Proses produksi Rosalie Cheese

Mediatani – Pandemi covid-19 yang melanda di hampir semua negara membuat banyak sektor perekonomian menjadi lumpuh, tak terkecuali industri pengolahan makanan. Banyak pengusaha makanan terpaksa gulung tikar, karena omzet yang mereka terima menurun signifikan. Namun ada pula yang masih bertahan seperti bisnis olahan hasil peternakan.

Keju, misalnya, perlahan kebiasaan makan keju juga menjamah Tanah Air. Tapi siapa sangka, kalau ternyata Indonesia juga bisa memproduksi keju sendiri. Terlebih kita punya banyak peternakan kambing atau sapi yang menjadi bahan utama pembuatan keju.

Salah satu produsen keju alami Indonesia adalah Rosalie Cheese. Produsen keju yang berasal dari Bali ini sudah ada sejak tahun 2017, pabriknya berpusat di Denpasar. Nama ‘Rosalie’ terinspirasi oleh pinggiran kota yang indah di Brisbane, Australia, di mana hidangan lokal tumbuh subur.

Anak Agung Ayu Sri Utami Linggih, Founder Rosalie Cheese menyampaikan bahwa masa pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap penjualannya, karena penjualan bisnis keju tersebut berfokus ke Horce (Hotel, Restaurant dan Café).

“Dari bulan Februari di Bali sudah mulai menurun tamu yang datang. Jadi tentu bedampak sekali pada penjualan,” ujar Ayu dikutip dari Fimela.com.

Namun, bagi Ayu, pandemi bukan penghalang untuk tetap menjalankan bisnisnya. Ayu mengatakan, meskipun penjualannya di horce mengalami penurunan, namun penjualan via website meningkat hingga 300 persen. Hal ini dikarenakan barang import sulit masuk ke Indonesia dan banyak orang yang lebih sering masak di rumah.

“Jadi in terms of sales sebenernya sama tetapi beda customer atau target market. Yang semestinya kalo sudah balik normal berarti kami bisa serves both market. B2C dan B2B. Nah ini sebenernya juga a good point for us di Bali untuk tidak rely 100% kepada industri wisata. Covid ini jadi belajar banyak saya dan team tentang serves all sector and channel. Perbaiki channel penjualan dan sop delivery sampe ke ujung Indonesia (Palu),” paparnya.

Bisnis Rosalie Cheese

Sentuhan rasa lokal membuat Rosalie Cheese menjadi keju yang unik. Rosalie Cheese termasuk dalam kategori natural artisan cheese, karena pada proses pembuatannya memang menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Namun karena menggunakan 100% bahan alami, umur keju ini menjadi lebih pendek.

Meski bukan menjual makanan khas Indonesia, tapi keju yang dibuat Ayu murni menggunakan bahan lokal. Keju yang diproduksi perempuan lulusan teknologi pangan University of Queensland itu sebagian besar menggunakan susu kambing etawa dan saanen; yang diambilnya dari salah satu peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Baca Juga  Gebrak Ekspor Hortikultura, Guru Besar IPB Apresiasi Kinerja Kementan

“Keju kita dibuat sangat lokal menggunakan susu dari Bali dan Jawa Timur. Bisnis ini juga mendukung beberapa peternak kecil di Jawa dan Bali. Kami melihat pertanian mitra kami sebagai mitra jangka panjang untuk pertumbuhan. Peternak kami bekerja sangat keras untuk menjaga kebersihan, kebersihan dan pengelolaan peternakan yang baik untuk mendapatkan sapi dan kambing yang sehat, kualitas susu yang baik dan upah yang adil bagi para pekerja pertanian mereka,” ujarnya.

Untuk menghasilkan rasa yang enak dan berkualitas, Ayu perlu melakukan karantina terhadap keju, mulai dari 5-30 hari tergantung dari jenisnya. Proses ini dikenal sebagai fermentasi. Proses pembuatan dimulai dari mencampurkan susu dengan bahan pengental agar menjadi gumpalan-gumpalan; proses ini namanya coagulation. Selanjutnya keju dicetak dan disimpan dalam ruang fermentasi hingga tumbuh jamur (aging).

Dari hasil pembuatan tersebut, Ayu menjual kejunya jadi beberapa varian. Ada black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), dan crottin cheese dengan bungkus daun anggur. Dengan harga jual berkisar Rp 45-120 ribu tergantung berat dan jenisnya. Ayu juga memproduksi snack berupa grissini (cheese stick) dan cheese choco cookies. Untuk camilan Ayu membanderol Rp 36-38 ribu per bungkusnya.

Ayu menjelaskan bahwa bisnis ini sudah berdiri sejak 2013 di Jakarta. Namun karena di Jakarta tidak diijinkannya lagi ada industri, pada tahun 2017 tempat produksi pindah ke Bali untuk dapat memenuhi syarat izin edar dari BPOM.

“Jadi kita pindah ke Bali. Komunitas Diplomat Entrepreneur Network (DEN) dari Diplomat Success Challange by Wismilak (DSC) juga membantu untuk survive. Kita sharing dan saling support, terutama di masa-masa seperti ini. Ada tempat untuk tanya dan minta masukan,” ujar Ayu.

Sampai saat ini, Ayu masih berusaha meyakinkan konsumen jika keju lokal memiliki mempunyai kualitas yang baik dengan harga bersaing dengan produk luar. Salah satu cara yang menyakinkan konsumen dengan bekerjasama bersama chef untuk mendemokan cara mengolah keju agar dapat dikonsumsi dirumah dengan resep yang mudah.

“Sangat optimis pasar akan terus berkembang (terutama setelah covid) konsumen kami lebih memerhatikan makanan yang dikonsumsi (bahan yang digunakan, asal makanan). Dan bisa dilihat sendiri hampir semua jenis makanan sekarang menggunakan keju (mulai dari ayam geprek, roti bakar dan juga minuman),” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here