Mediatani – Sejak beberapa waktu lalu, komoditas lobster sudah semakin hangat dibicarakan setelah berbagai polemik tentang ekspor benihnya yang dianggap illegal. Dapat dikatakan semua itu terjadi karena peminat komoditas lobster ini semakin banyak, hal itulah yang kemudian membuat para pengusaha dan nelayan berlomba-lomba untuk memanfaatkan potensi pasar itu dengan menangkap benih lobster yang ada di alam.

Namun tak hanya lobster air laut, komoditas lobster air tawar tawar juga ikut naik daun karena daya tariknya sendiri. Lobster air tawar juga punya harga jual yang selangit. Karena itu, tidak heran jika semakin banyak orang yang berminat untuk mengembangkan komoditas ini.

Dibandingkan dengan udang konsumsi lainnya, lobster memang dianggap sebagai komoditas udang konsumsi yang lebih mewah. Selain daging yang padat, gurih, empuk, lobster air tawar juga memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi, terutama protein. 

Bahkan ada sebagian orang yang meyakini jika daging lobster dapat berkhasiat meningkatkan vitalitas. Karena itu, komoditas ini tetap banyak diburu konsumen.

Hal itulah yang menjadi latar belakang bisnis budidaya lobster air tawar yang dilakukan seorang warga Desa Sukatani, Ngamprah yakni Asep Achmad Supriatna atau yang akrab dipanggil Ibo. Di tengah kesulitan menjalani usaha di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, Ia berhasil membudidayakan lobster yang berasal dari Danau Saguling. 

Uniknya, lobster yang dibudidayakannya memiliki 3 warna berbeda, ada lobster red clawn yang berwarna oranye kemerahan, jenis blue mizone yang berwarna biru, dan lobster berwarna putih.

Baca Juga  “Missing Link” Pembangunan Pertanian

Ibo mengakui, awal ketertarikannya membudidayakan lobster bermula saat dirinya tengah iseng mengkonsumsi lobster hasil tangkapannya di Bendungan Saguling, hingga akhirnya dirinya pun tergugah untuk mencoba membudidayakan lobster tersebut.

“Budidaya lobster Saguling terbilang gampang-gampang susah. Karena lobster berasal dari alam luar, sehingga tidak sedikit yang mencoba membudidayakan namun gagal dalam mengembangkannya,” kata dia, Jumat (25/9/2020).

Tentu tidak mudah membudidayakan lobster dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan ruangan yang sederhana. Namun, dengan tekad dan keuletan yang terus membuatnya melakukan penelitian terhadap lobster air tawar tersebut, akhirnya Ibo sukses mengembangkan lobster Saguling.

Berkat penelitian pada budidaya lobsternya itu, ia berhasil menghasilkan bibit lobster unik dan cantik berwarna-warni. Alhasil, lobster tersebut pun ramai diminati konsumen dan menjadi ladang bisnis yang menguntungkan.

“Untuk bibit lobster, dijual dengan kisaran harga Rp4.000 sampai Rp5.000 per ekornya. Sedangkan untuk lobster dewasa, dijual di kisaran Rp150.000 per kilogramnya. Selain banyak diminati pasar lokal, lobster juga diminati hingga luar negeri.” ungkapnya.

Namun, untuk mengembangkan lagi budidaya lobster Saguling, Ibo tentunya membutuhkan lahan yang lebih luas lagi. Maka dari itu, Ibo berharap adanya investor maupun dari pemerintah setempat dapat memfasilitasi untuk pengembangan lobster warna-warninya itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here