Selain Jadi Pakan Ternak, Belatung di Afrika Selatan Juga Jadi Makanan Manusia

  • Bagikan
Peternakan lalat tentara hitam atau black soldier fly di Afrika Selatan (Foto: Tommy Trenchard/bbc.com)
Peternakan lalat tentara hitam atau black soldier fly di Afrika Selatan (Foto: Tommy Trenchard/bbc.com)

Mediatani – Sebuah perusahaan peternakan lalat di Afrika Selatan menghasilkan lebih dari 10 ton pakan kaya protein berkualitas tinggi. Sebagian besar hasil peternakan ini telah diekspor ke luar negeri.

Peternakan yang berada di kawasan industri di tepi kota Cape Town ini adalah peternakan Maltento, perusahaan peternakan yang yang berbeda dengan peternakan konvensional di pedesaan.

Dilansir dari bbc.com, pendiri peternakan lalat ini adalah Dean Smorenberg. Dia adalah mantan konsultan manajemen yang memutuskan untuk beternak lalat tentara hitam atau black soldier fly pada tahun 2016.

Model peternakan yang diterapkan itu menarik bagi para konsumen yang sadar karbon, sebab larva lalat yang menjadi belatung atau maggot dapat memakan limbah makanan serta biji-bijian sisa dari tempat pembuatan bir terdekat.

Serangga tersebut bisa menjadi pakan ternak yang memiliki nilai gizi tinggi. Selain bisa menghasilkan produk sampingan berupa pupuk, serangga tersebut juga dapat diolah menjadi makanan untuk dikonsumsi manusia.

Serangga larva lalat ini dinilai ramah lingkungan dan dapat menjaga kelangsungan peternakan karena hanya membutuhkan sedikit lahan, air dan makanan untuk tumbuh. Serangga ini dapat dipelihara dalam lingkungan yang terkontrol, sehingga tidak rawan terhadap perubahan iklim.

Tujuan peternakan Maltento ini didirikan yaitu untuk bisa menyediakan pakan untuk ternak dengan protein tinggi dan harga yang terjangkau.

Menurut Smorenberg, serangga atau belatung ini punya nilai lebih dari sekadar sumber protein. Kandungan peptide antimikroba pada lalat larva dapat membantu meningkatkan kesehatan usus.

Peternakan Maltento yang berkembang pesat ini, dalam setahun dapat melakukan panen hingga 52 kali. Peternakan lalat tentara hitam ini dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan tahapan siklus hidup serangga.

Seorang pegawai peternakan Dominic Malan mengatakan pupa mengalami metamorfosis di ruangan gelap di lantai dasar sebelum dipindahkan ke tempat penangkaran yang terdapat di lantai atas, tempat lalat dewasa bertelur dengan sinar lampu ultraviolet di dalam kandang jala.

“Ini pada dasarnya adalah ruang mesin peternakan, boleh dibilang begitu. Suhu dan kelembaban adalah faktor paling penting untuk memastikan mereka berkembang,” kata Dominic Malan, seperti yang dikutip pada laman bbc.com (8/9/2021)

Terdapat ruang penetasan, dimana telur-telur lalat menetas menjadi “neonatus” atau bayi larva yang didistribusikan ke dalam wadah plastik kecil yang penuh dengan pakan. Semua plastik tersebut kemudian ditumpuk di dalam ruangan yang memiliki suhu terkontrol, tempat mereka tumbuh dengan sangat cepat.

Setelah bayi larva tumbuh menjadi larva dewasa, seluruh isi wadah plastik dipindahkan ke dalam mesin yang mampu memisahkan mereka dari “frass” atau kotoran lalat yang nantinya dijual sebagai pupuk organik. Selain itu, larva lalat yang juga sering disebut belatung ini dapat diolah menjadi berbagai produk.

Sebagian besar dikeringkan dan diekspor secara utuh untuk menjadi pakan ayam piaraan di AS. Lalu, sebagiannya lagi dicincang menjadi bubuk yang kemudian digunakan oleh sebuah perusahaan di Norwegia untuk membuat makanan anjing. Sebagian lagi diproses untuk menghasilkan minyak, atau dihidrolisis menjadi pakan cair.

Malan menambahkan, di sudut ruangan, terletak deretan karung putih raksasa yang penuh dengan larva kering. Bagi manusia, rasa serangga ini seperti tanah, dengan sedikit tambahan rasa malt yang diperoleh dari biji-bijian sisa . Namun bagi kucing dan anjing, serangga ini adalah makanan yang sangat nikmat.

Menurut RaboResearch, sebuah organisasi penelitian agribisnis Belanda, produksi global protein serangga untuk makanan hewan piaraan dapat mencapai setengah juta ton pada akhir dekade ini, naik dari hampir 10.000 ton saat ini, hingga industri ini berkembang dengan pesat.

Di sebuah laboratorium yang terdapat di daerah Woodstock, para ilmuwan peternakan Maltento terus melakukan berbagai cara untuk membuat rasa dan manfaat kesehatan dari produk larva ini menjadi lebih baik.

Dua hal itu tentunya dipengaruhi oleh pakan yang diberikan kepada larva, kondisi tempat mereka tumbuh, dan juga cara pemrosesan produk akhirnya.

Produk terbaru yang sedang digarap Dr. Bessa adalah suatu bahan yang dirancang untuk ditambahkan ke makanan hewan piaraan untuk meningkatkan rasa dan manfaat gizinya.

Es Krim yang Dibuat dari Belatung Lalat di Afrika Selatan
Es Krim yang Dibuat dari Belatung Lalat di Afrika Selatan

“Ada kelangkaan makanan, kemudian ada banyak orang kelaparan, dan pada saat yang sama ada masalah limbah. Jadi saya mulai melihat bagaimana kita bisa menyeimbangkannya kembali,” kata pendiri peternakan Dean Smorenberg tentang hal-hal yang mengilhaminya untuk terjun ke bidang ini.

Dr Leah Bessa, seorang ilmuwan makanan juga mengatakan bahwa larva lalat ini merupakan sumber makanan serbaguna. Ia mendapatkan gelar PhD-nya dengan meneliti cara memanfaatkan larva lalat sebagai pengganti daging untuk konsumsi manusia.

Sebelum bergabung dengan Maltento, Dr. Bessa meluncurkan sebuah perusahaan yang menjual es krim berbasis serangga. Inovasi tersebut telah menjadi berita utama di Afrika Selatan.

Dalam sebuah laporan tahun 2013, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FOA) bahwa seranga dapat membantu mengatasi masalah kelangkaan pangan diseluruh dunia.

Tetapi meskipun serangga sudah menjadi kudapan yang populer di banyak negara, banyak negara Barat masih menolaknya.

Untuk saat ini, Dr Bessa percaya konsumsi serangga skala besar kemungkinan besar masih akan terbatas pada hewan peliharaan. Jika serangga sebagai makanan manusia, masih ada rasa jijik sehingga ini menjadi hambatannya.

  • Bagikan