Dulu Manajer BUMN Kini Miliki 700 Kambing, Didi: Bukan Cari Harta Berlebih tapi Keberkahan

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
Tangkapan layar/Youtube capCapung/Didi peternak kambing perah/IST

Mediatani Didi ialah seorang peternak kambing perah yang berlokasi di Dusun Kemiri Kebo, Desa Giri Kerto Kecamatan Turi Sleman Yogyakarta. Dia bersama kakaknya mendirikan peternakan kambing yang diberi nama Bumi Nararya Farm.

Dia mengsiahkan, sebelum menjadi seorang peternak Kambing, dirinya adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan negara. Tahun 2010 silam mengajukan resign kemudian diajak oleh kakaknya untuk mendirikan peternakan kambing.

Ketika menjadi seorang manajer termuda di BUMN, dia menuturkan, memiliki penghasilan cukup, berfasilitas lengkap. Tapi beda hal dengan beternak, dirinya mendapatkan rasa bahagia, rasa syukur, rasa merdeka atas hidupnya.

“Bahwa beternak itu membahagiakan, beternak itu mensejahterakan, beternak itu sunnatullah, seperti halnya profesi nabi-nabi kita terdahulu. Jadi kami beternak tidak semata untuk mencari kejayaan atau harta yang berlebihan, tapi kami lebih daripada mencari sebuah keberkahan,” kata Didi dilansir dari akun Youtube CapCapung, Sabtu (6/3/2021).

Keberkahan itu pun ungkapnya adalah apa diperoleh, bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, untuk lingkungan, teman-teman yang bekerja dengan, dan itu jauh lebih bernilai. Ketimbang harta yang berlebihan.

“Alhamdulillah, satu pengalaman spiritual saya, ketika pertama kali kambing kami melahirkan ada rasa syukur yang luar biasa. Ada rasa kebesaran Allah di sana. Di situ saya mulai mencintai dan kami memutuskan menjadi peternak breeding,” ungkapnya.

Sejak 2012 silam,  Didi menceritakan, dia dan sang kakak memulai dengan beternak 70 ekor kambing Jawarandu dan satu ekor pejantan pesanen. Dan hingga hari ini, populasinya telah mencapai 732 ekor dengan 90 persen kambing sanen peranakan etawa.

Pada mulanya, lanjut dia, ada masalah besar dalam usaha beternaknya. Hal itu dikarenakan keterbatasan ilmu, keterampilan, mempelajarinya secara otodidak. Apalagi biaya pelatihan cukup mahal. Di situ pihaknya kehilangan banyak ternak akibat dari ketidakpahaman.

“Dari 70 ekor, dalam sebulan kami kehilangan hampir 30 ekor. Dengan estimasi kerugian hampir Rp 18 juta karena harga 1 ekor kambing Rp 600 ribu. Akhirnya seiring berjalannya waktu, kami memulai memahami dan bisa meminimalkan kerugian ternak yang sebenarnya tidak perlu,” terangnya.

Baca Juga :   Panen Perdana Telur Ayam BUMG Usaha Bersama, Bupati Aceh Selatan Harap Kecamatan Lain Meniru

Dia menjelaskan, ada perbedaan antara peternak kambing perah dengan peternak perah kambing. Peternak kambing perah ialah peternak yang mengelola, merawat, dari proses melahirkan, kawin hingga menghasilkan susu. Beda halnya dengan peternak perah kambing yang hanya berorientasi mencari susu kambing.

“Kalau bisa kambingnya diperah sampai 10 tahun, tidak ada habis-habisnya. Dari hitungan kami, peternak perah kambing dalam sesaat akan memberikan manfaat ekonomi yang cukup tetapi secara jangka panjang ada kerugian dari sisi penurunan genetik. Mengapa? Karena kambing yang diperah pasti merupakan kambing yang bagus. Sementara kambing yang tidak bagus tidak diperah. Lama-lama kambing kita akan diisi dengan anak kambing dengan genetik yang kurang bagus,’ jelasnya, rinci.

