Home / Berita / Nasional

Rabu, 29 November 2017 - 13:36 WIB

Memangnya Kalau Harga Beras Tinggi, Petani Untung?

Katadata.co.id

Katadata.co.id

Mediatani.co —  Tingginya harga beras yang tembus sampai Rp 11 ribu hingga 13 ribu dipasar Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur tidak serta merta memberi keuntungan besar kepada petani. Penyebabnya karena, pada dasarnya sebagian besar petani juga merupakan konsumen beras.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Persatuan Pengusaha Pengilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Faisal Habibur.

“Paling hanya sedikit yang disimpan untuk konsumsi. Setelah stok gabah habis, mereka menjadi konsumen beras seperti masyarakat pada umumnya, ” ungkap Faisal Habibur, Selasa (28/11).

Lebih jauh dikatakan oleh Faisal, bila musim panen petani tiba maka mereka akan menjual gabah kepada tengkulak. Namun, yang terjadi adalah masih banyak petani yang tidak membawa pulang gabahnya untuk kemudian dijual lagi.

“Ya, itu lah keadan petani kita saat ini serba sulit, saat akan musim tanam mereka dihadapkan dengan modal yang tidak sedikit,” jelasnya.

Baca Juga :   Jaga Produktivitas Perkebunan di Tengah Perubahan Iklim, Kementan Terapkan Sistem Pertanian Konservasi

Secara alamiah, imbas dari kenaikan harga beras justru telah memberi keuntungan lebih kepada pedagang bukanlah petani. Selain itu juga, menurut Faisal selama ini solusi dari pemerintah adalah melakukan operasi pasar dengan menggunakan stok beras Bulog.

Dalam hal ini, nasib petani seolah terabaikan. Itu karena, solusi pemerintah untuk menaikan harga beras lebih melihat produksi padi yang turun akibat musim hujan.

“Nanti kalau musim kemarau, harga beras naik juga dikatakan akibat kemarau panjang. Kenapa pemerintah tak mau jujur saja, katakan bahwa harga beras naik karena banyak petani gagal panen dan paceklik,” cetus Faisal.

Pada kondisi tertentu, para petani tidak menuntut agar selalu dihargai tinggi. Mereka pun mengharapkan agar bisa diberikan jaminan ketika gagal panen. Minimal, pada saat musim panen harga padi tidak jatuh. Sehingga, petani pun dapat memperoleh kembali modal , beruntung jika mendapatkan sedikit keuntungan.

Baca Juga :   Mengharukan, Kisah Petani Jual Kambing Demi Anak Bisa Ikut Belajar Online

“Mengapa gagal panen, sebab belum maksimal upaya dari pemerintah untuk mencegah petani gagal panen,” jelasnya. Seharusnya Pemerintah saat ini, lanjut Faisal bisa melakukan terobosan yang baru seperti membuat resi gudang yang bermanfaat membantu petani meyimpan padi saat panen. Sehingga, petani tidak menjual semua padi yang ada saat panen.

“Resi gudang itu berguna untuk petani menabung beras, saat musim paceklik petani bisa mengambil beras yang disimpan di resi gudang yang dikelola oleh pemerintah dan pihak ketiga. Jadi , jangan salahkan  musim lagi,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

Berita

Terkait Masalah Endemis Tikus di Subang, Ini Komitmen Kementan!

Nasional

Kerugian Sektor Pertanian Akibat Abu Vulkanik Sinabung Mencapai Rp 170,4 Milyar

Nasional

Betapa Susahnya Menjadi Petani Di Negara Agraris

Nasional

Mendadak! Ditjen Perikanan Tangkap KKP Mengundurkan Diri

Nasional

SPF dan Bank Mayapada Ajak Pelajar SMP Jobi Melestarikan Penyu

Internasional

Petani Ini Menderita Insomnia Akut, 33 Tahun Belum Pernah Tidur Walau Semenit

Nasional

Panen Jagung di Jeneponto, Mentan Dorong Petani Manfaatkan Dana KUR

Agribisnis

Pertanian Digital Perlu Didukung