Aksi Solidaritas, Peternak Donasikan 1 Ton Telur untuk Nakes

  • Bagikan
Penyaluran donasi telur di Magelang/via inews.id/Puji Hartono/ist

Mediatani – Kelompok atau Paguyuban peternak ayam petelur di Magelang menggelar aksi sosial mereka dalam rangka mendukung penanganan pandemi Covid-19. Tercatat, ada sekitar 1 ton telur yang didonasikan kepada tenaga medis di wilayah setempat.

Penyerahan donasi telur itu pun secara simbolis diwakili oleh Ketua Pinsar Petelur Nasional Magelang Iriyadi kepada Bupati Magelang Zainal Arifin, Kamis (29/7/2021), lalu.

Telur yang didonasikan kepada pihak Pemkab dan Pemkot Magelang, rupanya merupakan penggalangan dari 80 peternak ayam petelur.

Telur nantinya bakal disalurkan pada tenaga kesehatan (nakes) yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 di tempatnya.

“Kami terpanggil untuk ikut berperan mengatasi pandemi Covid-19 melalui kegiatan peduli kepada nakes,” kata Ketua Pinsar Petelur Nasional Magelang, Iriyadi, mengutip, Minggu 1 Agustus dari laman Inews.id.

Donasi yang disalurkan kepada nakes pun diharapkan dapat meningkatkan semangat mereka yang kini menangani pasien Covid-19. Sekaligus hal itu sebagai bukti bahwa masyarakat mendukung dan bersama para tenaga medis.

Bantuan telur yang diberikan, nantinya akan diolah terlebih dahulu di BPBD setempat. Setelah itu telur akan diberikan dalam bentuk siap santap kepada para tenaga medis.

“Ini menunjukkan semangat dan karakter ke-Indonesiaan kita, semangat gotong royong ingin berbagi dalam situasi pandemi Covid-19,” ucap Bupati Magelang Zainal Arifin.

Sementara itu, di Palembang, kondisi prihatin menimpa sejumlah peternak ayam di Kota Palembang. Mereka terpaksa gulung tikar karena terjadi penurunan harga akibat pelemahan daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini.

Baca Juga :   Inspiratif! Terdampak Pandemi lalu Pilih Jadi Petani, Khairul Berhasil Ekspor Umbi Madu ke Korea

Asosiasi Masyarakat Peternak Sumatera Selatan menyatakan sulit untuk bertahan karena di saat harga turun, serapan di pasar juga rendah.

Ketua Asosiasi Masyarakat Peternak Sumatera Selatan Ismaidi Chaniago menuurkan, kondisi yang menyulitkan itu membuat peternak plasma (gabungan beberapa peternak) dengan produksi 10.000 ekor dalam satu siklus (1,5 bulan) terbilang kesulitan untuk bertahan di era pandemi.

“Harganya sudah turun, tapi serapan juga rendah. Jadi biaya produksi sudah tidak seimbang lagi dengan pemasukan, jadi mereka terpaksa gulung tikar,” kata dia, mengutip dari situs yang sama, Minggu, 1 Agustus.

Harga ayam potong saat ini di pasaran, lanjut dia, berkisar di angka Rp24.000 per kilogram. Itu pun sudah bertahan kurang lebih sebulan terakhir di sejumlah pasar tradisional Palembang.

Dengan kondisi harga seperti itu di pasaran, itu beraeti harga ayam potong dengan berat bersih 1,6 kg-1,7 kg per ekornya hanya terjual Rp13.000—Rp14.000 per kg di kandang.

Di sisi lain, para peternak juga bisa dikatakan akan mendapatkan untung jika harga di kandang berkisar Rp18.000 per ekor. “Peternak rugi sekitar Rp5.000 per ekor, siapa yang bisa tahan. Lama-lama ya terpaksa tutup peternakan,” ucap dia.

Ia bilang, bukannya peternak menyerah atas kondisi tersebut, namun upaya untuk menghadapi pelemahan daya beli masyarakat ini pula sudah dilakukan mereka dengan cara menekan biaya produksi.

Baca Juga :   Mahasiswa Kreatif di Masa Pandemi, Dapat Hibah British Council hingga Buat Masker dari Sekam

Sebagian pula sudah mengurangi jumlah tenaga kerjanya, hingga mengurangi produksi.

Saat ini, asosiasi memperkirakan terjadi penurunan permintaan sekitar 25-30 persen dibandingkan dalam kondisi normal terhadap ayam potong dari kebutuhan sekitar 120.000 ekor per hari untuk Kota Palembang dan 250.000 ekor per hari untuk Sumatera Selatan.

Namun, pengurangan produksi yang dilakukan kurang berdampak signifikan lantaran saat ini produksi dari luar provinsi juga masuk ke Palembang, seperti dari Lampung dan Jambi.

“Bahkan dari Jawa juga masuk ke sini (Palembang) sejak ada jalan tol. Ini umumnya berasal dari peternakan skala industri yang satu kandang saja bisa memproduksi 50.000 ekor ayam,”terangnya.

Di tengah situasi ini, asosiasi pun mengharapkan agar pemerintah memperketat jalur perdagangan antar daerah agar harga dan serapan tidak lebih tertekan.

Selain itu, asosiasi juga mengingatkan semua pihak harus bersinergi dalam penanganan Covid-19 karena apa yang terjadi saat ini telah berdampak pada perekonomian.

Akan tetapi, fakta yang terjadi di lapangan diketahui menunjukkan harga-harga mulai bergerak turun, di antaranya ayam potong.

“Tentunya inflasi yang rendah ini tidak bagus untuk perekonomian. Oleh karena itu, semua pihak harus mendorong dari sisi ekonomi,” jelasnya.(*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani