Mediatani – Kelompok Tani Hutan (KTH) Buhung Lali merupakan kelompok petani nira di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gantarang, Bulukumba, Sulawesi Selatan yang sukses memproduksi gula semut.

KTH yang berada di bawah Hutan Kemasyarakatan (HKm) Bulukumba itu mendapatkan SK pada 2011 dan mendapat wilayah kelola seluas 78 hektare. Awalnya, KTH hanya memproduksi gula batok yaitu gula aren yang dipadatkan dalam cetakan.

Ketua kelompok KTH Buhung Lali Muhammad Tamrin Haji Tama kemudian berpikir bagaimana meningkatkan nilai jual aren. Ini dikarenakan harga jual gula batok tidak stabil dan umur penyimpanan tidak bertahan lama.

“Paling lama hanya dua bulan. Kalau sudah menjelang dua bulan, gula meleleh, harga gula batok jadi turun drastis,” tutur Tamrin dilansir dari Katadata.

Tamrin beserta anggota kelompoknya kemudian berdiskusi dengan Sulawesi Community Foundation (SCF) yang merupakan salah satu LSM pendamping HKm Bulukumba. 

Dalam diskusi tersebut disepakati untuk memproduksi gula semut. Alasannya, umur simpan gula semut bisa sampai 3 tahun, harganya juga terus naik. Selain itu, proses pembuatannya mirip dengan gula batok, hanya perlu proses lanjutan untuk mengeringkan, menggerus, dan mengayak gula.

Fasilitator SCF, Ikrar Andriansyah mengatakan kawasan HKM adalah hutan produksi yang memiliki banyak ragam tanaman. SCF lantas memilih yang paling berpotensi yaitu aren.

Proses Menyadap Nira

Aren sendiri merupakan bahan baku gula semut dan gula batok yang menjadi komoditi unggulan masyarakat. Untuk mendapatkannya, para petani harus menempuh 1-2 km untuk menyadap nira di kawasan hutan. 

Beberapa alat sadap yang harus disiapkan oleh petani yaitu pisau penyadap, jerigen, daun kayu, dan plastik bening untuk wadah hasil sadapan. 

Baca Juga  Menyoal Divestasi Saham PT Freeport, PB HMI Meminta Pemerintah Tinjau Kembali

Proses menyadapnya cukup unik. Tandan ditoki-toki dulu, atau diketuk-ketuk lembut untuk mengumpulkan getah di ujung buah nira. Setelah beberapa menit, ujung buah baru dipotong supaya getah keluar. 

Untuk sekali sadap, masing-masing petani bisa menyadap dua sampai tujuh pohon paling banyak. Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk mengumpulkan nira. Setelah nira terkumpul, mereka kembali ke rumah untuk mengolah nira. 

Akan tetapi, tak ada satupun petani yang dapat membuat gula semut pada saat itu. Maka, SCF mendatangkan petani gula semut dari Banten untuk mengajarkan proses produksi gula semut. 

Jumlah anggota yang awalnya hanya empat orang kini ada 12 orang. Bertambahnya jumlah anggota dikarenakan semakin terlihat perbedaan penghasilan dibandingkan ketika mereka masih memproduksi gula batok.

Sangat jarang terjadi kenaikan harga gula batok. Ketika tahun 2014, harga jual Rp 10.000, di tahun 2020 hanya naik sedikit jadi Rp 12.500. Sedangkan harga gula semut terus naik. Tahun 2014 seharga Rp 12.500, kemudia naik menjadi Rp 19.000 di tahun 2020. 

Jika dibandingkan ketika masih memproduksi gula batok, sekarang anggota kelompok bisa mendapatkan penghasilan lebih dari 2 kali lipat. Hal tersebut terjadi karena nilai jual petani menjadi lebih tinggi.

“Waktu masih memproduksi gula batok tahun 2012 lalu, penghasilan kelompok hanya Rp 1-1,5 juta per bulan. Sejak 2019, penghasilan sudah naik jadi Rp 3-3,5 juta per bulan,” kata Tamrin dengan suara riang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here