Produk Ikan Tuna Kalengan RI Sudah Lepas dari Pengawasan Intensif di Spanyol

  • Bagikan
Proses pengalengan ikan tuna.

Mediatani – Otoritas Spanyol akhirnya menghentikan pengawasan intensif terhadap produk impor perikanan, khususnya pada produk tuna kalengan yang berasal dari salah satu eksportir di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat lebih meningkatkan peluang ekspor produk ikan kalengan.

Penghentian pengawasan intensif ini dianggap akan menguntungkan eksportir, karena produk ikan tuna kalengan yang masuk ke wilayah Spanyol tidak perlu lagi melewati berbagai proses pengawasan khusus.

Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana menuturkan bahwa keputusan ini merupakan hal yang penting untuk menjada kredibilitas produksi ikan kalengan Indonesia di mata internasional.

“Kami menyambut baik keputusan otoritas Spanyol untuk menghentikan pengawasan intensif terhadap produk ikan kalengan dari Indonesia tersebut dan kami harap eksportir Indonesia semakin terpacu mengekspor ke Spanyol,” katanya, dikutip dari Kompas. com, Selasa (1/6).

Hal yang senada juga disampaikan oleh Atase Perdagangan RI Madrid, Novita Sari. Menurutnya produk Indonesia yang sudah lepas dari pengawasan intensif di Spanyol tersebut menjadi peluang bagi eksportir dan produsen ikan kalengan Indonesia untuk berkembang.

Karena, lanjut Novita, para eksportir di Indonesia bisa lebih memanfaatkan potensi pasar di negara tersebut, serta menunjukkan kepada warga Spanyol bahwa produk ikan kalengan yang berasal dari Indonesia sangat baik untuk dikonsumsi.

Disamping itu, keputusan yang dibuat otoritas Spanyol tersebut juga harus disikapi sebagai peringatan bagi eksportir Indonesia lainnya untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan negara tujuan ekspor.

Baca Juga :   Jokowi Minta Produksi Pangan ditingkatkan, Mentan: Kami Siap di Lapangan

“Kami berharap, dihentikannya pengawasan intensif ini akan menjadi penyemangat bagi eksportir Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk ikan tuna kalengan ke Spanyol,” ungkap Novita.

PT Toba Surimi merupakan salah satu eksportir produk tuna kalengan asal Indonesia yang mendapat pengawasan intensif dari otoritas Spanyol.

Pengawasan yang dilakukan sejak 25 September 2017 itu dilakukan seiring dengan adanya penemuan otoritas Yunani terhadap kandungan histamin yang melebihi ambang batas yang diizinkan dan berasal dari eksportir yang sama.

Temuan tersebut kemudian disebarluaskan oleh otoritas Yunani melalui sistem peringatan terkait pangan antarnegara Eropa, yaitu Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF). Selama masa pengawasan, tuna kalengan Indonesia tersebut harus melalui sejumlah tahapan.

Tahapan-tahapan yang dilakukan pada pengawasan itu diantaranya, yakni pengambilan sampel produk yang dicurigai, analisis histamin sistematis, imobilisasi barang impor, dan pemberian opini berdasarkan hasil analisis.

Otoritas pajak Spanyol, Agencia Tributaria, mencatatkan bahwa impor produk tuna kalengan dengan HS 1604.14 dari Indonesia sepanjang 2020 mencapai 7,84 juta dollar AS. Nilai ini mengalami penurunan dibandingkan 2019 yang mencapai 10,27 juta dollar AS.

Ikan tuna kaleng

Ikan tuna yang dikemas dalam kaleng kini sudah banyak dijumpai di berbagai toko di Indonesia. Olahan produk ikan ini menjadi alternatif di saat kita ingin mengkonsumsi ikan namun jika tak mau repot dengan bau ikan karena harus membersihkannya terlebih dahulu.

Baca Juga :   Tebaran Cahaya Ultraviolet, Cara Seniman Belanda Tumbuhkan Tanaman Lebih Cepat

Ikan tuna kalengan yang ada di Indonesia biasanya disajikan dalam beberapa varian, ada larutan garam alias brine, ikan tuna dalam minyak sayur atau vegetable oil dan tuna pedas alias tuna hot spicy.

Pakar nutrisi yang juga merupakan penulis buku “The Small Change Diet” Keri Gans menjelaskan bahwa tuna kalengan juga aman untuk dikonsumsi.

“Sebagai alternatif ikan segar, tuna kaleng aman,” terang Gans dilansir Women’s Health.

Meski demikian produk tersebut tetap harus hati-hati karena beberapa spesies tuna mengandung logam berat. Ikan tersebut bisa saja mengandung jumlah merkuri yang lebih tinggi ketimbang rata-rata yang bisa menyebabkan masalah kesehatan serius. Maka dari itu, asupan tuna kaleng tetap harus dibatasi, utamanya jika sedang hamil.

“Manfaat bagi kesehatannya biasanya lebih penting ketimbang potensi risiko yang dihubungkan dengan derajat kandungan merkuri dalam tuna,” kata pakar nutrisi Julie Upton.

Umumnya, jenis tuna yang dikemas dalam kaleng adalah jenis “skipjack”, biasanya bagian tuna yang dikalengkan adalah daging tuna yang warna putih. Namun, kandungan nutrisi berbagai jenis tuna itu umumnya sama saja, yang berbeda hanya jenis larutan yang diisikan dalam kaleng bersama tuna.

  • Bagikan