Bansos Ayam Hidup di Cianjur Dikeluhkan Warga

  • Bagikan
ILUSTRASI. Penerima bansos. (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ist

Mediatani – Warga penerima bantuan sosial yang berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) di daerah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengeluhkan penerimaan ayam hidup saat mencairkan bantuan.

Umumnya, warga penerima bantuan ini menerima bantuan dalam bentuk daging ayam potong.

Dilansir dari CNNIndonesia.com yang melansir dari detik.com warga di sana mengaku keberatan dengan bantuan dalam bentuk ayam hidup itu, karena harus menyembelih terlebih dulu alih-alih tinggal mengolah.

“Sempat heran kenapa dikasihnya ayam hidup, bukan daging ayam. Tidak dikasih tahu kenapa,” ucap Mpuy (bukan nama sebenarnya), salah satu warga Desa Pagelaran, Cianjur, Senin (25/1/2021) dikutip Rabu (27/1/2021).

Sejumlah warga lainnya pula merasa kesal karena ayam yang diterima dalam kondisi mati ketika tiba di rumah.

“Ada juga yang mati saat sampai di rumah. Sudah bingung, kesal juga karena jadinya malah tidak bisa diolah. Mau disembelih juga sudah tidak bisa, karena kondisinya sudah mati,” tutur dia.

Kepala Dinsos Jabar Dodo Suhendar mengatakan sejak penyaluran BNPT, tak ada laporan perihal keluhan terkait pembagian itu. Namun pihaknya memastikan tim Dinsos Jabar melakukan pengecekan ke lapangan.

Sementara itu Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Cianjur Surya menuturkan bahwa dirinya juga baru mendengar ada kasus pembagian BNPT yang diberi ayam hidup.

Biasanya bantuan dari Kementerian Sosial itu ialah berupa sembako.

Warga atau Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bakal diberi bantuan dengan nilai Rp200 ribu melalui kartu khusus yang ditukarkan dengan sembako di jaringan layanan bernama e-Warong.

Nantinya pihak KPM akan menerima empat komoditas berupa beras sebagai sumber karbohidrat, telur, daging sapi, daging ayam dan ikan sebagai sumber protein hewani, kacang-kacangan atau tahu tempe sebagai protein nabati, hingga buah-buahan sebagai sumber vitamin.

Dirinya mengaku akan segera menindaklanjuti kasus itu.

“Segera akan dicek,” ucap Surya.

Pihak Kemensos juga mengutarakan bahwa sedang mengecek pembagian bantuan tersebut.

“Di bagian bawah Dinsos bakal melakukan pengecekan. Tunggu saja,” kata Kepala Bagian Publikasi dan Pemberitaan Kemensos Herman Koswara.

Di Jabar sendiri ada 3.515.180 KPM yang merupakan tercatat sebagai penerima BPNT ini. Jumlah ini pun berkurang dari tahun sebelumnya, yang mana dialokasikan sebanyak 3.721.490 KPM.

Sementara itu, Kalangan peternak ayam pedaging maupun ayam petelur di Banda Aceh dan Aceh Besar sudah dalam tiga bulan terakhir ini mengeluh atas kenaikan harga pakan ternak yang nilainya sudah mencapai berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000/sak.

Di sisi lain, harga ayam pedaging dan telur, saat ini cenderung menurun.

Dikutip Rabu (27/1/2021) dari situs serambinews.com, telur ayam ras harga ecerannya sedang turun dari Rp 48.000/lemping dihargai menjadi Rp 45.000/lemping (30 butir) dan satu ikat turun dari 450.000/ikat menjadi  Rp 430.000 (300 butir). Untuk ayam pedaging harganya juga turun dari Rp 50.000/ekor menjadi Rp 48.000 – Rp 45.000/ekor untuk ayam seberat 1,5 – 1,8 Kg.

Seorang pedagang pakan ternak Ibnu mengatakan, kenaikan harga pakan ternak terjadi sejak bulan November 2020 lalu.

Besaran kenaikannya pun disebut Ibnu, setiap bulannya  mencapai Rp 7.000 – Rp 10.000 per sak.

Total kenaikannya pun sampai bulan Januari  2021 ini, sekitar Rp 40.000 – Rp 50.000/saknya.

Dia mnuturkan, misalnya pakan ternak untuk ayam pedaging dengan kode 324/524 harga pada bulan Oktober 2020 lalu, masih berkisar Rp 300.000/sak (50 Kg), pada bulan Januari 2021 ini sudah naik menjadi Rp 340.000 – Rp 350.000/kg.

Begitu tambah dia untuk pakan ternak ayam petelur dengan kode 511, harganya kini mencapai angka Rp 425.000/sak (berat 50 Kg). Harganya pada bulan Oktober 2020 lalu, sekitar Rp 380.000/sak (50 Kg), bulan januari 2021 ini sudah naik menjadi Rp 425.000/sak (50 Kg).

Akibat kenaikan harga pakan itu dia membeberkan bahwa omset penjualan pakan ternak ayam petelur maupun ayam pedaging, di tokoknya turun sebesar 30 persen.

Penurunan omset penjualan pakan itu pun disebabkan banyak peternak ayam lokal sudah tidak lagi melanjutkan kegiatan usaha peternakannya. Karena dinilai sudah tak mampu membeli pakan ayam. (*)

  • Bagikan