Bukannya Untung, Panen Raya Petani Sragen Malah Rugi

  • Bagikan

Mediatani – Bulan Februari 2021 menjadi waktu panen raya di beberapa daerah di Indonesia. Namun tidak semua petani bisa merasakan keuntungan dari panen raya itu.

Inilah yang dirasakan oleh para petani di Sragen, Jawa Tengah, yang mengalami kerugian pada musim panen Februari 2021 ini. Hal ini disebabkan harga gabah kering panen (GKP) menurun drastis hingga Rp3.600/kg. Curah hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab anjloknya harga GKP ini.

Akibatnya, sejumlah petani memilih untuk memanen sendiri dan menjualnya dalam bentuk gabah kering giling (GKG). Panen raya ini terjadi di Kecamatan Sukodono, Kedawung, Karangmalang, Sragen Kota, dan Ngrampal.

Dilansir dari Solopos.com – Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Muhlish mengatakan bahwa saat ini harga GKP mengalami penurunan yang signifikan, bahkan harga pada pagi dan siang hari pun berbeda (25/2/2021).

Muhlish menyebutkan jika panen menggunakan thresher di pagi hari harganya Rp3.600/kg. Sedangkan panen di siang hari harganya naik menjadi Rp3.800/kg. Kemudian, jika panen dengan menggunakan combine harvester untuk pagi hari harganya Rp3.800/kg dan siang hari Rp4.000/kg.

Tentunya harga-harga tersebut tidak sesuai dengan harga standar yaitu Rp4.500/kg. Padahal, saat panen akhir tahun 2020 lalu masih laku Rp4.700/kg. bahkan di Desa Cemeng, Kecamatan Sambunngmacan, harganya bisa sampai Rp4.900 hingga Rp5.000/kg.

Dengan anjloknya harga tersebut jelas membuat petani mengalami kerugian. Bahkan di Kecamatan Sukodono, padi yang sudah ditawar dan sudah diberikan uang muka ternyata dibatalkan oleh penebas. Para pemebas lebih rela kehilangan uang muka karena telah memperhitungkan hasilnya yang anjlok.

Selain harga yang anjlok, para petani juga mengalami kerugian akibat produktivitas yang menurun. Muhlish mengaku bahwa sawah miliknya yang normalnya bisa menghasilkan 60 sak dengan berat 50 kg per sak dengan luas lahan 6.600 meter persegi, kini hasilnya turun hingga 20 sak dan hanya bisa menghasilkan 40 sak.

Dengan begitu, Muhlish akhirnya memilih untuk panen sendiri dan hasil panennya dijual dalam bentuk GKG kuintalan atau dalam bentuk beras. Hal ini dilakukan karena hasilnya bisa lebih baik dibandingkan ditebaskan oleh tengkulak.

Begitu pula yang dilakukan oleh Suratno, petani asal Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Petani ini memilih untuk membawa pulang hasil panennya.

Jika hasil panennya dijual ke tengkulak, Suratno hanya mendapatkan hasil sesuai yang ditawar tengkulak yaitu Rp2 juta. Padahal, lahan seluas setengah patok miliknya jika dipanen sendiri ternyata mampu menghasilkan Rp2,4 juta. Alasan inilah yang membuatnya nekat memanen sendiri dan menjual hasilnya dalam bentuk gabah kering giling atau beras.

Terkait harga jual beras, Suratno sempat bertanya kepada pengusaha beras. Kondisinya, ada pengusaha beras yang berani membeli dengan harga Rp4.000/kg untuk panen di siang hari.

Pengusaha beras tidak mau mengambil hasil panen di pagi hari dengan alasan padi yang dipanen di pagi hari memiliki resiko kadar air tinggi. Sedangkan untuk menjemur gabah pun tidak bisa kering dengan segera karena cuaca yang lebih sering mendung.

Suratno menjelaskan bahwa petani bisa terhitung impas dengan tenaga jika bisa menjual GKP dengan harga sampai Rp4.500/kg. Jika harga jual hanya sampai Rp4.000/kg, maka petani masih rugi dalam hal tenaga.

Harapannya, dengan adanya kondisi seperti ini, Suratno meminta agar ada perhatian dari pemerintah sehingga petani dapat menghindari resiko kerugian.

 

  • Bagikan