Kelompok Tani Maju Bersama Gowa Manfaatkan Limbah MBG untuk Pakan Itik Bernutrisi

Didampingi oleh Tim Dosen Politeknik Pertanian Negeri Pangkep

Peserta pelatihan pembuatan pakan ternak berbasis limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)
Peserta pelatihan pembuatan pakan ternak berbasis limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)

Mediatani – Inovasi cerdas di sektor peternakan kembali dihadirkan sebagai solusi bagi para peternak di Kabupaten Gowa. Bertempat di lahan kandang Kelompok Tani-Ternak Maju Bersama, Desa Panaikang, sebuah pelatihan pembuatan pakan ternak itik berbasis limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikombinasikan dengan tepung kepala udang resmi digelar pada Rabu (19/8/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen dari Jurusan Peternakan dan Jurusan Bisnis Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, yang diketuai oleh Windawati Alwi, S.Pt., M.Si. Anggota tim pelaksana terdiri dari Ummul Masir, S.Pt., M.Si., Megawati, S.Si., M.Si., dan Muhammad Amir S.Pt., M.Si., serta dibantu oleh tiga mahasiswa Jurusan Peternakan yakni Muhammad Rifaldi, M. Riswar, dan Sefrianti. Program pengabdian kepada masyarakat ini terselenggara berkat pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun 2026.

Permasalahan utama yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah kebiasaan peternak mitra yang selama ini hanya memberikan pakan dedak sebagai sumber energi tunggal, tanpa tambahan nutrisi yang memadai. Akibatnya, kualitas pakan tidak optimal dan belum memenuhi kebutuhan gizi ternak.

“Pakan yang hanya mengandalkan dedak tidak cukup. Itik petelur membutuhkan sumber protein, serat, dan nutrisi lainnya untuk mendukung produktivitas. Melalui pemanfaatan limbah dapur MBG dan kepala udang, kami mencoba meracik formulasi pakan yang lebih bernutrisi namun tetap ekonomis,” ungkap Windawati Alwi di sela-sela kegiatan pelatihan.

Praktik Formulasi Pakan Mandiri

Pelatihan pemanfaatan sumber daya lokal menjadi pakan bernutrisi
Pelatihan pemanfaatan sumber daya lokal menjadi pakan bernutrisi

Sebelum pelaksanaan praktik, tim pengabdi telah mengadakan sesi penyuluhan pada 12 Juni 2026 yang disambut antusias oleh warga. Pada puncak pelatihan hari ini, sebanyak 20 peserta yang terdiri dari masyarakat sekitar dan anggota Kelompok Tani-Ternak Maju Bersama hadir dan terlibat aktif di setiap sesi.

Fokus utama pelatihan ini adalah implementasi pemanfaatan limbah dapur MBG dengan formulasi tepung kepala udang dan dedak untuk meningkatkan kualitas dan nilai gizi pakan itik. Para peserta dilatih secara langsung mengenai cara membuat tepung kepala udang dan teknik pencampuran formulasi pakan yang tepat. Tim juga menyusun materi edukasi komprehensif yang dapat diakses kapan saja oleh peternak sebagai referensi sumber bahan pakan alternatif yang berkelanjutan.

Inisiatif pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan peternak dengan menekan ketergantungan pada pakan pabrikan yang harganya relatif mahal. Melalui pemanfaatan sumber daya lokal, diharapkan biaya produksi dapat ditekan sehingga margin keuntungan peternak meningkat.

Ketua Kelompok Tani-Ternak Maju Bersama, Herdianto, menyampaikan harapannya agar para anggota yang memiliki ternak itik dapat segera mengaplikasikan pemberian pakan dari sisa limbah dapur ini.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dari tim dosen Polbangtan Pangkep. Ilmu yang diberikan hari ini sangat praktis dan bisa langsung kami terapkan. Limbah yang selama ini terbuang kini memiliki nilai ekonomi,” ujar Herdianto.

Dukung SDGs dan Pelestarian Lingkungan

Kegiatan pelatihan ini tidak hanya membekali peternak dengan keterampilan baru, tetapi juga mendorong pelestarian lingkungan melalui pengurangan jumlah limbah organik yang selama ini kerap menjadi permasalahan di masyarakat.

Program inovatif ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDG’s) poin 2 (Tanpa Kelaparan), 3 (Kesehatan yang Baik), dan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Selain itu, kegiatan ini turut mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) 2, 3, dan 5, penjabaran Asta Cita 2, 3, 4, serta fokus RIRN pada sektor Pangan dan Energi Lingkungan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola limbah menjadi produk bernilai tambah,” tutup Windawati, menandai langkah kolaborasi antara akademisi, peternak, dan pemerintah demi mewujudkan ketahanan pakan yang berkelanjutan di Indonesia.