Home / Nasional

Jumat, 21 Agustus 2020 - 12:08 WIB

Petani Musi Rawas Pikirkan Harimau Masuk Kebun

Mediatani – Petani di Desa Tambahasri, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, risau karena harimau sumatera yang sempat masuk ke kawasan perkebunan.

Warga Desa Tambahasri yang juga berprofesi sebagai petani, Agus mengatakan adanya isu binatang buas membuatnya khawatir ketika akan ke kebun. 

“Iya cemas karena sudah sering kami diteror masalah binatang buas terutama harimau, sudah berapa pekan ini,” katanya pada Rabu (19/8/2020).

Menurut Agus hewan buas tersebut tidak bisa dibiarkan berkeliaran di perkebunan karet milik masyarakat, ditakutkan nantinya satwa buas tersebut akan memakan korban.

“Beberapa kali warga sini melihat harimau tersebut masih berkeliaran di wilayah permukiman desa dan kebun karet, sehingga kami tidak bisa melakukan pekerjaan menyadap karet yang tentunya berdampak pada kehidupan ekonomi kami,” ujarnya.

Baca Juga :   Nilai Jual Capai Rp4 Juta per Kilogram, Salatiga Siap Jadi Sentra Produksi Vanili

Maka dari itu warga berharap Bupati Musi Rawas dan otoritas yang berwenang, yakni Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Palembang segera mengevakuasi harimau dari desa itu.

Menanggapi keresahan warga karena hewan buas tersebut, Kepala Desa Tambahasri telah mengeluarkan surat laporan kepada pihak kepolisian dan Koramil Tugumulyo guna mendapatkan tindakan lebih lanjut.

“Surat permohonan sudah kami kirimkan ke pihak Kapolsek dan Danramil Tugumulyo, dan selanjutnya saya akan mengirimkan langsung surat ke Pemkab Musi Rawas,” kata Arifin Kepala Desa Tambahasri.

“Hasil sementara dari jejak maupun feses yang ditemukan itu berasal dari hewan Tapir, bukan Harimau atau Macan Kumbang,” katanya.

Namun, berdasarkan laporan yang diterima Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Hasibuan dari tim lapangan bersama LSM lingkungan, hewan yang masuk ke kebun warga itu merupakan Tapir.

Baca Juga :   Petani Timun Sukses Mudah Tanam Hasil Panen Melimpah

Dia mengatakan jika memang harimau, maka satwa tersebut kemungkinan keluar dari habitatnya di Kantung Bukit Nanti. Akan tetapi jaraknya cukup jauh dari lokasi yang dilaporkan warga saat ini. 

“Tapi yang jelas laporannya itu Tapir, bukan Harimau,” katanya.

Tapir juga merupakan salah satwa yang juga dilindungi karena populasinya juga sudah terbatas. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada warga agar tidak memburu satwa tersebut.

“Tapir itu bukan hewan buas dan dilindungi, jadi tidak membahayakan. Kami harapkan warga juga tidak melakukan perburuan,” katanya.

Share :

Baca Juga

Berita

Ihwal Ruwetnya Kartu Tani

Nasional

Anggaran Pupuk ke Petani Kalsel Dipotong untuk Covid-19

Nasional

BPS Sebut Kesejahteraan Petani Meningkat Di Bulan Juli 2020

Nasional

Program Food Estate dinilai Bukan Solusi Atasi Krisis Pangan

Agribisnis

FAO Apresiasi Kinerja Kementan dalam Pengendalian Flu Burung

Nasional

Presiden Jokowi didampingi Mentan SYL Tinjau Food Estate di Kapuas
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Rektor IPB Arif Satria dalam Penyambutan Mahasiswa Baru IPB, di Gedung GWW-IPB, Bogor, 14/8/2018

Berita

IPB Dan Kementan Bersinergi Wujudkan Generasi Inovatif Di Bidang Pertanian

Nasional

Tahun Ini Produksi Padi Kebumen Surplus