Ketika kambing bagus yang diperah secara terus menerus, maka akan mengalami keseimbangan hormonal, reproduksinya menjadi terganggu.

Pihaknya sendiri adalah peternak kambing perah, core bisnisnya adalah breeding. “Kami kawinkan sesuai jadwal. Setiap indukan kami perah, cempenya dirawat dalam sebuah sistem perawatan dengan kandang individu agar ternaknya terjaga dan terkontrol,” ucapnya.

Dari situ timnya mendapat cempe, susunya diperah, sisanya dijual. Sehingga cempe mendapatkan susu dari induk yang diperah secukupnya, lalu sisa susunya bakal dijual. Dari itu Didi pun mendapatkan semuanya. Itulah yang dilakukan peternakannya.

Dia menekan bahwa kandang sendiri harus menjadi prioritas utama dalam sebuah peternakan. Kandang harus bersih, terawat, membuat ternak nyaman, pekerja juga nyaman, membuat pembelijuga nyaman. Pun, sistem perawatan kesehatan, pakan dan lainnya.

“Mengapa kami berusaha di peternakan kambing perah? Bukan di penggemukan, bukan perah kambing. Karena pternakan kambing perah mulai sustainable, mulai memasyarakat. Permintaan susu kambing semakin hari semakin meningkat. Juga kami berada di dusun sentra pengoalahan susu kambing sehingga secara pasar, kami jauh lebih dekat dengan hilirnya,” ujar dia.

Baca Juga :   Peternak Ayam Petelur di Malang Keluhkan Anjloknya Harga Telur

Menjual susu kambing, menurut dia, bukan hanya sekedar menjual susu, tapi menjual kemanfaatan, menjual kebersihan, menjual kesehatan. Itu substansi dari peternak kambing perah.

Pemerahan di peternakannya juga dilakukan dengan peralatan dan tempat yang modern dan higienis. Lalu susu yang diperah diminimalkan terkontaminasi dengan udara. Diperah dengan mesin kemudian mengalir ke ruangan yang steril. Sehingga tidak terkena udara.

Timnya ingin memberikan sebuah kualitas yang bukan sekedar susu. Sehingga pembeli mendapatkan manfaat sebagaimana pihaknya mendapatkan keuntungan dari menjual.

Perharinya, dia dan tim berhasil memerah sekitar 300 liter. Dengan target tahun 2021 sekitar 400 ekor kambing yang diperah. Diharapkannya, mendapatkan susu 700-800 liter per hari.

Intinya, tambah dia, di negara-negara maju, susu kambing mulai menjadi tren. Dulu orang hanya membeli susu kambing karena sakit, tahun 2020 ketika covid-19, orang membeli susu kambing dan ingin sehat. Jadi ada perubahan paradigma. Dulu karena sakit sekarang ingin sehat.

Dia memberi pesan bahwa kata kunci untuk peternak kambing dan domba pada umumnya adalah genetik. Secara statistik, aktual kambing perah terbaik adalah sanen (asal swiss). Indukannya menggunakan kambing lokal. Saat ini disebut sapera.

Kelebihannya sudah adaptif dengan Indonesia sehingga sapera jauh lebih kuat dan tahan terhadap lingkungan, penyakit dnegan produktivitas yang lebih baik.

Pun dalam peternakan kambing, kata dia ada  menu empat sehat lima sempurna. Pertama, perihal SDM itu penting, kemudian memperhatikan genetik, perawatan atau sistem perawatan ternak. Kemudian cashflow manajemen keuangan), salah satu hal penting tapi jarang dilakukan.

Dua prinsip, keuangan harus tercatat dan harus dipisahkan antara uang rumah dengan uang kandang. Dan pesan terakhir yang juga penting adalah marketing.

“Bagi teman-teman yang berniat mengunjungi Bumi Nararya Farm atau belajar dapat mengunjungi websitenya. Di sana ada jadwal pelatihan, biaya mapun kontak personnya,” tutupnya. (*)

  • Bagikan