Pendiri Tani Ternak Organik Bersinar (T2OB), Sutimin, saat memberikan materi dalam seminar daring yang diadakan oleh PPMT GKY akhir pekan kemarin.

Mediatani – Pada tahun 2020 ini, ketersediaan pupuk bersubsidi mulai menipis dikarenakan berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah. Hal itu membuat banyak petani kesulitan mencari pupuk bersubsidi. Padahal, pupuk merupakan komponen yang paling vital dalam mengelola pertanian.

Adapun pupuk non subsidi dapat dijadikan alternatif, namun tentu saja mereka harus merogoh kocek lebih dalam karena harganya bisa mencapai tiga kali lipat lebih mahal dari pupuk bersubsidi.

“Bertani itu sebenarnya dasarnya adalah pupuk, makanan tanaman,” kata seorang praktisi dan pegiat pertanian organik di Semarang yang merupakan pendiri Tani Ternak Organik Bersinar (T2OB), Sutimin, dalam seminar daring yang diadakan oleh PPMT GKY akhir pekan kemarin.

Dikutip dari Kumparan. com, Sutimin mengatakan bahwa selain solusi pupuk non subsidi itu, sebenarnya petani masih punya pilihan lain apabila kesulitan mendapat pupuk bersubsidi. Pilihan itu adalah membuat pupuk sendiri secara organik, baik pupuk cair maupun padat. Terlebih lagi, menurutnya, semua bahan untuk membuat pupuk sudah tersedia di sekitar kita.

Untuk membuat pupuk organik, bahan pertama yang bisa digunakan adalah bahan-bahan nabati yang berasal dari tanaman di sekitar kita. Syarat tanaman tersebut bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan pupuk yang baik adalah mengandung NPK nabati, atau Nitrogen, Phospor, dan Kalium.

“Kenapa harus NPK? Karena mau masuk ke ujung bumi manapun, bahwa makanan tanaman kita hanya berkisar di Nitrogen, Phospor, dan Kalium,” lanjutnya.

Pertumbuhan tanaman sangat ditunjang oleh tiga zat tersebut. Nitrogen berperan sebagai perangsang pertumbuhan tanaman, phospor untuk perakaran tanaman, serta kalium untuk merangsang pembuahan tanaman. Bahkan, menurut Sutimin, sumber bahan pestisida alami juga sudah tersedia di sekitar manusia.

Beberapa contoh tanaman yang dimaksud oleh Sutimin, di antaranya adalah daun pepaya, klirisidi, singkong, binahong, kelor, ketela rambat, kromolina, kacang tanah, serta tanaman afrika. Daun dari semua Bagian tanaman yang digunakan untuk membuat pupuk dari semua tanaman itu adalah daunnya, sebab daun tanaman-tanaman tersebut mengandung nitrogen yang cukup dominan.

“Itu semua adalah sumber nitrogen yang sehat untuk tanaman-tanaman kita,” ujar Sutimin.

Kemudian untuk sumber bahan baku yang mengandung phospor, bisa digunakan bahan-bahan alami seperti batang dan pelepah pisang, dedaunan kering, serta daun bambu. Jamur-jamur yang menyala yang biasanya hidup di bawah pohon-pohon bambu, juga mengandung phospor yang cukup tinggi.

Selain mengandung phospor, batang dan pelepah pisang juga mengandung kalium. Bahan nabati lain yang juga mengandung kalium di antaranya daun nangka, dan sabut kelapa.

“Inilah dasar untuk bertani bahwa pupuk NPK itu ada di lingkungan kita. Di dapur dan pekarangan kita semuanya ada,” ujarnya.

Petani sebenarnya juga bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitarnya sebagai pestisida. Ada tiga ciri tanaman yang bisa dijadikan sebagai pestisida alami, yakni aroma yang kuat, rasa yang kuat, serta memabukkan. Tanaman dengan aroma yang kuat misalnya pandan wangi, sereh, daun jahe, tembelekan, cendana, binahong, daun jeruk, kenikir, serta daun tapak kuda.

“Rata-rata semua tidak pernah kena ulat atau dimakan serangga. Itulah ciri khas yang bisa kita pakai untuk mengendalikan hama dan penyakit,” lanjutnya.

