Sempat Ditentang Keluarga Sendiri, Pria Ini Kini Sukses Budidaya Buah Naga

  • Bagikan
Ilustrasi: Sutrisno yang tengah memanen buah naga di kebun seluas 1400 meter persegi miliknya di Desa Pekunden, Kecamatan/Kabupaten Banyumas, Senin (11/7/2022).

Mediatani – Sutrisno, salah seorang petani asal Desa Pekunden, Kecamatan/Kabupaten Banyumas, kini sukses membudidayakan buah naga di kebunnya. Bahkan, di kebun yang seluas 1400 meter persegi itu, kini juga sudah menjadi agrowisata petik buah.

Baca Juga :   Banyuwangi Support Peternakan Ayam Ramah Lingkungan, Pakai Mesin dan Tak Berbau

Pria yang akrab disapa Trisno ini menceritakan bahwa budidaya buah naganya itu sudah dimulai sejak 2017. Dia mengaku tak mudah menjalankan pertanian tersebut, apalagi buah naga bukanlah tanaman yang populer di Banyumas.

Tidak hanya itu, dia juga sempat mendapatkan Cibiran dari orang sekitarnya, bahkan sempat ditentang anak dan istrinya sendiri. Itu sebabnya, pada saat awal memulai usaha, Trisno hanya menanam sebanyak tiga pohon saja.

Namun, niat baik yang diupayakannya membuahkan hasil, hingga akhirnya dia memiliki sebanyak 142 pohon buah naga. Dalam sekali panen, kebun buah naganya itu dapat menghasilkan hingga 1,5 Kuintal (150 Kilogram).

Trisno mengungkapkan, ketertarikannya terhadap buah naga terinspirasi dari salah seorang temannya di Banyuwangi, Jawa Timur, yang telah lebih dulu memiliki kebun buah naga.

Keberhasilan sang teman dalam mengembangkan tanaman buah naga membuat Trisno percaya diri mampu mengembangkan pula buah naga di Banyumas.

“Awalnya, terinspirasi dari teman, asli orang Banyuwangi. Buah naga idealnya (ditanam) dekat pantai dan di Banyumas cukup dekat, yakni ketinggian air laut 46 mdpl (meter di atas permukaan laut),” ungkap Trisno.

Cara Menanam dan Perawatan

Trisno menjelaskan, untuk perawatan pohon buah naga terbilang cukup mudah. Selain itu, untuk masa produktivitas tanaman ini pun terbilang lama, yakni mencapai 15 tahun.

Menurutnya, pohon buah naga juga akan terus berbuah secara beruntun bila perawatan yang dilakukan dan pupuk kandang yang digunakan sudah tepat. Menanam pohon buah naga harus dilakukan bersamaan dengan penancapan batang kayu penopang. Pasalnya, pohon buah naga tak mempunyai batang yang kokoh seperti batang buah lain.

“Kalau saya, selain pakai kayu, juga sekalian menanam pohon randu yang nantinya, pohon buah naga melekat pada pohon randu,” terangnya.

Trisno menerangkan, dalam memilih bibit yang akan ditanam, ia memilih batang pohon yang hijau, keras, dan sehat. Nantinya, batang yang dipotong itu akan ditancapkan pada tanah.

Untuk jarak antar pohon, dibuat sekitar 2 meter dan 3 meter antar baris. Hal ini untuk memaksimalkan perkembangan pohon buah naga saat tumbuh nanti.

Sementara itu, untuk perawatannya sendiri, Trisno menggunakan tiga jenis pupuk, yakni pupuk kandang, pupuk jerami, dan pupuk kimia.

“Pupuk jerami biasanya habis panen. Kebanyakan, pupuk kandang, setiap enam bulan sekali,” ungkap Trisno..

Dia mengatakan, dirinya lebih banyak menggunakan pupuk kandang karena dianggap lebih aman bagi tanaman. Selain itu, buah yang dihasilkan juga menjadi lebih manis.

Meski begitu, dia mengatakan, bukan berarti tanaman buah naga dapat terbebas dari hama dan serangan penyakit. Pohon buah naga yang ditanamnya sering kali rusak karena terkena penyakit cacar yang menyerang pada batang pohon.

Saat hal ini terjadi, upaya yang dilakukannya adalah memangkas batang yang terserang penyakit cacar agar tidak menular dan menyebar ke batang lain.

Dia menjelaskan, penyakit cacar tersebut tak hanya menular ke batang lain, namun juga berpengaruh pada buah. Kulit buah naga dari batang terkena cacar akan memiliki bintik merah coklat.

“Tapi, setelah diperhatikan, buah yang dari luar kulitnya nggak bagus tapi dalamnya bagus dan rasanya lebih manis,” jelasnya.

Trisno mengukapkan, dirinya terus berinovasi guna memaksimalkan hasil panen buah naga di kebunnya. Salah satunya dengan menggunakan lampu pada malam hari untuk merangsang pembungaan. Cara ini sudah diterapkannya sejak tahun lalu.

“Untuk merangsang pembungaan, karena secara umum buah naga kalau tidak ada perlakuan seperti itu tidak berbuah. Bagian yang tidak kena lampu jarang ada buahnya,” kata Trisno.

Saat ini Trisno menggunakan lampu 9 watt dan sudah ada 132 lampu untuk menerangi 142 pohon buah naganya. Lampu tersebut akan dinyalakan semalaman, dari pukul 18.00 hingga 06.00. Penyalaan lampu tersebut dilakukan selama 20 hari terus menerus, jika sudah terlihat ada calon bunga yang muncul.

  • Bagikan