Potensi Melimpah, Mengapa Petani Indonesia Belum Sejahtera?

  • Bagikan
petani desa
ilustrasi (foto: kspefeunej.blogspot.com)

Mediatani – Potensi pengembangan industri pertanian di Indonesia terlihat sangat nyata. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berada di peringkat kelima dunia untuk sektor pertanian.

Ranggi Muharam, Chief Marketing Officer ekosis.id, mengatakan Indonesia juga merupakan produsen nomor satu dunia dalam hal ketersediaan ikan tuna, kelapa sawit, kelapa dan cengkeh.

“Bahkan Gross Domestic Product (GDP) untuk sektor Pertanian di tahun 2018 mencapai 128 miliar dollar AS. Hanya saja potensi-potensi besar ini tidak sesuai dengan kesejahteraan para petani kita,” ujarnya saat jumpa pers virtual, Selasa (7/7/2020).

Ranggi menjelaskan, berdasarkan dari data BPS, rata-rata pendapatan para petani dan pelayan hanya mencapai Rp 1,36 juta per bulannya. Hal ini juga yang membuat jumlah petani dan nelayan di Indonesia terus berkurang setiap tahunnya.

Baca Juga :   Kisah Sukses Petani Lada Inspiratif Bisa Kantongi 6 M Per Bulan

“Ada beberapa alasan kenapa para petani kita belum bisa sejahtera. Berdasarkan identifikasi kami, mereka mengalami beberapa kesulitan seperti kesulitan dalam mengakses permodalan, kesulitan mengakses pasar dan transkasi tidak transparan,” jelasnya.

Kurangnya pengetahuan yang membuat masalah-masalah ini terjadi. Sehingga, menyebabkan para petani di Indonesia menjadi tidak sejahtera. Belum lagi banyaknya para petani yang tidak mengetahui cara untuk menjaga kualitas produk yang baik untuk diperjualkan. Selain itu, di sisi lain, dari segi industri agribisnis juga mempengaruhi kesejahteraan para petani.

Ranggi menyebut masih banyak pelaku industri agribisnis yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku secara berkelanjutan akibat banyaknya kualitas bahan baku yang buruk.
“Para industri agribisnis juga mengalami kesulitan untuk mencari suplier-suplier baru. Tidak sedikit dari mereka yang mencari menggunakan media sosial, efeknya apa? Banyak kasus penipuan yang terjadi dalam bertransaksi dan kasus-kasus penipuan menghantui para petani dan industri,” katanya.

Baca Juga :   Pemuda Maros Ini Beternak Ayam Batik, Harganya Menggiurkan

Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya terus mendorong para petani untuk mulai menggunakan platform-platform digital yang bisa menghubungkan para petani dan para nelayan untuk bertransaksi.

“Dengan adanya platform digital seperti ekosis.id bisa membantu para petani untuk mengakses apa-apa saja yang dibutuhkan, terutama bisa menghubungkan mereka dengan buyers atau para suplier untuk bisa bertranskasi dengan aman dan tranparan,” jelas dia.

  • Bagikan