Home / Nasional

Minggu, 30 Agustus 2020 - 14:15 WIB

Keran Impor Tak Terkendali, Petani Garam Kian Menderita

Mediatani – Banyaknya perusahaan garam di Kabupaten Gresik yang melakukan impor garam membuat petani garam di Kecamatan Roomo, Gresik mengaku resah karena garam produksi mereka tidak terserap.

Menurut pengakuan salah satu Pengurus Asosiasi Persatuan Petani Garam Kabupaten Gresik, Suri, memasuki masa panen raya harga garam semakin murah saja, saat ini harga di petani garam berkisar Rp 250- Rp 300 per kg. Hal tersebut membuat petani garam pantura semakin menderita.

“Yang digarap di roomo 25 hektare. Yang tidak digarap kurang lebih 40 hektare,” katanya. Sabtu (29/8/2020).

Anjloknya harga garam membuat banyak petani yang terpaksa mogok kerja, lahannya tidak digarap. Tidak adanya kontrol pemerintah terhadap impor garam yang terjadi terpaksa membuat petani kehilangan harapan untuk mendapat harga yang layak.

“Harga yang layak menurut perhitungan petani Rp 700- Rp 800 per kg. Dengan harga segitu petani masih sepadan dengan kerjaannya.  Belum lagi jika harga murah seperti ini banyak anak-anak bangsa dari petani menunda untuk sekolah karena biaya,” keluhnya.

Baca Juga :   Menteri Trenggono Ubah Pendekatan PNBP Perikanan

Suri menilai, pemerintah gagal dalam mengeluarkan kebijakan sehingga dampaknya sangat besar terhadap petani garam lokal.

“Jika alasan pemerintah adalah kualitas garam lokal rendah, harusnya dari pemerintah menyediakan pelatihan agar petani lokal dapat menghasilkan garam berkualitas tinggi,” geramnya.

Selain mengontrol impor garam, Suri juga berharap kepada pemerintah untuk membuat adanya inovasi dan konsistensi dalam meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan.

Komisi IV Desak Pemerintah Turun Tangan

Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin meminta pemerintah untuk turun tangan memberikan perhatian pada petani garam yang mulai mengeluh akibat garamnya tidak terserap.

Banyak yang harus diperbaiki di lapangan terkait masalah garam ini, mulai tidak terserapnya garam rakyat hingga garam impor yang seharusnya untuk industri diperdagangkan untuk konsumsi.

“Meski pemerintah belum mengizinkan impor, tapi di lapangan sudah tampak jelas, bahwa garam impor marak. Pemusnahan 2,5 ton garam himalaya tanpa Standar Nasional Indonesia (SNI) ini baru yang kelihatan, yang tidak kelihatan lebih banyak,” ujar Andi Akmal.

Baca Juga :   Wisata Petik Sayur di Tegal Ramai Pengunjung, Sayuran Petani Ludes Terjual

Andi Akmal mengkritisi bahwa tidak  terserapnya garam rakyat itu disebabkan stok impor garam masih banyak. Padahal pemerintah belum pernah menerbitkan izin impor garam tertentu yang marak di pasar dan sebagian telah dimusnahkan.

Sebelumnya, Akmal telah mengingatkan kepada pemerintah untuk membangun sistem produksi garam yang berkualitas. Bahan baku yang melimpah di Indonesia merupakan potensi besar untuk mengembangkan garam dengan kualitas industri maupun konsumsi.

Saat ini, para pengusaha makanan minuman (mamin) memilih membeli garam impor karena kualitasnya lebih bagus dan harganya lebih murah.

Dia berharap, kedepannya pemerintah mampu menciptakan sektor produksi garam yang memenuhi kebutuhan Nasional. Menurutnya, mengambil (menyerap) garam rakyat akan menjadi mudah ketika sistem industri garam sudah maju.

“Bukan saja memenuhi kebutuhan nasional, potensi Ekspor garam juga menjadi besar dan ini bila tidak menjadi perhatian khusus, sampe berpuluh tahun kedepan kita tidak akan ada kemajuan pada industri garam ini,” ujar Akmal.

Share :

Baca Juga

Menteri pertanian, Andi Amran Sulaiman saat mendatangi gudang salah satu importir bawang putih, di Jakarta.

Berita

Tak Pandang Bulu, Kementan Konsisten Tegakkan Aturan Wajib Tanam Bagi Importir Bawang Putih

Berita

Menyoal Kesejahteraan Petani

Nasional

Mengenal Indira Chunda Thita, Putri Mentan yang Jadi Komisaris Petrokimia Gresik

Berita

Jelang Idul Fitri, Kementan Operasi Pasar Bawang Merah dan Cabai

Berita

Apakah Jokowi Berpihak Kepada Petani

Nasional

Empat Petani Kertasari Didakwa Bertani Tanpa Izin, Petani: Itu Tanah dari Leluhur Saya

Berita

Inilah 10 Alasan Kenapa Pertanian Indonesia Tertinggal dari Thailand
Dirjen Hortikultura, Suwandi (tengah, memakai batik) dan Petani muda sukses, Bagas (Kanan, Memakai kaos hitam dan bercaping) (dok. kementan)

Agribisnis

Gunakan Sistem Modern, Penghasilan Petani Muda Ini Sehari Raup Hingga Rp 100 Juta