Home / Berita / Internasional

Kamis, 2 Juli 2020 - 12:46 WIB

Tradisi Minum Bir Beras dan Bermain Lumpur Warnai Hari Padi Nepal

Tradisi bermain lumpur utuk merayakan Hari Padi Nepal

Tradisi bermain lumpur utuk merayakan Hari Padi Nepal

Mediatani – Para petani Nepal di penjuru negeri merayakan Hari Padi Nasional sebagai musim tanam padi tahunan. Meskipun tahun ini pemerintah masih menetapkan sejumlah langkah penguncian (lockdown) demi menanggulangi virus corona.

Tradisi perayaan yang dilakukan pada tanggal 15 bulan Nepal Asar ini bisa dibilang cukup unik. Para petani berdiri di tengah ladang, menari dan bermain lumpur sembari menanam bibit padi. Meneguk nikmatnya bir hasil fermentasi beras. 

Lagu-lagu tradisional bertemakan pertanian dan tawa bergema di udara ketika para petani menyeberang ke sawah yang tergenang air untuk menabur benih padi. Warga setempat juga menikmati dadih dan nasi yang ditumbuk, menu makan siang tradisional Nepal.

Baca Juga :   Harga Daging Sapi dan Cabai Merah di Sukabumi Melambung

“Ini adalah hari yang penting bagi kami. Keluarga dan teman-teman kami semua berkumpul di ladang untuk menanam dan bersenang-senang,” kata salah satu petani, Ramesh Dongol (35), seperti yang dikutip dari AFP pada Selasa (30/6).

Sebelum pandemi virus corona, ada banyak tur wisata yang digelar selama perayaan 15 Asar ini. Salah satunya di Charikot yang medannya perbukitan.

Sebagai makanan pokok, beras menjadi salah satu hasil tanam terbesar di Nepal. Negara itu menghasilkan lebih dari 5 juta ton beras pada tahun lalu, menurut kementerian pertanian.

Baca Juga :   Memprihatinkan, Petani Sawi Pahit dihargai Rp 400 Per/Kg

Data pemerintah menunjukkan bahwa 70 persen awal populasi Nepal bergantung langsung pada pertanian, dan sektor ini menyumbang sekitar sepertiga dari PDB negara itu.

Dikutip dari Worldometers pada Rabu (1/7), hingga saat ini ada 13.564 kasus virus corona di Nepal, dengan 29 kasus kematian dan 3.194 kasus kesembuhan. Angka tersebut memaksa pemerintah untuk membuat langkah-langkah lockdown terhadap virus corona.

Hal tersebut telah mengganggu pasokan pertanian, menciptakan kekurangan benih dan pupuk, mendorong kekhawatiran untuk produksi pertanian negara itu.

Share :

Baca Juga

Berita

Tingkatkan Kinerja Kearsipan, BKP Kementan Selenggarakan Bimtek

Nasional

Petani Cilegon Nyaris Masak Bunga Bangkai Karena dikira Jantung Pisang

Berita

‘Anak Kandang Farm’, Wisata Edukasi hingga Belajar Beternak di Sidoarjo

Berita

Hewan Ternak Milik Pengungsi Gunung Merapi Terpaksa Dijual, Sukono: Mereka Tidak Punya Pilihan

Agribisnis

Kisah Petani Sukses Dari Nol yang Jadi Pengusaha Kaya Raya

Nasional

Sektor Pertanian RI Peroleh Apresiasi dari Filipina

Berita

Masuk Musim Hujan, Petani Garam Memilih Diam Di Rumah

Berita

Tahun 2020, Robot Siap Gantikan Pekerjaan Petani