Budidaya ikan sidat berskala industri di Banyuwangi, Jawa Timur

Mediatani – Nama ikan Sidat (Anguilla spp.) bagi sebagian besar masyarakat Indonesia hingga saat ini masih terdengar asing. Ikan yang bisa hidup di perairan air tawar dan asin itu, masih kalah populer dibanding jenis ikan lainnya di perairan Indonesia. Bahkan, meski fisiknya menyerupai belut sawah (Monopterus albus), Sidat tetap belum mendapat tempat di masyarakat Indonesia.

Padahal, ikan tersebut popularitasnya sangat tinggi di negeri Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. Bahkan, khusus di Jepang, Sidat menjadi santapan favorit warganya dan dikenal dengan sebutan Unagi. Maka itu, tak heran jika orang Indonesia lebih mengenal sebutan Unagi ketimbang Sidat.

Sebagai ikan yang bisa hidup di hawa tropis, Sidat diketahui sudah dikembangkan oleh banyak pelaku usaha perikanan. Namun, menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), hanya beberapa provinsi yang sangat serius mengembangkan komoditas bernilai ekonomi tinggi itu.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong berbagai pihak termasuk pemda dan pelaku usaha perikanan mengembangkan budi daya ikan sidat, yang potensinya besar termasuk pasar ekspor global.

“Perlu dijalin kesepakatan antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, nelayan, pembudi daya, peneliti, akademisi serta pemerhati lingkungan untuk membangun komitmen pengelolaan ikan sidat di Indonesia yang bertanggung jawab dan lestari,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto seperti dilansir Antara, Minggu, 12 Juli 2020.

Menurut dia, KKP siap untuk terus mendorong pengembangan budi daya sidat di kawasan-kawasan potensial, namun mengingat benih yang masih didapatkan dari alam perlu untuk dilakukan pengelolaan secara bertanggung jawab guna menjaga keberlangsungan habitat sidat tetap lestari.

Terus meningkatnya penangkapan di alam, bisa terjadi karena hingga saat ini Sidat belum dibudidayakan pada tingkat hatchery (pusat pembenihan) dan itu mengakibatkan para pelaku usaha sangat bergantung pada benih yang ada di alam. Maka itu tak mengherankan jika ketersediaan Sidat di alam dari tahun ke tahun saat ini sedang terancam.

Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penurunan Sidat di perairan adalah dengan menyusun kebijakan, aturan, dan upaya-upaya pengelolaan untuk mewujudkan sumber daya ikan Sidat bisa berkelanjutan.

Slamet menerangkan guna menjaga kelestarian dan keberlangsungan populasi sidat, pemerintah telah mengatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No 19 Tahun 2012 mengenai larangan pengeluaran benih sidat dari wilayah Indonesia, dengan ukuran kurang dari atau sama dengan 150 gr per ekor dilarang untuk diekspor.

“Penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan serta penggunaan benih untuk budi daya dengan ukuran sesuai ketentuan turut menjadi faktor penunjang keberhasilan usaha budi daya yang dilakukan,” lanjut Slamet.

Selama siklus hidupnya ikan sidat berperan sebagai ikan air tawar yakni mulai dari fase glass eel, elver hingga dewasa, kemudian menjadi ikan laut saat akan memijah hingga stadia telur. Setelah memijah, ikan dewasanya akan mati.

Ia memaparkan lokasi pemijahan ikan sidat jenis Anguilla bicolor bicolor di dekat perairan lepas palung Mentawai Sumatera, sedangkan Anguilla marmorata di bagian barat Pasifik Utara.

Sebaran antara lain di Pelabuhan Ratu dan Cilacap, pantai selatan Jawa, ada sepanjang tahun dan puncaknya pada Desember-Februari dengan komposisi terbanyak jenis Anguilla bicolor bicolor dan sedikit Anguilla marmorata.

Sementara itu, Head of Aquaculture JAPFA Group (perusahaan agrobisnis), Ardi Budiono menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan kemitraan dengan beberapa pengusaha lokal untuk dapat membesarkan benih sidat dari ukuran glass eel sampai menjadi elver atau proses Shirasu jika menggunakan istilah dari perusahaan. Proses ini memakan waktu kurang lebih 4-5 bulan hingga benih mencapai ukuran 2-3 gram.

“Setelah mencapai ukuran 2-3 gram per ekor, kami tampung hasilnya di perusahaan untuk dapat dibesarkan hingga mencapai ukuran panen yakni 250 gram per ekor. Proses selanjutnya adalah dikirimkan ke pabrik pengolahan, untuk dijadikan produk olahan siap santap. Model integrasi budi daya dan pengolahan sidat ini merupakan satu-satunya di Indonesia,” papar Ardi.

JAPFA Group memproduksi rata-rata lebih dari 100 ton sidat per tahun atau 380 ton sidat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Total nilai ekspor yang tercatat sepanjang 2019 mencapai Rp437 miliar, sedangkan pada Januari hingga Juni 2020 total nilai ekspor telah mencapai Rp216 miliar.

Menurut data sementara, hasil produksi sidat di Indonesia pada 2019 mencapai 515,18 ton atau mengalami kenaikan produksi hingga 59 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara penghasil Sidat terbesar di dunia, khususnya jenis Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla marmorata. Status tersebut bisa didapat, karena selama ini Indonesia menjadi salah satu eksportir utama Sidat ke Jepang, dan selalu berhasil memenuhi permintaan dari negara tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here