Porang, komoditi yang menjadi sumber ekonomi baru petani Sulsel

Porang sedang ramai menjadi bahan perbincangan. Terlebih lagi sejak Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor sebanyak 60 ton atau setara 1,2 miliar ke negeri China. Seperti halnya dengan tanaman umbi-umbian lain, porang juga mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin dan serat pangan. Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar dan gula reduksi.

Salah satu daerah yang gencar mengembangkan tanaman Porang ini adalah Sulawesi Selatan. Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan, Lies F Nurdin, usai mengunjungi pabrik pengolahan talas satoimo PT Tridanawa Perkasa Indonesia (TPI) Makassar meninjau langsung pusat pengembangan tanaman porang ini di Baddoka. 

Isti orang nomor satu di Sulawesi Selatan itu  mengaku tanaman porang akhir akhir ini cukup populer karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Lies mengatakan bahwa tanaman porang sangat bermanfaat, namun sebagian masyarakat belum familiar dengan jenis tanaman ini. 

“Porang ini banyak diminati Cina dan Jepang. Makanan yang low karbohidrat, sehingga sangat bagus untuk penderita diabetes,” kata Lies, Selasa (30/6/2020).

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel, Andi Ardin Tjatjo menjelaskan talas satoimo dan porang akan dikembangkan menjadi komoditi ekspor. Selain itu, juga bisa menjadi sumber ketahanan pangan keluarga. Namun, masih perlu dikembangkan secara lebih luas. Khusus porang, sentranya ada di sepuluh kabupaten. Seperti Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang, dan hampir semua daerah di Luwu.

“Untuk talas satoimo produksinya belum besar. Baru sekitar 20 hingga 30 hektare per kabupatennya. Sedangkan porang sudah berkembang baik, karena hampir semua kabupaten sudah menanam,” jelasnya.

Ardin menambahkan bahwa saat ini harga porang cukup kompetitif, yaitu sekitar Rp 9 ribu per kilogram. Itu artinya jika populasi dalam satu hektare sebanyak 40 ribu, dan satu tanaman menghasilkan 2 kilogram, maka dapat menghasilkan Rp 720 juta dalam delapan bulan.

Direktur PT Satoimo, Arifuddin, selaku pihak yang mengembangkan tanaman porang menilai tanaman ini akan menjadi komoditi primadona. Alasannya, pemeliharaan porang tidak serumit komoditi lain dan harganya cukup bagus. Walaupun masa panennya cukup lama, bisa setahun hingga dua tahun. Pasarnya saat ini, khusus di Makassar sudah ada empat hingga lima pabrik yang siap membeli porang sehingga tidak perlu ada kekhawatiran mengenai masalah pasar.

Baca Juga  Ekspor Sektor Pertanian Naik Meroket di Bulan Juni 2020

Arifuddin berharap pemerintah bisa membuat produk yang tidak hanya untuk diekspor ke Cina, Korea, dan Jepang tetapi masyarakat sendiri juga dapat mengkonsumsinya. Porang memiliki serat yang sangat tinggi, dan karbohidratnya rendah. Adapun beras porang yang namanya siratake itu, dihargai Rp. 100.000 per kilo.

Terpisah, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Amiruddin Pohan mengatakan tanaman porang sebenarnya bukan jenis tanaman pangan yang baru di Indonesia. Menurutnya, tanaman porang sebenarnya sudah bertahun-tahun di tanam masyarakat tapi baru kali ini pemerintah hadir  untuk meningkatkan produksi karena pasar sudah jelas.

“Porang memiliki potensi sebagai tanaman ekspor, yang sampai saat ini bahan bakunya masih  sangat kurang. kran ekspor terhadap porang terbuka lebar saat ini. Untuk sementara, yang diekspor itu berbentuk  chips dan tepung,” jelasnya.

“Karenanya kami berharap komoditi ini menjadi sumber ekonomi baru bagi petani. Khususnya di Sulsel,” pinta Amiruddin.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menjelaskan bahwa ekspor sektor tanaman pangan tahun 2019 mencapai 200 ribu ton, senilai Rp 2 triliun. Kacang hijau yang masa tanamnya singkat sekitar 2 bulan adalah salah satu komoditas tanaman pangan yang menjadi favorit untuk diekspor, jumlahnya mencapai 33 ribu ton. 

Suwandi juga mengatakan bahwa Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah mengarahkan untuk mengembangkan ekspor Porang ke pasar internasional. Hal tersebut karena produksi Porang yang jumlahnya mencapai 11 ribu ton itu adalah salah satu produk Tanaman Pangan yang memiliki potensi ekspor dan ceruk pasar yang besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here