Sementara tanaman dengan rasa yang kuat misalnya daun pepaya, daun sirsak, daun afrika, daun kamboja, serta cabai. Kemudian untuk kategori daun-daun yang memabukkan di antaranya adalah daun tembakau, akar tuba, gadung, serta kecubung.

Membuat Pupuk NPK Padat Sendiri

Proses pembuatan pupuk NPK organik tersebut langsung dipraktikkan oleh Sutimin. Tahap pertama, ia menyediakan bahan-bahan yang mudah ditemukan dengan kandungan nitrogen, phospor, dan kalium, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Bahan-bahan tersebut kemudian dicacah kecil-kecil dan dicampur menjadi satu.

Bahan-bahan tersebut kemudian diberi tambahan cairan yang dibuat dari biang organik atau probiotik padat, air gula, dan air secukupnya. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses fermentasi.

Cairan tersebut kemudian disiramkan ke bahan-bahan alami yang sudah dicacah hingga kelembapannya mencapai sekitar 30 persen. Cirinya, ketika digenggam kuat adonan tersebut tidak mengeluarkan air, namun ketika genggaman dibuka adonan menjadi menggumpal.

“Bahan-bahan yang dicacah sambil disiram terus diaduk-aduk supaya kelembapannya merata,” ujar Sutimin.

Untuk mempercepat pertumbuhan mikroba, semua bahan yang telah dicampur kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik dan didobel dengan karung beras. Setelah semua bahan dimasukkan, kantong plastik kemudian dibungkus rapat begitu juga dengan karung beras yang menjadi pelapis luar. Bahan-bahan tersebut kemudian didiamkan selama tujuh hari untuk melakukan fase fermentasi.

“Jadi dedaunan dan sampah-sampah kering di sekitar kita, bisa dijadikan pupuk seperti ini. Dan untuk membuat pupuk padat bisa kita lakukan di rumah kita,” ujarnya.

Membuat Pestisida Nabati

Tak jauh berbeda seperti membuat pupuk, membuat pestisida nabati juga bisa dilakukan sendiri di rumah. Bahan-bahannya yang memiliki rasa dan aroma kuat serta memabukkan disiapkan terlebih dahulu. Kemudian bahan-bahan tersebut ditumbuk hingga cukup halus dan menjadi satu.

Sama seperti membuat pupuk, bahan yang telah tercampur tadi dimasukkan ke karung dan plastik. Agar pestisida yang dihasilkan juga mengandung NPK, Sutimin mencampur bahan-bahan tersebut dengan ramuan pupuk NPK organik yang sudah dibuat sebelumnya.

Ramuan pestisida plus NPK yang sudah dimasukkan ke dalam plastik dan karung tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ember dengan ukuran yang menyesuaikan. Untuk mempercepat proses fermentasi, ramuan tersebut juga diberikan cairan perangsang dari air, air gula, dan biang organik.

“Jadi di sini sudah ada N, P, K plus pestisida. Tinggal tunggu tujuh sampai 21 hari, kita sudah punya pestisida plus pupuk NPK dengan biaya yang murah,” lanjutnya.

Membuat Nutrisi dari Limbah Dapur

Banyak yang tak menyadari, limbah-limbah dapur yang biasa dibuang begitu saja, ternyata dapat digunakan untuk membuat nutrisi tanaman. Misalnya limbah air cucian beras, sisa-sisa sayuran, buah, kulit telur, kulit bawang, dan bahan-bahan organik lainnya.

Untuk membuatnya, juga tidak jauh berbeda dengan pembuatan pupuk dan pestisida. Pertama, limbah cucian beras dimasukkan ke dalam plastik dan karung. Selanjutnya, limbah-limbah lain yang tersedia dimasukkan ke dalam air cucian beras.

Begitupun juga untuk proses fermentasinya, perlu ditambahkan air gula dan biang organik ke dalam ramuan tersebut. Ramuan itu kemudian diikat rapat dan cukup didiamkan selama tujuh sampai 10 hari.

Setelah mengetahui penjelasan tersebut, menurut Sutimin, seharusnya semua pihak yang kesulitan karena kelangkaan pupuk tidak perlu pusing lagi. Karena limbah-limbah yang selama ini ada di dapur dan lingkungan kita, sudah bisa dibuat menjadi pupuk, nutrisi, sekaligus pestisida.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here