Opini Oleh: Dirhana Purnama, S.P., M.P.
Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Sulawesi Barat
Pertanian selama ini sering dinilai berhasil ketika mampu menghasilkan panen sebanyak mungkin. Ukuran tersebut memang penting, terutama ketika kebutuhan pangan terus meningkat. Namun, produktivitas yang tinggi tidak selalu berarti sistem pertanian itu sehat dan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Menurut saya, pembangunan pertanian seharusnya tidak hanya mengejar jumlah produksi, tetapi juga memastikan tanah, air, keanekaragaman hayati, dan kehidupan petani tetap terjaga. Di sinilah pertanian berkelanjutan menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
Model pertanian intensif telah membantu meningkatkan produksi pangan, tetapi ketergantungan berlebihan pada pupuk kimia, pestisida, air irigasi, dan perluasan lahan dapat menimbulkan persoalan lingkungan. Pretty (2008) menegaskan bahwa pertanian berkelanjutan perlu menggunakan teknologi dan praktik yang tidak merusak sumber daya dan jasa lingkungan, dapat diakses petani, serta tetap meningkatkan produktivitas pangan.
Pandangan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan berarti menolak teknologi atau kembali sepenuhnya pada cara tradisional. Yang harus dikritisi justru penggunaan teknologi dan input produksi tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Masalahnya, kebijakan pertanian sering kali masih terjebak pada target produksi jangka pendek. Ketika keberhasilan hanya dilihat dari kenaikan hasil panen, kerusakan tanah, penggunaan air berlebihan, atau hilangnya biodiversitas mudah dianggap sebagai biaya yang tidak terlihat.
Kebutuhan pangan dapat ditangani melalui pendekatan yang lebih terarah, seperti membatasi ekspansi pertanian ke ekosistem alami, memperkecil kesenjangan hasil, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengubah pola konsumsi, dan mengurangi pemborosan pangan (Foley et al. 2011). Artinya, meningkatkan ketahanan pangan tidak selalu harus dilakukan dengan membuka lahan baru atau menambah input sebanyak-banyaknya.
Namun, pertanian berkelanjutan juga tidak boleh dipahami secara sempit sebagai pertanian organik saja. Reganold dan Wachter (2016) menemukan bahwa sistem pertanian organik memiliki sejumlah keunggulan lingkungan dan ekonomi, meskipun hasil produksinya dalam banyak kondisi masih lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa tidak ada satu model yang otomatis menjadi solusi bagi semua wilayah. Kondisi tanah, iklim, jenis komoditas, kemampuan petani, akses pasar, dan teknologi harus menjadi pertimbangan dalam menentukan sistem pertanian yang tepat.
Karena itu, saya berpendapat bahwa jalan yang lebih realistis adalah memperkuat intensifikasi berkelanjutan: menghasilkan pangan secara produktif tanpa terus meningkatkan tekanan terhadap lingkungan. Rockström et al. (2017) menekankan perlunya pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga fungsi ekosistem dan mendukung kesejahteraan manusia.
Prinsip ini dapat diwujudkan melalui penggunaan pupuk yang lebih tepat, rotasi tanaman, pengelolaan air yang efisien, perlindungan kesuburan tanah, diversifikasi tanaman, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai kebutuhan petani.
Meski demikian, tanggung jawab perubahan tidak boleh dibebankan hanya kepada petani. Petani sering menghadapi risiko harga, biaya produksi, keterbatasan modal, serta ketidakpastian iklim. Menuntut mereka menerapkan praktik ramah lingkungan tanpa insentif, pendampingan, akses teknologi, dan pasar yang mendukung merupakan kebijakan yang tidak adil. Negara, lembaga penelitian, pelaku usaha, dan konsumen harus berbagi tanggung jawab dalam membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanian berkelanjutan bukan tentang memilih antara produksi pangan dan lingkungan. Tantangan sebenarnya adalah memastikan keduanya dapat berjalan bersama. Produktivitas tetap penting, tetapi produktivitas yang mengorbankan tanah, air, dan masa depan petani hanyalah keberhasilan sementara.
Pertanian yang benar-benar maju adalah pertanian yang mampu memberi makan manusia hari ini tanpa mengurangi kemampuan generasi berikutnya untuk melakukan hal yang sama.
REFERENSI
- Foley, J. A., Ramankutty, N., Brauman, K. A., et al. (2011). Solutions for a cultivated planet. Nature, 478, 337–342.
- Pretty, J. (2008). Agricultural sustainability: Concepts, principles and evidence. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 363(1491), 447–465.
- Reganold, J. P., & Wachter, J. M. (2016). Organic agriculture in the twenty-first century. Nature Plants, 2, 15221.
- Rockström, J., Williams, J., Daily, G., et al. (2017). Sustainable intensification of agriculture for human prosperity and global sustainability. Ambio, 46, 4–17.
***
Catatan redaksi: Penulis adalah dosen pada Program Studi Agroekoteknologi. Artikel ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili institusi tempat penulis bekerja.









