Pro Kontra Pengaruh Wisata GLOW di Kebun Raya Bogor, Ini Pendapat Ahli Tanaman

  • Bagikan
Sumber foto: kompas.com

Mediatani РKebun Raya Bogor rencananya akan menyediakan destinasi wisata edukasi bernama GLOW. Wisata edukasi yang terbilang unik ini hanya berlangsung pada malam hari.

Di wisata tersebut, para pengunjung bisa menyaksikan kilauan cahaya yang mengarah ke pepohonan dengan membentuk karakter jenis hewan dan tumbuhan.

Konsep ini sebenarnya sudah diterapkan di beberapa Kebun Raya di sejumlah negara, seperti Johnsonville Night Lights in the Garden yang berlokasi di Naples Botanical Garden, Night Blooms di Huntsville Botanical Garden, dan Botanica Lumina di Adelaide Botanic Garden.

Namun, kehadiran Eduwisata malam GLOW di Kebun Raya Bogor ini rupanya menuai pro dan kontra. Hal ini karena penataan cahaya lampu yang langsung menyorot ke pepohonan dinilai dapat mengganggu ekosistem tanaman dan juga hewan saat malam hari.

Dilansir dari laman liputan6.com, Dr Dadan Hindayana seorang ahli proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University memaparkan bahwa spektrum cahaya yang ditanggap oleh manusia berbeda dengan hewan.

Baca Juga :   Wujudkan Korporatisasi Sektor Pertanian, Kementan dan Menkop UKM Gandeng IPB

“Visible light atau spektrum kasatmata yang ditangkap oleh mata normal manusia mampu mendeteksi panjang gelombang 400-700 nanometer,” ungkap Dadan melalui keterangannya, Senin (11/10/2021).

Menurutnya, panjang gelombang 450-495 nanometer untuk biru dan 620-750 nanometer untuk merah dinilai sangat berpengaruh nyata terhadap proses fotosintesis tumbuhan.

Diketahui ada beberapa spesies yang mampu melihat cahaya ultraviolet untuk membantu mereka mencari nektar bunga. Contohnya seperti lalat yang dapat melihat warna hijau dan lebah yang mampu melihat warna kuning dan biru.

Hal ini kemudian menjadi menarik untuk dikaji, sebab jika menggunakan spektrum dengan warna selain merah dan biru apakah tetap akan berpengaruh pada proses visiologi tumbuhan di malam hari.

Para peneliti sering melakukan penelitian terhadap perilaku serangga di malam hari dengan menggunakan spektrum warna merah. Hal ini karena serangga sama sekali tidak mampu melihat spektrum warna merah. Selain jenis warna, intensitas cahaya juga dinilai berpengaruh pada beberapa spesies.

Baca Juga :   Peternak Babi di Bali Keluhkan Kelangkaan Kucit dan Harga yang Tinggi

Besaran pengaruh cahaya lampu yang ada di wisata GLOW terhadap tumbuhan dan hewan yang ada di Kebun Raya Bogor, menurut Dadan, kemungkinan ada tetapi hanya sementara waktu.

Beberapa jenis tumbuhan dan hewan kemungkinan untuk sementara waktu ada yang terpengaruh dengan sesuatu yang baru. Tetapi lambat laun mereka juga bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan barunya.

Adaptasi tumbuhan dan asosiasinya dalam kehidupan di dunia, menurutnya, telah berjalan selama manusia hidup. Sebagai contoh, pohon mangga yang dulunya berasal dari kebun atau bahkan hutan sekarang sudah mampu beradaptasi dengan baik pada pekarangan rumah dengan penyinaran intens khususnya malam hari.

Mangga bisa tetap hidup bahkan berbuah di setiap musimnya. Kelelawar yang dikenal senang berasosiasi dengan pohon mangga pun ikut hadir di pemukiman. Sehingga seringkali kita dapati banyak kotoran kelelawar di bawah pohon mangga pada pagi harinya.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani