kalangan peternakan di Provinsi Lampung untuk mengembangkan sumber daya ternak demi mewujudkan visi Rakyat Lampung Berjaya.

Hal itu pun diperbincangkan dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Peternakan Provinsi Lampung Tahun 2021 di Kebun PKK Agropark, Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Rabu, 17 Februari 2021, kemarin.

Dikutip Kamis (18/2/2021) dari situs lampost.co, Arinal menuturkan bahwa potensi sumber daya peternakan di Lampung sangatlah besar.

Dia membeberkan, sepertihalnya pakan berlimpah dan peternak yang terampil serta didukung dengan beberapa perusahaan budidaya sapi yang sudah berkembang serta memiliki keunggulan komparatif.

Apalagi, provinsi Lampung memiliki perusahaan produsen sapi dan daging wagyu satu-satunya di Indonesia.

“Pengembangan ternak sapi Lampung cukup dikenal di Indonesia dan untuk daging wagyu ini harus kami pertahankan,” ungkapnya.

Baca Juga :   Pahami Penyakit Tetelo atau ND pada Ayam, Cara Mencegah dan Menanggulanginya

Arinal menyebut, dengan melihat segala potensi dan diperkuat pencapaiannya melalui visi Rakyat Lampung Berjaya, Gubernur Arinal berharap bahwa peternakan di Lampung mampu bangkit dan mencpitakan perubahan.

Untuk itu, pihaknya meminta agar OPD terkait peternakan baik Provinsi maupun Kabupaten/ Kota untuk terus bersinergi dengan insan peternakan, para pengusaha dan unsur yang membidangi peternakan termasuk Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

“Kami terus lakukan pembinaan terhadap peternak yang teah berpengalaman. Terutama mengedepankan para peternak yang sudah berprestasi,” ujarnya.

Dukungan itu pun tambah dia, sangat dibutuhkan guna mewujudkan Lampung sebagai lumbung ternak nasional.

Sebagaimana diketahui bahwa Provinsi Lampung memiliki program unggulan Kartu Petani Berjaya (KPB) yang akan menjadi solusi dari permasalahan petani termasuk peternak.

KPB ini merupakan wujud dari pada kepentingan petani dalam artian luas, baik sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Dirinya pun mengajak stakeholder terkait untuk turun langsung bertemu para peternak agar mengetahui keluhan yang dialami.

“Salah satu keberhasilan dalam membangun yakni kuasai bidang tugas, pahami masalah yang ada dan kenali medan tugas, semua harus turun lihat permasalahan yang ada. Berhasil dalam pertanian, peternakan, perkebunan, pangan, perikanan dan infrastruktur,” tutupnya. (*)

  • Bagikan